03] Dilella

4.7K 568 68
                                    

Bella tersenyum kecil membaca tulisan di mading. Sebuah puisi bersajak indah kini tengah menjadi pusat perhatiannya. Senyumnya semakin merekah tatkala membaca nama penulis puisi tersebut.

Putra Angkasa.

Ya, itu Putra. Bella tahu bahwa itu adalah nama lengkap Putra karena kemarin ia melihat name tag seragam Putra. Dan Bella tak tahu bahwa Putra pandai menulis puisi. Bella suka.

"Suka?" ucap seseorang di sebelah Bella. Jantung Bella langsung berdegup kencang ketika mendapati bahwa Putralah yang berada di sebelahnya.

Bella tersenyum lebar karena salah tingkah. Kemudian ia mengangguk menjawabi ucapan Putra. Hal ini membuat Putra tersenyum kecil. Di mata Putra, Bella terlihat sangat lucu ketika salah tingkah.

"Gue tadi nggak sengaja lihat terus baca puisinya," ucap Bella bingung sendiri. Putra terkekeh mendengar ucapan Bella.

Bella sebenarnya bingung harus berkata apa. Yang dia rasakan hanyalah grogi nggak jelas. Dan ketika grogi, dia jadi susah berpikir dan bersikap normal.

"Lucu puisinya," ucap Bella lagi sambil memandang ke arah mading yang tertempel puisi Putra. Niat Bella adalah memuji, tapi dia baru sadar bahwa kata 'lucu' belumlah pantas digunakan sebagai pujian atas karya Putra yang sangat bagus ini. "Maksud gue, bagus. Dalem banget puisinya," ralat Bella sambil menoleh ke arah Putra.

"Terima kasih," balas Putra terkekeh.

"Seriusan bagus. Beneran, deh. Gue suka puisinya." Bella berusaha meyakinkan Putra bahwa puisinya benar-benar bagus dan Bella menyukainya. Bella takut bahwa Putra menganggapnya tidak serius ketika memuji karya Putra tersebut.

"Iya, Bell. Terima kasih. Gue tau kok, kalau lo suka. Kelihatan." Putra tertawa melihat Bella yang semakin salah tingkah. Bella sendiri hanya bisa cengar-cengir memerkan giginya seperti iklan pasta gigi. "Bella ... Bella ... lo lucu banget deh," lanjut Putra masih tertawa.

Bella masih cengar-cengir bingung. Bella merasa bahagia karena Putra dapat tertawa karenanya. Benar-benar tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa Bella dapat mengobrol bahkan membuat Putra tertawa. Bella senang. Senaaaaaang sekali.

"Nanti balik bareng siapa?" tanya Putra yang membuat Bella diam seperti berpikir.

Sebenarnya, pertanyaan Putra itu membuat Bella kaget, terus jadi ge-er. Sekarang kalau ada cowok yang nanya 'nanti balik bareng siapa?' kira-kira mau diapain? Diajakin pulang bareng kan? Ya, menurut Bella begitu. Dan mendadak Bella jadi grogi. Rasanya ia ingin sekali berteriak kegirangan.

Diajakin pulang bareng Putra adalah salah satu hal yang bakalan membuat hidupnya lebih indah. Bella mau pingsan karena bahagia bercampur tidak percaya.

Putra sendiri masih terdiam menunggu jawaban Bella. Bahkan ia mengernyit bingung ketika Bella hanya memandangnya tanpa menjawabi ucapannya. Sepertinya Putra tak sadar bahwa pertanyaannya itu telah membuat dunia Bella berwarna-warni dan membuatnya kegirangan bahagia sampai mau pingsan.

"Bell?" panggil Putra ragu-ragu.

"Oh," ucap Bella ketika menyadari bahwa dirinya sejak tadi diam dan tak menjawab pertanyaan Putra. "Sendirian. Gue pulang sendirian. Kenapa?"

Putra terkekeh. "Mau ngajakin pulang bareng. Gimana?" tanyanya lagi dengan senyuman super dahsyat yang membuat Bella meleleh. Tanpa pikir panjang, Bella langsung mengangguk menjawabi ajakan Putra.

"Oke. Nanti pulang sekolah gue samperin ke kelas lo. Sebelas IPA 3 kan?"

Bella kembali mengangguk dengan semangat.

"Oke. Gue duluan ya. Sampai ketemu nanti pulang sekolah. Bye." Putra menepuk pundak Bella dan tersenyum manis yang membuat Bella mengangguk.

Kini bibir Bella suda tersenyum lebar karena membayangkan bahwa nanti dia akan pulang bersama Putra. Dan Bella juga tidak menyangka bahwa Putra ternyata tahu dia kelas sebelas apa. Karena seingatnya, ia hanya memberitahu Putra bahwa ia kelas sebelas. Entah kenapa rasanya Bella sangat bahagia. Amat sangat bahagia!

Kemudian dari kejauhan, Bella melihat sosok cowok berkacamata dengan tumpukan buku di tangannya tengah memandang Bella dengan cengiran lebar. Bella menghembuskan napas pasrah memandang sosok tersebut.

"Cil, pulang bareng gue ya!" ajak cowok tersebut yang ternyata adalah Alfi.

Pulang bareng? Kan tadi Bella sudah diajakin Putra buat pulang bareng. Lagian kok tumben Alfi ngajakin pulang bareng? Kan biasanya itu anak main ngekor aja, nggak pakai ngajak-ngajakin pulang. Alfi kan suka tiba-tiba ada di mana pun Bella berada. Kayak demit.

"Eh nggak jadi deh. Gue ada rapat OSIS nanti pulang sekolah. Bye!" ucap Alfi tanpa menunggu jawaban dari Bella. Alfi masih terus berjalan melewati Bella yang tengah memandangnya bingung. Bella hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah aneh temannya tersebut.

Alfi ... Alfi ... kamu nggak anehnya kapan, sih? Bella super heran. Dan ahaiiiii pulang bareng Putra!

***

Bel pulang sekolah sudah berdering sejak lima belas menit yang lalu. Namun Bella masih setia duduk manis di tempat duduknya menunggu kedatangan Putra menjemputnya untuk pulang bareng.

Tadi Putra sempat mengiriminya pesan Line yang mengatakan bahwa ia akan datang ke kelas Bella agak telat. Bella sebenarnya terkejut karena Putra ternyata tahu ID line Bella. Karena seingat Bella, ia tidak pernah bertukar ID line dengan Putra. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang Bella akan pulang bareng Putra plus dia juga punya kontak line Putra. Kurang membahagiakan bagaimana lagi, sih?

Kelas Bella kini sudah sepi. Semua murid sudah pada pulang. Hanya tinggal Bella sendirian di kelas. Bella tak masalah menunggu Putra sendirian di kelas. Sebenarnya ia bersyukur, karena tak ada orang lain yang akan melihat Bella dalam kondisi super grogi dan gugup seperti ini.

Jantung Bella saat ini benar-benar menggila. Ia merasa gugup tak jelas. Bahkan tiba-tiba perutnya mulas tak karuan. Dan semua ini adalah efek diajakin pulang bareng Putra. Benar-benar dahsyat efeknya.

Bella melirik jam yang berada di hapenya. Tanpa sadar Bella sudah menunggu Putra selama kurang lebih empat puluh lima menit. Lumayan lama.

Tiba-tiba Bella mulai gelisah. Putra di mana? Jadi ngajakin pulang bareng? Kenapa dia nggak muncul-muncul?

Ragu-ragu Bella mengetikan pesan line kepada Putra berharap Bella segera tahu kepastian 'pulang bareng' ini.

Di mana? Jadi pulang bareng?

-Bella-

Lama Bella menunggu Putra membaca pesan tersebut. Namun sampai sepuluh menit berselang, Putra tak kunjung membaca pesan tersebut.

Bella tersenyum sedih memandang hapenya. Mungkin Putra sibuk.

========++++======

Mana pendukung Putra?

Mana pendukung Alfi?

Hahaha duh ini Bella ama siapaaaa nantinya?



DilellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang