| K E M B A L I |
Suara pintu tertutup membuat Rara terbangun dari tidurnya. Tidurnya terasa berbeda, seperti ringan sekali untuk bangun. Biasanya Ayah harus selalu menggendong tubuh kecilnya dari ranjang ke dapur untuk sarapan.
Rara melihat tempat yang tidak asing di sekelilingnya. Semuanya serba putih.
"Kenapa Rara bisa di rumah sakit? Perasaan tadi masih di taman," gumamnya bingung.
Suara Ayah terdengar tepat di luar ruangan. Rara tersenyum lebar dan ingin segera menghampiri Ayahnya. Lega rasanya, dia pikir dia hanya sendiri di rumah sakit ini.
Rara mencoba turun dari ranjang rumah sakit. Seketika matanya membelalak kaget. Dia tak dapat merasakan kakinya menyentuh lantai. Takut, Rara melirik ke bawah. Rasa shock-nya bertambah saat melihat dirinya sendiri melayang di udara.
"Hah? Rara kenapa? K-Kok bisa gini?" Dia bertanya polos. Tanpa basa-basi lagi Rara mencoba berlari keluar dari ruangan itu dan meminta bantuan Ayah.
Rasanya Rara ingin pingsan karena shock saat itu juga. Belum ada dia menyentuh gagang pintu ruangan, tubuhnya langsung menembus pintu. Kini dia sudah berada di luar ruangan, ekspresi horror tergambar di wajah manisnya. Dia masih mengenakan gaun biru muda selutut itu.
Ada seorang pria berjas putih yang mungkin adalah seorang dokter dan Ayahnya yang sedang menangis saat berbicara pada dokter itu.
"Ayah! Ayah lihat tidak? Rara kok bisa terbang, terus nembus pintu lagi. Rara takut, Yah!" panggil Rara tepat di sebelah Ayah. Tapi pria itu sama sekali tidak menoleh, mungkin tidak mendengar racauan putrinya juga. "Ayah, Ayah dengerin Rara dong!" sahutnya kesal. Lagi, Ayahnya tetap tidak menoleh.
"Kami minta maaf, Pak. Sudah terlambat untuk menolong putri Anda. Dia dibawa ke sini dengan keadaan sudah tidak bernyawa lagi. Kami tidak bisa melakukan apa-apa lagi." ujar dokter itu. Rara mengernyitkan keningnya bingung.
"Saya mohon, Dok. Saya akan bayar berapapun agar putri saya bisa sadar lagi. Saya mohon. Saya tidak bisa kehilangan dia," Ayah mulai terisak.
"Ayah kenapa sih? Rara kan di sini!" panggil gadis itu lagi. Dia mulai kesal. Ayah hanya memiliki satu putri, yaitu Rara sendiri.
Dokter menatap Ayah dengan prihatin lalu menepuk punggung pria itu, "Nyawa ada di tangan Tuhan, Pak. Kami di sini hanya menyembuhkan sakit ringan, bukan untuk mengembalikan nyawa seseorang," ucap sang dokter, "Putri Bapak pasti sangat spesial karena Tuhan menginginkan dia kembali untuk menjadi bidadari-Nya di sana."
Setelah mengucapkan itu, dokter itu pergi meninggalkan Ayah sendirian menangis meratapi kepergian putrinya.
Dada Rara berdebar-debar setelah mendengar ucapan sang dokter, menandakan bahwa dia merasa takut sekarang. 'Apa mungkin yang dimaksud dokter itu aku...' pikirnya. Perlahan dia berjalan menembus pintu ke dalam ruangan itu lagi.
Sekarang Rara benar-benar merasa takut saat melihat tubuh aslinya berbaring di ranjang. Dia terlihat seperti sedang tidur sangat pulas. Gaun kuningnya berubah menjadi warna merah akibat darahnya. Dan kulitnya yang putih berubah menjadi pucat.
"Aku udah mati?"
.
.
.
.
YOU ARE READING
Leave
Short StorySesuatu menghalangi Rara untuk mencapai alam baka yang indah. Dia masih terjebak di bumi bersama orang-orang yang mati penasaran lainnya. Ada satu masalah yang belum terselesaikan sebelum dia meninggal. Berbulan-bulan Rara sudah mempersiapkan diri u...
