02] Dilella

6.3K 653 128
                                    

Bella benci sendirian. Karena di saat sendirian, pikirannya selalu melayang ke sembarang tempat. Seringnya malah melayang ke sosok yang itu-itu saja. Bella takut gila kalau harus dia yang selalu muncul di pikirannya. Dan hal ini sukses membuatnya galau berhari-hari.

Bella menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Apa gue kena santet? Masak itu cowok nongol mulu di pikiran gue?"

Lihatkan, Bella sudah memang sudah gila. Ia berbicara sendiri.

"Jatuh cinta itu namanya."

Bella celingukan mencari sosok suara yang barusan ia dengar. Kemudian ia menoleh ke belakang dan didapatinya seorang cowok tengah duduk membelakanginya dengan buku tebal digenggamannya. Bella yakin bahwa cowok ini yang tadi tengah berbicara kepadanya. Ya, dia sangat yakin. Tapi cowok sok misterius ala-ala cowok keren di novel-novel ini siapa? Memangnya Bella kenal? Dan emang tadi dia ngomong sama Bella?

Tiba-tiba cowok tersebut menoleh ke belakang dan memandang ke arah Bella. Seketika Bella mematung. Jantungnya berdetak cepat dan rasanya seperti mau meledak. Perutnya seperti dihuni puluhan kupu yang berterbangan dan membuatnya sakit perut kayak mau pup. Napasnya tersenggal-senggal seperti orang asma.

"Lo nggak apa-apa?" tanya cowok itu yang membuat Bella langsung menggeleng cepat. Cowok tersebut tersenyum melihat Bella yang bertingkah aneh. Melihat senyum cowok itu malah membuat Bella ingin pingsan. Nggak nahan rasanya.

Sekarang, Bella yakin kalau dia memang gila. Bayangkan, ketika sendirian yang ada di pikirannya adalah si dia. Dan saat ini, tiba-tiba si dia benar-benar berada di hadapannya-atau di belakangnya. Bella curiga kalau ini mimpi. Karena, hidup tidak mungkin sekebetulan ini. 'Kebetulan' hanya ada di film atau di novel. Di kehidupan nyata seperti ini, 'kebetulan' itu tidak pernah ada. Ya, menurut Bella seperti itu.

Bella ingat sejak seminggu yang lalu, cowok yang berhadapan dengannya ini tiba-tiba selalu bergentayangan di pikirannya. Herannya, ia tak tahu mengapa cowok ini begitu penting sekali sampai membuatnya kepikiran. Bella pikir, mungkin cowok ini artis sampai membuatnya terbayang-bayang. Tapi nyatanya bukan. Atau mungkin cowok ini adalah titisan pangeran dari negeri dongen. Tapi tentu saja tidak. Dan sekarang Bella tahu mengapa. Kerena senyum manis cowok inilah yang membuatnya terbayang-bayang. Bella menyukainya.

Seminggu yang lalu, Bella tak sengaja bertemu denggan cowok ini di KFC. Ia yang sedang makan bersama Alfi langsung terpana ketika melihat sosok cowok misterius yang sedang berjalan memasuki KFC. Ia tampan, dan manis. Tapi ketika tersenyum, dunia Bella langsung jungkir balik. Bahkan mungkin kalau Bella sedang dalam posisi mau duduk, ia bisa langsung terjengkang ketika melihat senyumnya itu. Dahsyatlah pokoknya. Tapi sayang Bella tak mengenalnya.

"Gue Putra, by the way." Cowok tersebut mengulurkan tangan ke arah Bella dan tersenyum kecil. Bella mengedipkan mata beberapa kali seolah tidak percaya bahwa ini nyata.

"Be ... Beha," ucap Bella tergagap sambil membalas jabatan tangan Putra. Cowok itu mengernyit bingung mendengar ucapan Bella. "Bella maksudnya," ralat Bella ketika menyadari bahwa ia salah mengucapkan namanya. Astaga, memalukan. Kenapa beha yang terucap? Bella dan beha itu kan jauh.

Cowok di hadapannya langsung tertawa ketika menyadari bahwa Bella salah mengucapkan namanya. Sangat lucu pikirnya.

"Kelas berapa? Kayaknya nggak pernah lihat. Atau anak baru jangan-jangan?" tanya Putra dengan senyumnya yang melelehkan hati Bella.

"Kelas sebelas," jawab Bella dengan susah payah. Rasanya bernapas dan berbicara dalam waktu yang bersamaan di hadapan Putra bukanlah hal yang mudah. "Dan bukan anak baru."

"Oh, anak kelas sebelas. Pantes aja gue nggak kenal."

"Lo kelas?"

"Dua belas."

Bella hanya mengangguk mendengar jawaban Putra.

Oh anak kelas dua belas. Sungguh Bella merasa kuper karena tidak mengetahui bahwa Putra adalah kakak kelasnya. Bagaimana bisa Bella tidak tahu? Bella ke mana saja coba?

"Eh, gue duluan ya. Udah mau bel masuk juga soalnya." Putra berdiri dari posisi duduknya dan berpamitan dengan Bella.

"Oh, iya," jawab Bella singkat dan mengangguk.

Kemudian Putra berjalan di deretan rak yang berada di dekatnya. Ia terlihat meletakkan buku yang tadi ia pegang ke rak tersebut. Setelahnya, ia berjalan menuju pintu dan pergi dari perpustakaan ini.

Senyum Bella merekah indah setelah kepergian Putra. Ia tak pernah membayangkan akan bertemu si cowok KFC yang sempat menghantui pikirannya. Dan cowok tersebut ternyata baik, ramah, murah senyum. Bella sangat bahagia. Bahagiaaaaaa sekali.

Beha.

Dan ketika mengingat kata itu, kontan Bella meringis malu. Bagaimana bisa namanya berubah jadi beha? Bella error.

"Bella ...."

Samar-samar Bella mendengar seseorang memanggil namanya. Bella mulai celingak-celinguk mencari sosok pemilik suara tersebut.

"Bella ...."

Kembali ia mendengar namanya dipanggil. Tapi ia tak dapat menemukan pemilik suara tersebut.

Siapa sih, yang rese? Nggak mungkin kan, yang manggil itu Tuhan? Kalau iya, mungkin Bella akan mati saat ini juga.

"Bocil bolot!"

Bella menoleh ke arah pintu perpustakaan. Di sana sudah ada Alfi yang menggelendot di pintu dan memasang wajah sebal.

Astaga, ngapain lagi itu anak? Bella tak habis pikir.

"Lo kenapa di sini?" tanya Alfi dengan gerakan bibir. Kini ia melangkah mendekat ke arah Bella. Bella yang tidak mengerti ucapan Alfi hanya mengernyit bingung.

"Lo kenapa di sini?" tanya Alfi lagi masih dengan gerakan bibir. Kembali Bella tak mengerti ucapan Alfi.

"Lo kenapa di sini!" seru Alfi dengan suara lumayan keras.

"Sssttt!"

Seisi perpustakaan sudah melotot ke arah Alfi karena terganggu dengan suara Alfi yang nyaring dan cempreng. Bella hanya menunduk malu karena mempunyai teman seperti Alfi yang tak tahu malu.

"Jangan berisik!" Salah satu penjaga perpustakaan kini melotot galak ke arah Alfi yang membuat Alfi cengar-cengir nggak jelas.

"Maaf," bisik Alfi yang jelas tak di dengar sang penjaga perpustakaan tersebut.

Kini Alfi berlari kecil ke arah Bella. Ia duduk di sebelah Bella dan tersenyum lebar.

"Ngapain lo di sini?" tanya Bella galak.

"Lo yang ngapain di sini? Gue cari di toilet nggak ada."

"Toilet?" tanya Bella bingung.

Sejak kapan Bella menjadi penghuni toilet? Dan ngapain juga Alfi nyari Bella di toilet? Alfi memang aneh.

"Iya. Kan katanya sekarang lo kerja sambilan jadi penjaga toilet," ucap Alfi ngasal yang membuat Bella menggeplak muka Alfi. Alfi tertawa melihat Bella yang lagi-lagi terlihat kesal oleh ulahnya.

Tolong ingatkan Bella untuk selalu membaca mantra pengusir setan agar dia tidak diikuti setan Alfi terus. Bella lelah.

Mungkin lebih baik lupakan sejenak soal Alfi. Hari ini Bella tidak ingin berubah jadi Hulk dan meremukan badan Alfi. Karena hari ini Bella sedang bahagia. Ini juga karena Putra. Ya, Putra si cowok KFC. Akhirnya Bella bertemu dan berkenalan dengannya.

Bella tersenyum lebar membayangkan wajah Putra. Bella senang.

===========++++++++===========

Cieeeee Bella sama Putra cieeee Hahahaha ...



DilellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang