Aluna namanya, dia gadis yang pandai menyembunyikan luka dibalik senyuman. Dia tidak pernah meminta pada tuhan tumbuh dari keluarga Raharja.
Keluarga yang tidak pernah ia impikan, apa karena dosa orangtua, lalu Aluna berhak menanggung segala akibat Dan penderitaan dari dosa itu.
Bukannya setiap anak yang lahir ke dunia itu suci, tapi kenapa? Kenapa tidak dengan Aluna, ia nampak seperti kotoran yang menjijikan.
Dibalik semua itu masih ada satu cahaya yang Aluna harap dapat membawa kebahagian, kebahagian itu berasal dari laki-laki yang teramat mencintainya.
Dia adalah, Rama Mahesa.
Aluna menghela nafas saat dirinya duduk di cafe cofiria hampir 30 menit lamanya. "Rama ko belum dateng juga," keluhnya.
"Hai maap ya nunggu lama," ungkap Rama.
Lalu ia menggeser kursi kebelakang untuk ia duduk.
Aluna menekuk bibirnya kebawah sebagai pertanda ia marah pada laki-laki dihadapanya.
"Jangan cemberut dong! Nanti cantiknya hilang," ucap Rama lalu tersenyum tulus pada Aluna.
Mendengarnya membuat Aluna tersenyum tipis. Manisnya.
"Yaudah kita pesen minum sama makanya yuk!" ucap Aluna semangat.
"Sebentar!" cegah Rama.
Lantas Aluna mengerutkan dahi seolah bertanya mengapa.
"Ada yang harus aku sampaikan."
"Apa?"
Aluna menjadi sangat penasaran, karena tidak biasanya Rama seserius ini, apa ada hal yang seserius itu. Hal apakah itu.
"Kita putus!"
Aluna tersenyum lalu tertawa cekikikan, ini pasti prank.
Tidak mungkin Rama tiba-tiba meminta putus, kenyataanya sampai detik ini hubungan Aluna Dan Rama baik-baik saja sama sekali tidak ada pertengkaran, ataupun hal-hal yang dapat membuat hubungan mereka putus.
"Prank ya? Enggak lucu ah, jangan bercanda Ramm!" ucap Aluna lalu meraih punggung tangan Rama. Senyum masih nampak jelas diwajah Aluna.
Rama menghempaskan tangan Aluna secepat itu.
"Aku enggak bercanda Lun, aku mau putus setelah aku pikir-pikir aku merasa enggak cocok lagi," ucap Rama.
"Kenapa? Kenapa enggak cocok lagi? Kenapa tiba-tiba begini Rama? Kenapa kamu enggak bilang dulu, apa masalahnya, aku pasti bisa perbaiki itu, apa kurang aku jelaskan, kalau kamu bilang aku bisa berubah," tanya Aluna.
Aluna menghela nafas berat. Air matanya seperti tidak ada pertahanan lagi dan detik selanjutnya Aluna kalut dengan hal terjadi saat ini.
"Gue udah enggak suka sama lo lagi, gue suka sama kaka lo, Mutiara dia lebih cantik, lebih modis, lebih cerdas, lebih bijaksana, lebih dewasa, lebih bisa ngertiin gue dibanding lo Lun," ujar Rama dengan wajah tanpa dosa dia melayangkan perkataan yang tidak pernah Aluna sangka.
"Lo mau terima atau enggak, kita putus gue udah enggak tahan sama cewek kaya lo!" ucap nya dengan Nada tidak ada keraguan. Membuat tangis Aluna pecah.
"Yaudah, kalau itu mau kamu, jangan pernah berharap kita bisa balik seperti dulu," ucap Aluna disela-sela tangisnya.
"Enggak akan gue berharap itu." ucap Rama datar.
*****
Dijalan yang penuh keramaian hirup pikuk perkotaan ini, mengapa Aluna seorang yang nampak menyedihkan, keluarga maupun percintaan sangat memilukan sama-sama membawa luka.
Aluna berjalan dari cafe menuju rumah nya, namun rumah Dan cafe tersebut lumayan jauh, seharusnya Aluna memesan ojek online namun ia memilih berjalan kaki.
Ia berjalan ditrotoar, andai mama masih ada, enggak mungkin hidup aku akan semenderita ini. Saat-saat Aluna merasa tidak sanggup menjalani beratnya hidup ia selalu teringat akan mama nya.
Aluna mendongkakan wajahnya menatap ke atas melihat langit malam yang penuh dengan bintang. Saat bersamaan setetes air hujan turun mengenai matanya.
Hujan malam ini menjadi hujan yang tidak akan pernah Aluna lupakan. Hujan yang menjadi titik dimana ia benci Rama. Ia tidak sangka Rama akan mengatakan perkataan sekejam itu.
Sesampainya ia di rumah Aluna melangkah kaki kedalam rumah, dalam keadaan baju basah karena kehujanan.
"Kenapa baru pulang?" tanya Ibu. Ia sedang duduk disofa dengan tatapan mata yang tajam mengarah padanya.
Aluna menghela nafas, dan menghentikan langkahnya. Aluna tidak membalikan badan. Ia engan memperlihatkan dirinya yang tengah hancur seperti sekarang ini.
"Tahu, Kayak enggak pernah di didik aja." sahut Mutiara, kakak tiri.
"Kalau ada bibit-bibit enggak bener itu emang begini, ke anaknya juga ikut enggak bener, anak perawan pulang jam 11 mau jadi apa kamu? Mau jadi perempuan malam kamu?" ucap Ibu.
Aluna menatap nya dengan ujung matanya. Lalu ia pergi dari sana.
"Dasar anak haram!" ucap Mutia.
Seraya dengan langkah kaki nya yang terus berjalan, air matanya pun jatuh deras membasahi pipi. Ia bisa melawan namun saat ini sudah begitu banyak energi yang Ia keluarkan, Ia lelah Ia hanya ingin tidur malam ini dengan tenang dan damai.
Di tempat tidur nya ada ritual yang tidak pernah ia lewatkan setiap hari menjelang tidur. Aluna akan memandangi poto ibu nya yang masih terlihat muda.
Ia sangat merindukan mamanya, yang bahkan belum sempat ia lihat di dunia ini, mama meninggal sesaat setelah berhasil melahirkan Aluna. Ia tidak tahu bagaimana mama secara langsung, Ia hanya tahu melalui poto yang Ia punya pemberian dari ayah nya.
Sejak kecil di rumah ini, Aluna selalu menjadi sasaran kemarahan Ibu karena Ia dendam pada mama Aluna, karena pernah menjadi perusak hubunganya dengan Ayah.
Aluna sekarang sangat mirip dengan mama nya, open karena itu Ibu atau Ibu kandung Mutia, semakin membenci Aluna. Luka itu membuat ibu tidak suka keberadaan Aluna disekitarnya.
____
Gimana-gimana suka enggak?
Semoga selalu bisa melanjutkan cerita ini sampai ending.
Bertemu lagi sama aku di tahun 2026 ini.
Aku harap teman-teman suka.
Bye bertemu di part selanjutnya.
YOU ARE READING
Aluna : Luka di balik senyuman
RomanceAluna tidak bilang hidupnya selalu bahagia. Namun ia selalu berharap kapanpun ia pasti merasakan hal itu. Sebagai anak yang tidak pernah diharapkan di keluarga, ia menjadi anak yang kerap disalahkan atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Diti...
