⚠️ Penting diingat ⚠️
Cerita ini adalah fiksi. Semua nama, karakter, tempat, waktu, sistem, dan adegan bersifat fiktif dan hanya untuk keperluan cerita. Dimohon untuk mengambil hal-hal yang baik dan meninggalkan hal-hal yang buruk dari cerita ini.
©️©️©️
Karya ini dilindungi oleh hak cipta.
Dilarang melakukan plagiarisme, pembajakan, reupload, mirrorring, ataupun bentuk pelanggaran hak cipta lainnya.
Dilarang membagikan cerita ini maupun bagian dari cerita ini ke platform yang berhubungan dengan AI untuk keperluan apa pun.
────── ✧ ──────
K: Keev, Kimor, Kepompong
©2026
oleh: Navycenna
────── ✧ ──────
Prolog
────── ✧ ──────
Sudah lima menit Bu Vinka membolak-balik lembar kartu rencana studi semester 6 dan transkrip nilai milik Tiva tanpa komentar apa-apa. Selama lima menit itu pula jari-jari Tiva meremas kain celananya di bawah meja dengan penuh gelisah.
"Kamu mengulang Kimia Fisik I untuk apa, Allia?" Suara tipis dosen berusia awal 30 tahunan itu akhirnya mengudara di tengah kehampaan di bilik ini.
"Untuk ... memperbaiki IPK, Bu." Tiva tahu itu jawaban yang dangkal, tetapi hanya itulah pembelaannya.
"Rencananya mau ambil apa untuk tugas akhir?"
Tunggu ... kenapa tiba-tiba Bu Vinka jadi bahas tugas akhir alias skripsi? Tiva bahkan belum mengambil seminar proposal seperti segelintir temannya yang kelewat ambisius itu.
Meski bingung, Tiva tetap mengikuti arus percakapan. Setelah berdeham sepelan mungkin, dia menjawab, "Bahan alam, Bu. Saya berminat bergabung dengan kelompok riset Pak Iyas."
Sebetulnya itu jawaban setengah hati. Tiva memang tertarik dengan penelitian bahan alam karena menurut review dari kakak tingkatnya, itu mudah dan dosen-dosen pengujinya tidak terlalu horor. Namun, bergabung dengan tim riset Pak Iyas terdengar kejauhan untuk mahasiswa yang berada di garis rata-rata sepertinya.
Bagaimanapun, Bu Vinka adalah dosen walinya, jadi sepertinya tidak ada salahnya bagi Tiva untuk menyuarakan hal ini.
Bu Vinka melirik transkrip nilai di atas mejanya. Lantas tangannya bergerak sedikit menurunkan kacamata ber-frame silvernya. Kedua mata itu memandang skeptis sosok Tiva yang duduk gelisah di hadapannya. "Kimor kamu dua-duanya dapat C."
Iya, saya tahu, Bu. Tiva hanya berani menyahut dalam hati.
"Kemarin siapa aja dosennya?"
"Kimor I ... Bu Rika dan Pak Lani. Kimor II ... Pak Lani dan ... Ibu."
"Kamu tahu kenapa saya dan Pak Lani kasih kamu nilai C di Kimor II?"
Tiva membasahi bibir bawahnya. "Karena ... nilai saya rata-rata, Bu."
Terdengar helaan napas yang begitu panjang dari Bu Vinka. "Nilai murni kamu di bawah rata-rata, Allia. Nilai C itu ditunjang oleh kegigihan dan sikap kamu selama di kelas."
KAMU SEDANG MEMBACA
K: Keev, Kimor, Kepompong
Romansa[ON HOLD] "Lo itu kayak mekanisme reaksi senyawa organik yang banyak panah dan serangan nukleofil-elektrofil." "Maksudnya?" "Nggak jelas blasss." "Daripada kamu, kayak helium. Ringan banget." "Apanya?" "Otaknya." ✧ Mengulang mata kuliah adalah satu...
