Bab 1

38 2 0
                                        

[Raka, bisa kita ketemu?]

[Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu]

Caraka membaca sekilas dua pesan terakhir yang Zara kirimkan padanya tanpa ia berniat membalas pesan tersebut. Seolah pesan dari Zara bukan sesuatu yang penting atau pun pantas untuk ia respon. Lelaki yang saat ini masih menempuh pendidikan strata satu semester 6, memilih untuk memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Kini pandangan matanya kembali tertuju pada sosok gadis yang masih sibuk memilih produk pelembab bibir. Gadis cantik kesayangannya, Alea Nugroho.

"Sayang, udah dapet nih." Alea menunjukkan dua pelembab bibir berbeda warna pada Raka. "Satu buat aku, satu lagi buat kamu." lanjutnya dengan nada riang.

"Aku cowok pun pake begituan?" tanya Raka.

"Iya lah! Biar bibir kamu itu gak kering." balasnya.

"Biar lembut juga ya pas kissing?" goda lelaki itu yang langsung dapat pukulan ringan di lengan dari Alea.

Caraka meringis pelan sebelum pada akhirnya dia tertawa kecil. Senang sekali rasanya melihat raut wajah Alea yang nampak kesal bercampur malu. Terlihat imut dan menggemaskan. Raka tidak akan pernah bosan, entah bagaimana pun tingkah Alea. Dia selalu menyukainya. Gadis itu akan selalu jadi kesayangannya.

Alea menarik lembut tangan Raka, mengajaknya ke kasir untuk membayar belanjaan. Dan seperti biasa, Raka dengan senang hati membayar belanjaan gadis itu.

"Setelah ini kita ke mana lagi?" Raka bertanya tepat setelah keduanya keluar dari toko skincare.

"Jajan, hehe." jawab gadis itu. "Pengen sushi." lanjutnya.

"Hpmu dari tadi geter terus." celetuk Alea saat tangannya tidak sengaja menyentuh saku celana Raka.

"Iya, GC tugas kelompok Pak Dion memang lagi on." Raka menjawab tanpa keraguan, meski dalam hatinya sendiri ia tidak yakin jika semua notifikasi itu datang dari group chat-nya. Mungkin beberapa ada yang dari Zara. Perempuan yang ia hindari sejak satu bulan lalu.

"Kok kamu gak ikut respon?" mata kecoklatan gadis itu menatap lekat kekasihnya.

Caraka tersenyum tipis, kemudian mencubit hidung Alea dengan pelan. "Aku sempat nimbrung kok tadi. Cuma ya untuk sekarang aku tim yang nunggu hasil diskusi aja." ungkapnya.

Alea tak lagi bertanya, fokusnya kembali ke pada momennya bersama Caraka. Berjalan beriringan sambil berpegangan tangan menuju restoran sushi langganan.
Caraka menundukkan kepalanya, menatap lembut pada tautan tangan mereka. Rasa hangat dari genggaman tangan Alea tidak pernah berubah, pun demikian dengan cintanya pada gadis itu.

4 tahun telah berlalu, keduanya masih bersama tanpa kekurangan rasa apa pun. Raka berharap hubungannya dengan Alea akan tetap terjalin, hingga janjinya untuk menikahi gadis itu mampu ia tunaikan.

..

Lampu kamar sengaja dibuat temaram, menciptakan suasana yang intim dan hangat. Meski begitu, keindahan Alea yang terbaring tanpa busana di bawah sana masih cukup jelas tertangkap oleh kedua mata tajam milik Caraka. Lelaki itu mengulas senyum tipis, sementara sebelah tangannya memegang kamera pocket gimbal. Menyorot ke arah wajah Alea yang tengah memperlihatkan berbagai ekspresi manis.

"Cantik, selalu cantik deh." puji lelaki itu.

"Singkirin gak!" Alea mencoba bersikap garang, meski raut mukanya terlalu lucu. "Kebiasaan banget main rekam-rekam." sungutnya.

Caraka tertawa, lelaki itu menyudahi kegiatannya mengambil beberapa moment Alea saat berada di bawah Kungkungannya. Dia lantas merendahkan tubuhnya, seketika hujaman di bawah sana terasa lebih menekan. Tubuh Alea tersentak, gadis itu melenguh pelan.

"Kalau ada yang nemu benda itu, habis kita." Alea berbisik pelan.

"Paling kita dinikahin." Caraka menjawab santai.

Alea menggigit bibir bawahnya, Raka mulai intens menggerakkan pinggulnya. Membuat gesekan di antara kedua bagian sensitif mereka makin terasa panas dan nikmat. Kedua mata Alea terpejam, gadis itu tidak lagi fokus pada obrolannya barusan.

Ini bukan jenis hubungan yang baik bagi kepercayaan mereka. Keduanya sudah benar-benar melewati batas. Baik Caraka maupun Alea, mereka sadar itu. Namun mereka benar-benar tidak bisa mengelak perasaan dan hasrat itu. Keduanya begitu besar dan menggebu-gebu.

Alea adalah pengalaman pertama bagi Caraka, begitu pun sebaliknya. Keduanya pertama kali melakukan itu saat acara kelulusan SMA, dan terus berulang hingga saat ini. Tidak ada penyesalan apapun, Raka bahkan berjanji pada dirinya sendiri jika Alea adalah satu-satunya perempuan yang akan ia nikahi. Satu-satunya perempuan yang akan ia cintai, dan ia juga berjanji hanya akan menyentuh tubuh Alea. Bukan wanita mana pun.

"Bunda tau gak ya, kalau putra kesayangannya nakal begini?" Alea bertanya dengan nafas yang terengah. Sorot matanya sayu menatap wajah tampan Caraka yang kini terdapat beberapa tetes keringat.

Caraka terdiam, dia tidak langsung menjawab. Lelaki itu memilih mencium bibir kekasihnya dengan lembut. Pertanyaan Alea tak ingin Raka jawab. Dia justru tidak mau bundanya tahu bagaimana kelakuannya saat bersama Alea. Dirinya yang nakal hanya saat bersama Alea. Dan orang lain, terlebih lagi bundanya tidak perlu tahu.

**

Kedua tangan gadis itu bergetar seraya memegang 2 test pack yang berbeda. Beberapa kali matanya memastikan, namun hasilnya tetap sama.

Dia positif hamil.

Zara menyugar rambutnya ke belakang, kemudian gadis itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia menangis tanpa suara. Menangisi keadaannya saat ini.

Gadis berusia 20 tahun itu hamil dengan status dirinya sebagai mahasiswi aktif tanpa pasangan. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Ia mungkin bisa menyembunyikan kehamilan di masa-masa awal. Tapi kedepannya? Perutnya akan membesar tiap harinya, dan orang-orang jelas akan bisa menyadarinya.

"Aku harus bagaimana?" gadis itu bertanya dengan suara yang lemah. Nada bicara yang sarat akan keputusasaan.

Zara lantas berdiri, dia memasukkan dua test pack yang ia pakai barusan ke dalam tasnya. Setelah itu dia keluar dari bilik toilet dengan keadaan wajah yang nampak pucat.

Gadis itu berpapasan dengan beberapa teman sekelasnya, namun Zara cenderung menghindari mereka. Dia memilih untuk berjalan cepat dan berniat pergi meninggalkan Kampus di mana ia kuliah.

Zara harus menemui seseorang yang sudah sepantasnya bertanggung jawab atas kondisinya saat ini. Bagaimana pun orang itu harus tahu apa yang telah menimpa dirinya.

Namun Zara makin frustasi saat orang itu begitu sulit ia hubungi. Pesan teks yang ia kirimkan dari tadi tak kunjung dapat balasan. Bahkan setelah mencoba menelepon pun, orang itu tetap tidak meresponnya.

Apapun itu Zara tetap akan mencoba. Ia tidak boleh menyerah untuk menemui orang itu agar bisa membahas masalah yang menimpanya.

Zara kembali membuka aplikasi chatting-nya setelah ia berada di dalam taksi online. Jemarinya yang lentik mengetik dengan kecepatan yang lincah. Tujuan pesannya hanya ditujukan untuk satu orang. Lelaki itu, Caraka Dean Sasmitha.

[Raka, kita harus ketemu]

[Aku hamil, Raka]

[Tolong temui aku di kostan-ku. Aku takuttt...]

A Broken Promise (Caraka x Alea)Stories to obsess over. Discover now