14. after rain

5 5 0
                                        

Fragile Class 1Bab 14 - After Rain

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Fragile Class 1
Bab 14 - After Rain

────୨ৎ────

Langit di atas perbukitan Aokawa sudah mulai menggelap sejak pertengahan jam pelajaran terakhir. Bukan kegelapan mendung biasa yang menggantung tipis di kaki langit, melainkan hamparan awan kelabu pekat yang bergulung rendah dari arah lereng Harunoki, menelan puncak pepohonan pinus dan meredupkan cahaya siang jauh lebih cepat dari biasanya.

Ketika bel panjang tanda berakhirnya kegiatan belajar berdentang nyaring pada pukul empat sore, gemuruh guntur yang berat terdengar menggetarkan kaca-kaca jendela kayu Kelas 1-A. Hanya berselang beberapa detik kemudian, hujan lebat turun menghantam atap seng dan pelataran sekolah dengan suara berderap yang luar biasa gaduh.

Ruang kelas seketika riuh oleh suara decit kursi dan seruan kecewa para siswa. Bagi mereka yang tidak membawa payung atau pakaian hangat, bunyi hujan yang menabrak kaca jendela terdengar seperti vonis penahanan tanpa batas waktu.

"Aduh, kenapa hujannya harus turun sekarang?" keluh seorang anak di barisan tengah seraya melongokkan kepalanya ke arah jendela luar yang kini buram oleh limpahan air.

Beberapa siswa yang berniat langsung pergi ke distrik komersial di bawah bukit terpaksa berdiri membeku di ambang pintu, menatap lorong luar yang mulai digenangi tempias air. Arga sudah merapikan tas ranselnya sejak lima menit sebelum bel berbunyi. Dengan gerakannya yang efisien, cowok berkacamata itu memasukkan seluruh lembar modul Fisika ke dalam map plastik tahan air, lalu menoleh sekilas ke arah meja Raka.

"Raka, aku jalan duluan ke ruang tata usaha untuk mengambil surat izin praktikum," kata Arga seraya menyampirkan tasnya ke satu bahu. "Kalau kamu mau menunggu Bima?, dia sepertinya masih tertahan di toilet lantai dua."

"Iya, jalan saja duluan, Arga," sahut Raka tenang seraya mengangguk kecil.

Setelah Arga melangkah keluar ruangan menyusuri lorong yang mulai remang-remang, Raka membereskan buku catatannya tanpa tergesa-gesa. Dari dalam ransel kanvas hitamnya, ia memeriksa sebuah payung lipat bergagang kayu dengan kain berwarna biru gelap, sebuah perlengkapan tetap yang tidak pernah ia tinggalkan setiap kali ramalan cuaca pagi menyebutkan adanya potensi perubahan suhu di lereng bukit.

Raka menyampirkan tasnya, melangkah keluar kelas, lalu menuruni anak tangga semen menuju area lobi utama di lantai dasar.

Suasana di sekitar deretan loker sepatu lantai dasar jauh lebih padat dari biasanya. Puluhan murid berdiri berdesakan di balik batas lantai keramik kering, memandang ke arah halaman depan sekolah yang kini telah berubah menjadi hamparan air yang mengalir deras menuju selokan bukit. Angin basah yang bertiup kencang dari arah lembah berkali-kali menyapu tempias air melewati undakan teras semen, membuat udara seketika terasa dingin dan pekat oleh aroma tanah basah yang tajam.

Raka berjongkok di depan lokernya, melepas sepatu dalam ruangan, lalu menukarnya dengan sepatu kets kanvas hitam miliknya. Setelah mengikat tali sepatunya dengan kencang, ia menegakkan tubuh dan berniat melangkah ke pintu keluar.

FRAGILE.Stories to obsess over. Discover now