Prolog

195 13 0
                                        


. . . . . .

Rara sudah terlihat cantik dengan gaun berwarna kuning pucat selututnya. Rambut cokelatnya yang ikal dan panjang diikat setengah, menambah kemanisan penampilannya. Orang-orang yang berjalan melewatinya hanya memandangi kecantikan gadis bertubuh mungil itu dengan kagum.

Rara benar-benar merasa seperti seorang putri hari ini.

Jarang sekali dia mau berdandan anggun seperti ini. Tujuannya hanya satu-dia ingin mengesankan laki-laki yang selama ini dia dambakan. Varo, namanya. Lelaki yang terkenal karena ketampanan, keramahan, dan kepintarannya di sekolah. Bonus, Varo juga memiliki suara yang bagus, sama halnya dengan Rara. Tidak heran kenapa gadis itu sangat tergila-gila pada Varo.

Dia sudah menghubungi Varo jauh-jauh hari, mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan pria itu hari Sabtu di taman kota.

"Varo sibuk ya hari Sabtu? Kalau iya, nggak papa. Lain waktu aja."

"Nggak kok. Gue ada waktu banyak. Emangnya penting banget?"

"Uhm ... bagi Rara sih, iya."

Rara tersenyum lebar. Taman kota itu sudah ada di depan matanya. Mungkin saja Varo sudah berada di sana menunggunya.

Dia berjalan memasuki kawasan taman yang cukup luas. Kalau hari Sabtu memang pengunjungnya cukup ramai, namanya juga taman kota. Tapi Rara menyukai suasananya. Penuh kebahagiaan. Dia berharap kebahagiaan akan terjadi padanya juga hari ini.

Rara duduk di salah satu bangku kosong. Dia menundukkan kepalanya sambil bermain dengan bawahan gaunnya.

Cukup lama, sekitar 45 menit Rara menunggu dengan sabar kedatangan Varo, tapi laki-laki itu tidak kunjung datang juga. Padahal mereka sudah membicarakan tentang tempat dan waktunya, tetapi entah apa yang membuat Varo tidak datang.

'Padahal Varo bilang punya waktu banyak hari ini,' batinnya. Dia mulai khawatir kalau Varo tidak jadi datang hari ini.

Rara mulai berdiri dari bangku taman. Dia nekat, memutuskan untuk datang ke rumah Varo. Sekarang atau tidak selamanya. Itu motto-nya.

Perlahan-lahan gadis itu mencoba menyebrangi jalan raya yang mulai ramai pada sore hari. Saat mengetahui tak ada tanda-tanda kendaraan yang lewat, Rara mulai berlari kecil untuk sampai ke seberang.

Pikirannya berkecamuk, antara khawatir dan kecewa. Khawatir kalau hari ini dia gagal lagi menyatakan perasaan pada Varo. Kecewa karena Varo lupa atau sengaja membatalkan permintaan kecilnya.

Tepat saat ia setengah jalan lagi menuju sebrang, sebuah truk besar datang begitu laju. Bagaikan angin.

Bahkan Rara tak sempat menoleh sedikitpun. Semuanya terjadi begitu cepat. Seperti tanpa suara.

Rara mencoba sekuat tenaga untuk melanjutkan berlari ke sebrang jalan, dia ingin cepat-cepat mencapai rumah laki-laki yang ia cintai dan memberitahu bahwa dia mencintai Varo. Tetapi dia tak dapat mendengar apa pun lagi, tidak dapat merasakan apa-apa.

Hal terakhir yang ia lihat adalah bayangan wajah tampan Varo sedang tersenyum tulus ke arahnya, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

.

.

.


LeaveWhere stories live. Discover now