04] Dilella

6.3K 684 124
                                    

Bella berjalan dengan gontai. Pikirannya melayang memikirkan alasan mengapa Putra ingkar janji. Bahkan pesan Line yang Bella kirimkan ke Putra hanya dibaca tanpa dibalasnya. Bella sakit hati, Bella kecewa.

"Mbeeek ...."

Mendengar suara tersebut kontan membuat Bella berhenti. Kini ia menoleh ke sebelah kirinya. Ia melihat Bibing tengah memandanginya dengan mulut penuh rumput. Bella memandang Bibing sejenak sebelum kakinya melangkah berjalan ke arah Bibing. Setelah sampai di sebelah Bibing, Bella berjongkok dan mengelus kepala Bibing.

"Hai, Bing. Apa kabar?" ucap Bella kepada Bibing.

"Mbeek ...," jawab Bibing yang membuat Bella tersenyum.

Kini Bella mengamati sekitarnya. Matanya menyisir halaman rumah yang terlihat sepi. Tak dilihatnya makhluk hidup di sini kecuali Bibing. Bahkan pintu rumah ini tertutup rapat.

"Sohib lo mana, Bing? Belum pulang, ya?" tanya Bella seraya menyuapi Bibing dengan rumput yang berada di sekitarnya.

"Mbeekk .... Mbeeekk ...."

"Lagi sedih nih, Bing." Bella menampakkan raut wajah sedih yang membuat Bibing mengembek kembali. Bibing terlihat prihatin melihat ekspresi wajah Bella. Sepertinya, Bibing mengerti jika Bella sedang sedih.

"Masa di-read doang, Bing. Gimana perasaan lo kalau jadi gue?" tanya Bella semakin sedih. Kini ia sudah terduduk di rumput bersebelahan dengan Bibing.

"Mbeeekkk ...."

"Nah iya, sedih kan. Gue juga sedih, Bing. Baper gue."

"Mbeeekk ...."

"Iya, gue tahu. Nggak seharusnya juga gue banyak ngarep."

Dan akhirnya terjadi obrolan antara Bella dan Bibing. Bella meluapkan unek-uneknya mengenai Putra yang ingkar janji dan terkesan php. Bibing sambil memakan rumput dan mengembek terlihat mendengarkan curhatan Bella dengan seksama. Mereka berdua tampak sangat akrab. Jika ada orang lain yang melihat adegan ini, pasti mereka akan menganggap Bella gila karena berbicara dengan kambing. Tapi Bella tak peduli karena bagaimana pun juga, Bibing adalah temannya.

"Lo mbak-mbek mulu. Ngerti nggak sih, yang gue omongin?" Bella semakin cemberut.

"Mbeekkk ...." Bibing menyahuti ucapan Bella kemudian kembali mengunyah rumput, makanan kesukaannya.

"Lo kasihan ya, Bing, sendirian. Lagian kenapa Alfi naruh lo di sini, sih? Kenapa nggak di halaman belakang bareng Aya?" tanya Bella terlihat bingung ketika menyadari betapa sepi hidup Bibing jika ditinggal sendirian di sini. Belum lagi kalau ada penculikan kambing, bisa-bisa Bibing menjadi korbannya.

"Mbeekk ... mbeeekk ...."

"Lo berantem sama Aya? Maklumin lah, Bing. Aya kan ayam, jadi dia suka matok. Nggak usah diambil hati." Bella menjawabi embekan Bibing seolah mengerti apa yang Bibing ucapkan. Sejujurnya, hanya Bella, Bibing dan Tuhan yang tahu obrolan mereka berdua.

Kini Bella menghela napas panjang seraya mengelus kepala Bibing. Bella jadi berpikir bagaimana rasanya menjadi kambing. Apakah jika ia adalah kambing, ia tak akan merasakan sakit hati seperti yang tengah ia rasakan sekarang? Apakah jika ia adalah kambing, ia tidak akan merasakan jatuh cinta yang malah berakhir menyedihkan seperti ini? Jika iya, mungkin Bella lebih memilih menjadi kambing.

Harusnya Bella tak terlalu memikirkan hal mengenai Putra sampai seperti ini. Lagian, belum tentu juga Putra memikirkannya. Mau dia membalas, membaca, mengabaikan pesan atau janjinya juga biarkan saja. Yang penting Bella cukup tahu saja. Anggap saja ini adalah sebuah pelajaran.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 31, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DilellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang