1 - First Imperssion

342 15 0
                                        

Yaa hari ini berjalan seperti biasa.

Oh tidak. Tidak seperti biasa.

Bena berada disekolah yang berbeda kali ini, dengan hawa yang berbeda dan kota yang berbeda.

• • •


Bena berjalan tergesa-gesa saat turun dari mobil yang mengantarnya ke sekolah. Ini hari pertama ia menginjakan kaki disekolah ini, karena ibunya lah yang mengurusi kepindahan Bena selama ini.

Langkahnya terhenti saat melihat dua orang yang sedang bertengkar tepat dihadapannya.

"Udah deh mah! Kevin cukup dianter sampe sini aja, Kevin bukan anak kecil lagi". ucap seorang cowok sambil membentak wanita paruh baya di hadapannya, yang Bena yakini adalah ibunya.

"Mama cuma mastiin kamu masuk ke dalam kelas Kevin!"

Noh kan emaknya.

Perkiraan Ben ternyata benar.

"Udahh deh mah, Kevin janji ga akan kabur lagi, Kevin udah kelas 11, tau mana yang bener mana yang enggak!". ucap cowok itu.

"Alah kamu ini,
Bena yang menyaksikan pertengkaran antara ibu dan anak itu hanya bisa menyerngitkan dahinya.

Ia ingin melewati gerbang tapi, kedua orang itu mengalangi jalan, sudah beberapa kali ia mengucapkan kata permisi tapi tidak ada yang menghiraukannya.

Ya tuhan. Sudah jam berapaa ini. Gerutunya dalam hati.

"Permisi". ucap Bena sekali lagi

"Oh iya silahkan". balas sang ibu sambil tersenyum ramah lalu memberi jalan untuk Bena masuk.

Setelah Bena berjalan masuk melewati gerbang, percakapan ibu dan anak itu masih terdengar ditelinganya.

"Udah ah, mamah sana pulang ini udah bel mah, Kevin mau masuk kelas". sentak anak cowok itu. Bena lalu mengingat-ngingat kapan terakhir kali ia membentak ibunya, rasanya tidak pernah.

"Nggak! mama harus anter kamu sampe depan kelas!" balas ibunya.

"Nggak! Dadah mamaah muahh". anak itu pun berlari meninggalkan ibunya yang masih diam di tempat sambil merancau tak jelas.

Kevin tau kenapa mamahnya ingin mengantarnya sampai depan kelas, karena ia ingin memastikan anaknya masuk ke kelas, tidak kabur dan pergi nongkrong bersama teman-temannya seperti saat kelas 10 dulu. Ia hampir tidak naik kelas karena banyak bolos saat sekolah.

• • •

Bena menyusuri lorong sebelah taman atas petunjuk kepala sekolah tadi, katanya kelasnya berada di lorong ini, lorong anak kelas 11, lorong ini masih ramai, setahu Bena ini sudah jam masuk kelas.

Matanya menyusuri setiap papan nama yang terpajang di depan pintu yang ia lewati.

XI IPA 2

Nahh, ini dia kelasnya.

Bena menghela napas panjang lalu melangkahkan kaki dengan hati-hati ke dalam kelas, saat ia masuk semua mata tertuju padanya. Apa ada yang salah? Bena rasa tidak ada yang salah dari dirinya, ya kecuali statusnya sebagai murid baru.

Matanya kembali mencari kursi kosong, kemudian pandangannya terhenti pada kursi barisan ke tiga samping jendela yang mengarah ke taman samping.

Belum lama ia duduk, seorang guru perempuat yang menurut Bena gendut memasuki kelas, semua murid masih asik dengan aktifitasnya masing masing, mungkin tidak menyadari bahwa ada guru yang masuk.

The Way I Loved YouWhere stories live. Discover now