MALAIKAT SIALAN!

187 40 7
                                        

Ӝ̵̨̄✧HAPPY READING✧Ӝ̵̨̄

▼⁠

[ PROLOG ]

"Bentar, bentar... Tolong diulangi lagi, Pak. Gue mati karena salah tarik?"

Di sebuah ruangan serba putih yang mirip kantor pelayanan publik lengkap dengan mesin antrean, seorang pemuda menatap tidak percaya ke arah pria berjas rapi di balik meja kaca.

Pria berjas itu terkekeh canggung sambil membetulkan letak kacamata tebalnya. "Aduh, maaf banget ya, Mas. Nama kamu kan 'Sean Budi Santoso', nah ID Jiwa kamu itu beda tipis sama Budi Santoso yang umur 80 tahun penderita serangan jantung di RS sebelah. Malaikat magang kami salah ketik satu digit pas entry data."

"Terus tubuh gue sekarang mana?! Kembaliinlah! Gue masih ada cicilan yang belum lunas!" seru Sean histeris.

Pria berjas itu meringis, menunjukkan layar monitornya. "Waduh... berhubung pihak keluarga gercep banget, jam dua siang tadi jenazah Mas udah selesai dikremasi. Abunya bahkan udah dilarung ke laut."

"ANJIR!" Sean hampir melompat menyeberangi meja. "Terus gimana?! Gue melayang-layang jadi hantu penasaran gitu?!"

"Tenang, tenang! Pihak Birokrasi Akhirat bertanggung jawab penuh," potong pria itu cepat-cepat sambil mengetik sesuatu di keyboard. "Sebagai bentuk ganti rugi atas kelalaian administrasi, jiwa Mas bakal kami pindahin ke dunia lain untuk nempatin tubuh karakter dari judul buku School Rebel Tamed."

Sean langsung melotot. "Tunggu! Itu kan novel yang baru terbit kemarin, gue belum sempat beli, Pak! Cuma pernah baca sinopsis belakangnya sekilas di toko buku gara-gara pacar gue minta dibeliin. Gue benar-benar enggak tahu isi ceritanya!"

"Ooh, tenang aja, yang penting kan kamu pernah baca sinopsisnya," potong pria berjas itu santai tanpa rasa dosa.

"Bedalah, Anjrit! Gue mana tahu detail konflik atau cara bertahan hidup di sana? Kasih ganti rugi yang bener dong! Kekuatan super kek, cheat skill kek, atau modal duit gitu?!" protes Sean heboh.

"Duh, maaf ya Mas, anggaran cheat skill untuk kuartal ini udah habis. Jiwa kamu cuma bisa dipindahin polosan aja," sahut pria itu sambil tersenyum manis namun sangat memaksa.

Sebelum Sean sempat mengamuk dan membalikkan meja kantor tersebut, pria berjas itu sudah menekan tombol merah besar di pojok mejanya.

Zzzzt!

Lantai di bawah kaki Sean mendadak ambruk. Pandangannya langsung berubah gelap gulita.

"Kocak, ini di mana?!"

Sean yang kini terbangun di tubuh barunya menatap ke sekeliling dengan panik. Ruangan itu remang-remang, penuh dengan tumpukan buku pelajaran dan kuitansi tagihan yang berserakan di atas meja belajar.

Ia meraba wajahnya, lalu menatap cermin kecil di dinding. Wajah yang terpantul di sana adalah wajah seorang remaja laki-laki yang agak pucat.

Perlahan Sean bangkit, meraih kartu pelajar di atas meja yang memuat foto wajah barunya lengkap dengan keterangan nama bertuliskan Sean Austin Reynard. Seketika, ingatan Sean memutar ulang teks sinopsis singkat yang sempat ia baca sekilas di toko buku:

Regan adalah remaja yang gemar menghamburkan uang demi kesenangan sesaat. Sikap berandalannya tak lepas dari pola hidup yang berantakan sejak kehilangan kedua orang tuanya semasa SMP. Semua itu bertahan sampai ia bertemu Senja-sosok dingin dan acuh tak acuh, yang secara mengejutkan menjadikan Regan sebagai satu-satunya pengecualian.

"Sialan... cuma ini doang informasi yang gue punya?!" maki Sean pada dirinya sendiri.

"Buku apaan, sih, yang mau dibeli Eca? Terus, kenapa nama di kartu pelajar ini bisa Sean juga? Lah, posisi gue di cerita ini jadi siapa? Figuran? Pohon? Atau cuma orang asing yang sekadar numpang lewat?"

Sean mengusap wajahnya kasar, kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun.

"Malaikat sialan! Kurang ajar banget. Jangan-jangan jiwa gue dilempar ke sini cuma gara-gara nama depan kita sama?!"

Tak ada ingatan pemilik tubuh asli yang tersisa, tak ada cheat skill, apalagi panduan sistem. Sean benar-benar buta soal alur cerita buku ini, termasuk posisi dan nasib pemilik tubuh baru yang sekarang ia tempati.

BRAK!

Pintu depan rumah secara tiba-tiba didobrak kasar dari luar, disusul suara langkah kaki yang serampangan dan deru napas penuh emosi.

"Woi, Sean! Mana uang?! Gue mau keluar sama temen-temen gue!" suara keras khas remaja laki-laki bergema dari arah ruang tamu.

Sean menoleh ke arah pintu kamar yang terhentak terbuka lebar. Seorang remaja laki-laki berdiri di sana dengan gaya tengil, mengenakan jaket kulit hitam dan celana jins robek-robek di bagian lutut.

"Lo denger gue gak, sih?! Dipanggil gak nyahut!" serunya dengan nada tinggi.

Sean menaikkan sebelah alisnya, menatap remaja di hadapannya dari atas sampai bawah. "Santai, Anjrit. Lo siapa?"

Remaja itu melotot, dahinya berkerut dalam. "Hah?!"

"Ya, lo siapa? Budek lo?" balas Sean santai tanpa beban.

Remaja itu mendesis jengkel, memutar bola matanya malas. "Aneh banget lo. Gue Regan, adik tiri lo! Jangan pura-pura gila ya, mana uang?!"

Sean tertegun sejenak.

"Adik tiri...?" batinnya heran. "Tunggu... Jadi pemilik tubuh ini bukan sekadar orang asing?! Gue jadi abang dari si protagonis utama yang hobinya ngabisin duit ini?! Lah, kok di sinopsis kagak dibilang kalau si berandalan ini punya abang tiri?!"

Regan yang melihat Sean malah melamun semakin naik pitam. Ia melangkah maju, bersedekap dada dengan wajah tidak sabaran. "Woi! Malah ngelamun! Mana uang buat nongkrong?!"

Sean yang tadinya terkejut perlahan mencoba menetralkan raut wajahnya. Ia tidak boleh terlihat aneh atau mencurigakan. Masalahnya, ia benar-benar tidak tahu di mana pemilik tubuh asli biasa menyimpan uangnya.

Dengan tatapan yang agak linglung, Sean memutar tubuhnya. Matanya bergerak liar menyapu meja belajar, memeriksakan kolong meja, memindahkan tumpukan buku pelajaran dengan ragu, hingga tangannya menjangkau area rak bagian atas.

"Di mana disimpannya sih? Masa di bawah bantal?" batinnya panik campur bingung.

Setelah beberapa detik meraba secara acak, jemarinya tak sengaja menyenggol gagang laci meja yang agak terbuka. Sean refleks menarik laci itu dan menemukan sebuah dompet kulit yang sudah lusuh di antara tumpukan kuitansi.

Baru saja jemari Sean meraih dompet itu dan bermaksud membukanya untuk melihat isi di dalamnya, Regan mendadak maju merampas dompet tersebut secara kasar.

Srett!

Tanpa rasa bersalah, Regan menguras habis seluruh lembaran uang tunai dari dalam dompet itu tanpa menyisakannya selembar pun.

Plak!

Dompet yang sudah kosong melompong itu dilempar begitu saja oleh Regan, mengenai dada Sean sebelum akhirnya jatuh ke atas meja.

"Lama banget lo! Cari dompet sendiri aja pusing, pake sok-sokan nanya gue siapa lagi," cetus Regan sambil memasukkan tumpukan uang itu ke saku jaket.

CONTINUED
10/08/26

SEAN; Babu si Protagonis Stories to obsess over. Discover now