Di dalam Aula Leluhur Keluarga Shen yang megah namun dingin seperti kuburan, aroma kemenyan sandalwood yang biasanya menenangkan jiwa kini tertutupi sepenuhnya oleh bau amis yang mengental.
Darah.
Ada banyak darah yang merembes keluar dari luka cambukan di tubuh gadis kecil yang sedang dihukum itu.
Punggung Shen Xueji terasa perih dan panas.
Gadis kecil berusia sepuluh tahun itu hanya bisa terbaring lemah di atas lantai batu pualam yang dingin menusuk tulang.
Jubah kain kasar berwarna abu-abu murahan yang dikenakannya telah robek, menempel erat pada daging di punggungnya yang terkoyak dan hancur berkeping-keping.
Setiap helai kain yang menempel di luka cambukan seolah menjadi pisau kecil yang kembali menyayat setiap kali ia mencoba bernapas.
Napasnya pendek dan tersengal-sengal. Setiap tarikan napas mengirimkan gelombang rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang belakang, membuat penglihatannya berkunang-kunang.
Darah-darahnya sendiri-menyibak di bawah tubuhnya, membentuk genangan gelap yang perlahan menyebar di permukaan pualam yang mengkilap.
Di hadapannya, berdiri tegak Marquis Shen-ayah kandungnya-dengan wajah dingin penuh kesombongan yang telah mengeras menjadi topeng kebencian selama satu dekade terakhir.
Di sampingnya, Nyonya Besar Shen memegang cambuk kulit bertulang yang masih meneteskan darah segar, sementara dua anak sah mereka, Shen Yurong dan Shen Ming, berdiri memegangi saputangan sutra dengan senyum-senyum puas yang terkulum rapi di balik perawakan anggun dan sopan bangsawan mereka.
"Anak haram tak tahu diri," desis Nyonya Besar Shen, suaranya serak oleh kebencian yang telah dipendam selama bertahun-tahun.
Ia mengibaskan cambuk berdarah di tangannya hingga cipratan merah mengenai papan-papan nama leluhur Marga Shen yang berjejer rapi di altar.
"Ibumu hanyalah seorang Oiran murahan dari negeri barbar yang menjual tubuhnya di bordil pelabuhan, dan kau mewarisi darah kotor itu! Berani-beraninya kau mencuri anting-anting mutiara milik Yurong!"
"......."
Xueji tidak menjawab. Pipi kirinya menempel erat pada lantai batu yang basah oleh darahnya sendiri; dinginnya menusuk hingga ke gigi.
Dia tidak membantah-bukan karena takut, melainkan karena ia tahu benar semuanya akan sia-sia.
Tidak akan ada yang mau memercayai penjelasannya. Mereka tidak akan pernah percaya bahwa ia bukanlah seorang pencuri, dan bahwa anting mutiara di kamarnya sengaja dijatuhkan oleh Yurong-saudara tiri yang begitu membencinya.
Semua ini hanyalah sandiwara, sekaligus perangkap sederhana namun efektif untuk menciptakan alasan formal guna menyiksanya secara perlahan dan legal di mata hukum Houfu.
Di kediaman Marquis Shen ini, statusnya sebagai anak dari selir mantan pelacur adalah dosa seumur hidup yang tidak bisa dicuci oleh sungai mana pun.
Rambutnya yang berwarna merah darah-warisan genetik terkutuk dari ibunya yang telah mati tujuh tahun lalu-terurai acak di lantai pualam, berkilat mencolok di bawah pendar lilin yang berkelip-kelip.
Sementara itu, mata birunya yang sejernih langit malam musim panas menatap kosong ke arah Marquis Shen. Pria yang seharusnya ia panggil "ayah" itu justru balik menatapnya penuh jijik, seolah-olah ia hanyalah seonggok kotoran yang menodai lantai rumah.
"Cukup, Nyonya," kata Marquis Shen akhirnya.
Suaranya berat dan tanpa emosi, seolah baru saja memutuskan nasib seekor anjing liar.
YOU ARE READING
Jeratan Cakar Dan Gairah Shifu
Romance⚠️🔞 21+ ONLY: Khusus pembaca dewasa. Mengandung konten sensitif dan adegan eksplit. **✿❀ ❀✿** Ketika Racun Api Darah mengancam nyawa sang Shifu, Xueji terpaksa menyerahkan tubuhnya demi menyelamatkannya. Namun sejak malam itu, hubungan mereka berub...
