31. Saat Kepercayaan Menjadi Kelemahan

64 4 0
                                        

JANETTA P.O.V

02:03 PM

Seoul selalu memiliki cara sendiri untuk membuat seseorang merasa tidak tenang. Siang itu, langit yang sejak pagi terlihat mendung akhirnya menumpahkan hujan tepat ketika aku baru saja tiba di area belakang Seoul National University.

Aku sebenarnya memiliki jadwal kuliah siang hari itu tapi aku memilih untuk tidak masuk saja karena aku pikir ini lebih penting dari segalanya.

Aku datang hanya untuk menemui Jiah, satu-satunya orang yang ingin kuajak bicara mengenai sesuatu yang sejak semalam terus mengganjal pikiranku. Namun sebelum sempat mencapai taman tempat kami biasa bertemu, hujan turun begitu deras. Aku refleks mempercepat langkah, tetapi percuma.

Aku tidak membawa payung.

Mantel juga tidak kubawa karena ketika berangkat dari apartemen, langit masih terlihat hanya mendung biasa. Dalam hitungan menit rambut dan ujung pakaianku mulai terkena percikan air. Aku akhirnya berlari menuju koridor terbuka di salah satu gedung fakultas, lalu berhenti di bawah atap sambil mengatur napas. Air hujan jatuh seperti tirai tebal di hadapanku, menutupi sebagian halaman kampus yang beberapa menit lalu masih dipenuhi mahasiswa. Aroma tanah basah bercampur dengan udara dingin membuat suasana semakin sunyi. Aku memeluk kedua lengan sendiri sambil menatap hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti. Seharusnya aku hanya merasa kesal karena kehujanan. Namun yang sebenarnya membuat dadaku sesak bukanlah hujan.

V.

Pria itu tetap akan pergi ke Hongdae malam ini.

Aku sudah melarangnya. Sudah berulang kali menjelaskan bahwa aku tidak ingin ia datang ke tempat itu sendirian. Aku tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan RM dan orang-orangnya. Aku tahu Jungkook belum ditemukan. Aku tahu Jimin bahkan sudah membagi tugas karena mereka tidak boleh bergerak sembarangan. Dan yang paling membuatku takut adalah kenyataan bahwa Jin ternyata berusaha memanfaatkan Jiah untuk membuatku sendiri yang membujuk V agar datang ke tempat yang mereka inginkan.

Namun V tetap V.

Keras kepala, dingin, dan selalu merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.

Ia mengatakan bahwa ia sudah memiliki rencana dan tidak akan mengubah keputusannya hanya karena aku takut. Bahkan ketika aku berusaha membuatnya memahami bahwa kepergiannya bisa menjadi perangkap, ia hanya mengatakan bahwa ia tahu apa yang sedang dilakukannya. Aku membenci jawaban seperti itu. Bukan karena aku tidak percaya kepadanya, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan dirinya.

Aku mengusap wajah dengan kedua tangan sebelum mengembuskan napas panjang. Aku datang ke kampus untuk menemui Jiah bukan untuk membicarakan V.

Setidaknya, bukan pada awalnya.

Ada sesuatu yang jauh lebih sulit untuk kusampaikan.

Jin.

Aku sudah mendengar percakapannya dengan RM. Aku tahu ia sedang berusaha membuat Jiah menjadi bagian dari rencana mereka tanpa sepengetahuan sahabatku sendiri. Tetapi bagaimana aku harus mengatakan itu kepada Jiah?

Jin adalah kekasihnya.

Pria yang selama ini ia cintai, pria yang bahkan beberapa kali ia bela ketika aku merasa tidak nyaman dengan sikapnya. Jika aku langsung mengatakan bahwa Jin mungkin bekerja sama dengan RM, apakah Jiah akan percaya kepadaku? Atau justru mengira aku sedang mencoba menghancurkan hubungan mereka?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Aku bahkan sudah menyusun kalimatnya berkali-kali sejak meninggalkan apartemen.

SINGULAR (taennie fanfiction)Stories to obsess over. Discover now