Bab XIV - Mind -

8.4K 345 12
                                        


Part ini, dan beberapa part kedepan aku dedikasikan buat dua Band kesukaan aku Muse dan The Script, yang di namai begitu tepatnya, lagu-lagunya, -selain lagu-lagu Adele- menginspirasi aku nulis adegan-adegan yang baper. Makasih banyak ya abang-abang kece *plak* .
Oke, 1.. 2.. 3 cekidottttttt~

- Kiran -

Aku menatap lelaki ganteng yang sedang duduk dengan mata terpejam dan tubuh bersandar di sofa Cafe hotel dengan cemas. Keningnya berkerut seperti menahan sakit. Butiran-butiran keringat kecil meluncur di keningnya. Hati ku mencelos perih melihatnya seperti ini.

Tangan ku bergerak menyentuh dahinya. Ku letakkan telapak tangan ku di dahinya. Keningnya yang berkerut agak melonggar. Tubuhnya sedikit rileks merasakan sentuhan ku.

"Rifan, kamu sakit?" Tanya ku dengan intonasi yang begitu cemas.

"Hmm. Cuman jet lag. Kepala ku sakit" gumamnya dengan mata terpejam. Suara beratnya terdengar serak.

"Tadi kamu balik ke indonesia ya? Seharian ini tadi kamu gak ikut kegiatan" tanya ku lagi masih dengan begitu cemas.

Aku tadi sempat terkejut juga saat kegiatan pagi Rifan tak ada, kegiatan siang juga tak ada, kegiatan sore juga demikian, bahkan sampai malam. Aku SMS, gak di balas. Apa lagi telpon? Mailbox, iya! Aku pikir dia kenapa-kenapa, tapi aku tanya dokter Fahri, katanya dia ijin seharian urusan bisnis.

Pantas dia menghilang seharian, kita udah ikut kegiatan 4 hari dan baru sehari tadi dia absen. Sampai tadi sehabis makan malam dia SMS, minta aku datang ke sini. Akhirnya bisa lihat dia juga. Tapi yang dilihat malah kayak gini. Tubuhnya lemah, lunglai tak berdaya. Pasti dia capek.

"Aku dari Singapura tadi ke Malaysia buat ngecek peruasahaan tadi katanya ada masalah, habis itu aku terbang lagi ke Indonesia. Dari Indonesia aku terbang lagi salah satu kota tempat cabang perusahaan, katanya ada masalah juga. Habis itu aku terbang lagi ke RS internasional Emerth, baru aku terbang ke sini. Kiran, kepala ku mau pecah" Jelasnya sambil mengenggam tangan ku yang berada di dahinya.

"Emang gak bisa apa, itu urusan di tangani dulu sama pimpinan lain? Kamu kan lagi ikut kegiatan disini. Kan kasihan terbang sana sini. Emang kamu Superman apa. Kamu kan cuman manusia biasa" kata ku cemberut dan juga cemas. Well ya, Rifan bukan terbang beneran pake sayap tapi pake pesawat pribadi keluarganya pasti. Karena setau ku mereka punya pesawat pribadi.

Rifan mendegus geli mendengar ku. Dia mengusap-mengusap tangan ku yang di dahinya. Jiaah.. Ini kenapa jadi aku yang ditenangin?

"Ayah selalu bergantung pada ku. Kalau ada masalah dikit saja di perusahaan, beliau selalu mau aku yang datang ngecek, sekalipun ada pimpinan lain." Jawabnya dengan lembut.

"Trus tadi kenapa balik lagi ke RS Internasional Emerth? Kalau ada masalah kan, ada Candra. Dia juga kan andalan Direktur" Seru ku masih dengan cemberut.

"Candra lagi gak enak badan. Udah beberapa hari ini di mual muntah. Juga gak nafsu makan. Katanya sampai berat badannya turun 3 kilo dalam beberapa hari. Obat yang diminum pun gak mempan. Kalau udah gitu, mana bisa dia berfikir" jelasnya.

"Hee? Candra sakit? Dih. Kok sakitnya kayak orang lagi hamil muda aja ya" kata ku skeptis.

Perkataan ku sontak membuat Rifan membuka matanya dan menoleh menatap ku. Tatapannya penuh tanda tanya. Keningnya berkerut memikirkan sesuatu.

"Kok sama? Aku juga mikir gitu. Setau ku, laki-laki juga bisa ngidam kan?" Tanyanya dengan penuh selidik.

"Iya emang bisa. Tapi kan gak mungkin Candra hamil. Dia kan laki Rif" seru ku sambil mendengus geli.

Sunrise in NightmareWhere stories live. Discover now