Chapter 1 - Sebelum kita menjadi kenangan.

17 2 2
                                        

Hujan turun pada malam ketika Eunha pertama kali menyadari bahwa ada beberapa pertemuan yang sejak awal memang ditakdirkan untuk menjadi perpisahan. Bukan karena Tuhan terlalu kejam untuk membiarkan dua manusia saling memiliki, melainkan karena terkadang waktu hanya mempertemukan dua orang untuk mengajarkan bagaimana rasanya dicintai dengan cara yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, lalu mengambil salah satunya perlahan-lahan sampai yang tersisa hanya kenangan yang tidak bisa disentuh.

Eunha berdiri di bawah atap sebuah halte kecil dengan kedua tangannya menggenggam erat tali tas, sementara ujung sepatunya sesekali menyentuh genangan air di trotoar, dan di antara suara kendaraan yang melintas serta hujan yang jatuh tanpa henti, ia mendengar sebuah suara yang begitu dikenalnya.

"Eunha."

Ia menoleh.

Jimin berdiri beberapa langkah darinya.

Rambutnya sedikit basah, jaket hitamnya terkena percikan hujan, dan napasnya terlihat samar di udara malam yang dingin, tetapi senyumnya tetap sama seperti yang selalu Eunha kenal-senyum kecil yang hangat, senyum yang membuat dunia terasa sedikit lebih ringan hanya karena laki-laki itu sedang berdiri di hadapannya.

"Kamu belum pulang?"

Eunha menggeleng.

"Busnya belum datang."

Jimin melihat papan jadwal di belakang Eunha, lalu melihat jalan yang masih dipenuhi hujan.

"Kalau begitu aku temenin."

"Kamu nggak perlu."

"Aku tahu."

Jimin berjalan mendekat.

"Tapi aku mau."

Dan begitulah semuanya bermula.

Bukan dengan bunga.

Bukan dengan pengakuan cinta yang dramatis.

Bukan dengan adegan seperti yang sering Eunha lihat dalam film-film romantis.

Hanya dengan seorang laki-laki yang memilih berdiri di sampingnya di bawah atap halte pada malam yang dingin, padahal ia bisa saja pulang lebih dulu.

Eunha tidak pernah tahu bahwa keputusan kecil itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling sering ia ulang di kepalanya bertahun-tahun kemudian.

Malam itu, Jimin mengeluarkan satu earphone dari sakunya.

"Dengerin."

Eunha menatap benda kecil itu.

"Lagu apa?"

"Rahasia."

"Kenapa rahasia?"

"Biar kamu penasaran."

Eunha mendengus kecil.

"Jimin aneh."

"Baru tahu?"

Eunha tertawa.

Dan Jimin tersenyum.

Mereka kemudian berdiri berdampingan, berbagi satu lagu dari sepasang earphone yang sama, sementara hujan terus turun di luar sana, dan tanpa mereka sadari, sebuah kenangan sedang lahir-kenangan yang kelak akan terasa begitu indah sekaligus begitu menyakitkan.

---

Hubungan mereka tumbuh dengan cara yang sederhana.

Jimin mulai menunggu Eunha setiap sore.

Eunha mulai membawa dua minuman setiap pagi.

Jimin mulai hafal makanan kesukaannya.

Eunha mulai tahu kapan Jimin sedang lelah hanya dari cara laki-laki itu tersenyum.

EunMin : Bye. [ END. ]Stories to obsess over. Discover now