12. ritme kecil

8 10 0
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Fragile Class 1
Bab 12 - Ritme Kecil

────୨ৎ────


Perubahan itu tidak pernah datang dengan ketukan pintu yang keras, melainkan menyusup perlahan melalui hal-hal kecil yang berulang setiap hari.

Memasuki pekan ketiga setelah proyek majalah dinding selesai, ritme kehidupan di SMA Aokawa kembali ke jalurnya. Jam pelajaran berganti, tumpukan lembar tugas terus bertambah, dan angin sejuk perbukitan bertiup stabil melewati jendela kayu Kelas 1-A. Di tengah rutinitas itu, jarak antara meja nomor empat di depan dan meja nomor delapan di belakang perlahan kehilangan pembatasnya yang kaku.

Pagi itu, dua puluh menit sebelum bel masuk berdentang, kelas masih setengah lengang. Raka duduk tenang di bangkunya, menikmati keheningan pagi yang menjadi alasannya selalu berangkat lebih awal dari Harunoki.

Di mejanya, botol air minum aluminium diletakkan di sudut kiri dengan stiker label menghadap dinding luar. Buku catatannya terbuka rapi, didampingi pensil mekanik hitam yang terisi dua timbal cadangan. Itu tata letak yang tidak pernah berubah sejak hari pertama sekolah.

Langkah kaki yang ringan terdengar dari koridor. Naya melangkah masuk membawa tas selempang cokelatnya. Kemeja putihnya terpasang rapi di balik kardigan rajut krem pucat. Ketika pandangan mereka bertemu, Naya tersenyum simpul.

"Pagi, Raka."

"Pagi," balas Raka tenang seraya mengangguk kecil.

Sebagai piket hari itu, Naya melangkah ke depan untuk membersihkan papan tulis. Namun saat ia meraih spidol dari wadah di samping mimbar, ujung spidol itu hanya meninggalkan goresan abu-abu putus-putus. Tinta di dalamnya sudah mengering total.

Naya menghela napas pelan. Tanpa ragu, ia membalikkan badan dan melangkah lurus menyusuri lorong meja menuju sudut belakang.

"Raka," panggil Naya pelan saat tiba di samping mejanya. "Punya cadangan tinta hitam? Spidol di meja guru habis semua."

Tanpa perlu bertanya panjang lebar, Raka menarik laci meja dan mengeluarkan botol kecil tinta isi ulang dari kotak perkakas kanvasnya. Ia meletakkannya di atas meja.

"Kocok dulu sebelum dituang," kata Raka mengingatkan. "Lubang udaranya agak tersumbat sisa tinta kering."

Naya meraih botol tersebut seraya tersenyum hangat. "Iya, aku ingat caramu mengisinya. Terima kasih banyak, Raka."

Bagi murid lain yang melihat dari kejauhan, itu hanyalah permintaan bantuan biasa antarpetugas piket. Namun bagi mereka berdua, ada pemahaman yang hadir dengan sendirinya: Naya tahu Raka selalu membawa perkakas cadangan, dan Raka tahu Naya selalu memastikan ruang kelas siap sebelum pelajaran dimulai.

FRAGILE.Stories to obsess over. Discover now