Hujan di Jalan Mapo
•
•
Hujan turun sejak pukul delapan malam, dan pada pukul sepuluh ia belum juga reda. Jalanan di kawasan Mapo-gu berkilau oleh pantulan lampu neon toko-toko yang mulai tutup satu per satu, dan suara air yang jatuh ke aspal bercampur dengan desis ban mobil yang melintas pelan-pelan, seolah kota ini pun enggan bergerak terlalu cepat malam itu.
Halmeoni Yoon Bok-hee baru saja menutup tokonya—sebuah kedai kecil yang menjual banchan buatan sendiri kepada pelanggan lama di lingkungan itu—ketika ia melihatnya.
Seorang pemuda duduk di tengah jalan.
Bukan di trotoar, bukan di pinggir jalan seperti orang yang sedang menunggu, tapi tepat di tengah, di antara garis putih pembatas jalur, dengan lutut ditekuk ke dada dan kedua lengan memeluknya erat-erat. Rambutnya yang hitam basah kuyup menempel di dahi, jaket abu-abu yang dikenakannya sudah tidak lagi menyerap air, hanya menahan beban hujan yang terus bertambah di setiap lipatannya.
Halmeoni Yoon berdiri di bawah kanopi tokonya, menyipitkan mata, mencoba meyakinkan diri bahwa itu bukan sekadar tumpukan sampah atau bayangan lampu jalan yang menipu penglihatannya yang sudah menua. Tapi ketika sebuah mobil melintas dan lampunya menyapu tubuh itu, ia melihat jelas—bahu yang bergerak naik turun, kepala yang sedikit terangguk-angguk mengikuti irama yang hanya bisa didengar oleh pemiliknya sendiri.
Ia mendengar suara.
Pelan. Nyaris tenggelam oleh derasnya hujan. Tapi ketika angin membawanya sejenak ke arah kanopi tempat Halmeoni Yoon berdiri, suara itu menjelma menjadi nada yang familiar—nada yang biasa dinyanyikan ibu-ibu muda untuk anak mereka sebelum tidur.
"Banjjak banjjak jageun byeol..."
Twinkle Twinkle Little Star. Dinyanyikan dengan suara yang datar, tanpa naik turun nada yang seharusnya ada dalam lagu anak-anak itu, seolah dinyanyikan oleh seseorang yang hafal liriknya tapi lupa bagaimana caranya merasakan lagu itu sendiri.
Sebuah klakson berbunyi panjang. Mobil sedan hitam berhenti mendadak beberapa meter dari tempat pemuda itu duduk, lampu depannya menyorot langsung ke arahnya. Sopir di dalam mobil berteriak sesuatu—mungkin makian, mungkin peringatan—tapi pemuda itu tidak bergerak. Tidak menoleh. Tidak berkedip lebih cepat. Matanya tetap terpaku pada satu titik di kejauhan, kosong, seperti melihat sesuatu yang tidak ada di sana, atau mungkin justru terlalu banyak melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya lagi.
Halmeoni Yoon tidak berpikir dua kali. Ia meraih ponsel lipat tuanya dari saku celemek, jarinya yang keriput menekan tiga angka yang sudah diingatnya luar kepala sejak puluhan tahun lalu.
"119. Ada apa?"
"Ada anak muda... duduk di tengah jalan. Jalan Mapo-daero, dekat persimpangan dengan toko banchan saya. Dia tidak bergerak. Sudah lama duduk di sana, saya rasa. Hujan deras sekali, dia bisa mati kedinginan atau tertabrak-"
"Baik. Mohon tetap di tempat aman, kami akan segera mengirim unit."
Halmeoni Yoon menutup ponselnya, tapi tidak kembali masuk ke dalam toko. Ia berdiri di bawah kanopi, memandangi punggung yang basah kuyup itu, mendengar lagu yang terus dinyanyikan tanpa henti, seolah menyanyikannya adalah satu-satunya cara pemuda itu tahu untuk tetap bernapas.
Tujuh menit kemudian, sirene ambulans terdengar dari kejauhan, memecah suara hujan yang mulai mereda.
---
Cahaya lampu ambulans berputar-putar, memantul di genangan air, mewarnai wajah pemuda itu bergantian merah dan gelap. Dua paramedis turun dengan cepat, salah satunya membawa selimut termal, yang lain membawa tas medis.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Ruang 14
Ficção GeralBeberapa orang tumbuh dewasa karena ingin. Beberapa orang tumbuh dewasa karena terpaksa. Dan beberapa orang - memilih untuk tidak tumbuh sama sekali, karena dunia yang menunggu di sisi lain terasa terlalu berat untuk disambut. Pertanyaannya bukan si...
