Udara awal tahun keenam di Hogwarts terasa berbeda-dingin, pekat, dan sarat akan ancaman yang tak kasatmata. Bagi Hermione Granger, perubahan itu paling jelas terlihat bukan pada kastil yang kian diperketat penjagaannya, melainkan pada sosok Draco Malfoy.
Pemuda yang biasanya melangkah dengan dagu terangkat dan keangkuhan murni itu kini tampak seperti cangkang dari dirinya yang dulu. Bahunya agak membungkuk, lingkaran hitam mengukir bagian bawah matanya yang kelabu pucat, dan gesturnya selalu gelisah, seolah-olah bayangan kematian tengah mengintai di balik setiap belokan koridor.
Hermione memperhatikan. Terlalu memperhatikan, sebenarnya.
Di sela-sela lipatan perkamen dan tumpukan buku tebal di Perpustakaan, atau saat duduk bersama Harry dan Ron di Aula Besar, mata coklat Hermione kerap kali mencuri pandang ke meja Slytherin. Draco hampir tidak pernah menyentuh makanannya. Pemuda itu hanya memutar-mutar cangkirnya, tatapannya kosong melamun-atau ketakutan.
Ketika Harry mulai terobsesi dengan Peta Perampok dan meyakini bahwa Draco telah menjadi seorang Pelahap Maut, Hermione berpura-pura skeptis untuk menenangkan kehebohan sahabatnya. Namun di dalam hatinya sendiri, Hermione tahu ada yang tidak beres. Setiap kali ia melirik Peta Perampok yang diam-diam sering ia pinjam atau amati bersama Harry, titik bertuliskan Draco Malfoy kerap menghilang begitu saja dari koridor. Bukan ke dalam Asrama Slytherin, melainkan menguap di lantai tujuh.
Malam itu, jam malam baru saja berdentang. Koridor Hogwarts diselimuti bayang-bayang panjang dari lampu dinding yang remang-remang. Hermione melangkah cepat setelah menyelesaikan tugas Prefeknya, memeluk bundelan buku ke dadanya.
Saat melewati koridor sepi dekat tangga bergerak, sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa membuatnya berhenti.
Dari balik sudut, sosok jangkung berambut pirang platina muncul. Draco tidak mengenakan jubah sekolahnya, hanya kemeja putih yang lengannya tergulung tidak rapi dan rompi gelap. Langkahnya goyah, napasnya terdengar agak memburu, dan jemarinya terus meremas pergelangan tangan kirinya sendiri-gerakan refleks berulang yang tampak sangat neurotik.
"Malfoy?" bisik Hermione, suaranya memecah keheningan koridor yang sunyi.
Draco melonjak kaget. Dalam sekejap, tongkat sihirnya sudah teracung, mengarah tepat ke dada Hermione. Matanya membelalak penuh paranoia, abu-abu dingin yang berkilat bahaya di bawah lampu obor.
"Sedang apa kau mengintaiku, Mudblood?" desis Draco, suaranya parau, dipenuhi racun yang dipaksakan.
Hermione membusungkan dada, menolak untuk menunjukkan ketakutan meski jantungnya berdegup kencang. Ia menghentikan langkah, menatap tajam ke dalam mata Draco yang tampak kacau.
"Aku tidak mengintaimu," jawab Hermione dingin, berusaha menstabilkan suaranya. "Ini jalur Prefek. Kau yang berkeliaran lewat jam malam. Ada apa denganmu, Malfoy? Kau tampak... berantakan."
Kata berantakan tampaknya menyenggol saraf yang salah pada Draco. Pemuda itu maju satu langkah, menatap Hermione dengan tatapan penuh kebencian yang begitu tajam hingga terasa membakar. Namun di balik amarah itu, Hermione bisa melihat keretakan yang mendalam-sebuah rasa frustrasi berat yang teramat sangat.
"Jaga mulutmu, Granger," desis Draco rapat-rapat, melangkah lebih dekat hingga bayangannya menutupi tubuh Hermione. Udara di antara mereka mendadak terasa pekat dan menyesakkan. Hermione bisa mencium aroma familiar Draco-kayu cendana, mint, dan sentuhan dingin hujan-bercampur dengan aroma keringat dingin dari keputusasaan.
"Kau pikir kau sangat pintar, bukan?" lanjut Draco, suaranya merendah menjadi bisikan tajam yang berbahaya. "Selalu menjejalkan hidungmu ke urusan orang lain. Mengawasiku seolah kau punya hak."
"Aku tidak peduli padamu," balas Hermione, meski ia tidak mundur setapak pun. Ketegangan aneh melingkupi mereka; udara di antara keduanya terasa seperti dialiri listrik statis. "Tapi jika kau merencanakan sesuatu yang membahayakan sekolah ini-"
"Tutup mulutmu!"
Draco mencengkeram lengan atas Hermione dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku di pelukan Hermione hampir terjatuh. Gesekan fisik yang mendadak itu mengirimkan sengatan asing yang membuat Hermione tersentak. Tatapan Draco mengunci matanya, bibirnya tertarik dalam kurva tipis yang kejam, namun napasnya yang hangat dan tidak teratur menerpa kulit wajah Hermione.
Ada ketegangan gelap yang mendadak tercipta di antara mereka-bukan sekadar kebencian musuh lama, melainkan ketegangan fisik yang berbahaya, tidak sehat, dan sarat akan ancaman tak terucapkan.
Draco menunduk sedikit, menatap bibir Hermione sebentar sebelum kembali menatap matanya dengan intensitas yang mengerikan. "Jangan sekali-kali mencampuri urusanku, Granger. Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi. Kau tak tahu apa-apa."
Dengan sekali sentakan, Draco melepaskan cengkeramannya, membalikkan badan, dan bergegas pergi menembus kegelapan koridor, menghilang sebelum Hermione sempat memanggil mantra atau bahkan bernapas dengan benar.
Hermione berdiri terpaku di koridor yang dingin, memegangi lengannya yang masih terasa panas di tempat jemari Draco baru saja mencengkeramnya.
YOU ARE READING
Bound by Devotion
Fanfiction[18+ | Dark Romance | Angst | Smut | Slow Burn] Satu rahasia di Menara Astronomi mengubah segalanya. Di tengah tekanan tugas mematikan dari Lord Voldemort, Draco Malfoy berada di ambang kegilaan. Satu-satunya hal yang tidak ia perhitungkan adalah He...
