PROLOG

45 7 1
                                        

Malam itu, di ruangan yang sesak dengan kehadiran keluarga Aurelien, dua sosok pria tengah ditatap dengan penuh intimidasi. Namun, tatapan terkejut mengarah pada yang lebih muda, sedangkan tatapan marah didapatkan oleh pria di sebelahnya.

Keluarga itu menatap mereka seperti menatap orang yang telah menyembunyikan barang berharga, barang yang tidak dimiliki oleh siapa pun di dunia ini.

"Jadi, kau ternyata adalah cucuku?" Pria tua itu menatap sosok pemuda yang menatapnya tajam.

"Tanyakan sendiri pada putra dan menantumu itu. Saya tidak memiliki kewajiban untuk menjawab." Kata-kata tajam khas Aurelien membuat pria tua itu yakin bahwa pemuda ini adalah bagian dari keluarga.

Namun, tatapan pria tua yang mengaku sebagai kakeknya ini terhadap orang di sebelahnya, orang yang paling ia sayangi, sungguh membuat Rhaeven ingin menguliti kulit keriput itu.

"Jadi, selama ini dengan begitu lancangnya kau menyembunyikan satu keturunan keluarga ini, Butler Win?" Pria tua itu berucap, seolah-olah Win adalah pelaku kejahatan.Win, tanpa rasa takut sedikit pun, menatap orang yang selama ini menjadi penguasa di keluarga yang ia layani.

"Saya tidak menyembunyikan Rhaeven, Tuan. Putramu itu... tidak, mereka...." Tatapan Win seakan menantang ke arah sebuah keluarga yang kini terlihat seperti pihak yang paling tersakiti.

"Mereka yang memerintahkan ku untuk tidak pernah memperlihatkan Rhaeven di hadapan mereka!"

"Saat itu saya tidak bisa membantah karena saya hanyalah seorang pelayan."

"Saya hanya menjalankan perintah." Win tetap membela diri, dia tidak bisa terus tunduk pada keluarga ini, karena jika itu terjadi, keselamatan Rhaeven juga akan terancam.

"LALU KAU TIDAK MEMBERITAHUKANNYA BAHWA KAMI INI ORANG TUANYA? KAU TAK TAHU DI UNTUNG, WIN!"

Averin benar-benar terlihat seperti ibu yang sangat tersakiti saat kehilangan anaknya. Namun, Rhaeven tahu itu adalah pengelakan.

Dia tidak suka ketika orang yang paling ia sayangi diperlakukan seperti ini. Dan Rhaeven juga benci pembuat masalah seperti keluarga kecil itu.

"Papa memberitahukan hal itu."

Seketika ruangan itu menjadi senyap dan dingin. Aura Rhaeven seketika terasa berat. Dia tidak terima, dia marah, saat orang-orang itu memojokkan papanya.

"Papa menceritakan semuanya. Tentang saya yang bukan anak kandungnya, tentang siapa keluarga saya yang sebenarnya."

"Tapi, saya memang tidak ingin mendatangi kalian."

Langkahnya perlahan mendekat ke arah keluarga itu, ke hadapan wanita yang merasa paling tersakiti dan pria yang merasa dikhianati. Naasnya, mereka adalah orang tua kandungnya.

"Alasannya ...." Keluarga itu terkejut setengah mati dengan tatapan dari Rhaeven.

Tatapan itu,

" ... karena kalian menjijikkan."

Tatapan yang ingin muntah saat melihat kotoran di jalanan.






______________________________________

Prolog ini adalah awal dari kisah Rhaeven, yang tidak menginginkan keluarga nya, namun sialnya mereka selalu menganggu ketenangannya

Aku butuh vote kalian sebanyak 10 minimal... Untuk melanjutkan cerita ini.... Tenang bab satu selalu aku up bersama prolog....

Oke...

Arigato gozaimasta 🥰🥰🥰🥰🥰🥰

Secrets of Rhaeven's IdentityStories to obsess over. Discover now