Jarum jahit itu sudah tiga kali menusuk jari Kirana malam ini, tapi ia tidak berhenti. Ia hanya mengisap jarinya sebentar, lalu kembali menjalankan mesin jahit tua peninggalan ayahnya.
Ctak. Ctak. Ctak.
Suara mesin itu satu-satunya bunyi di ruang tengah rumah petak mereka, selain suara kipas angin yang berputar pelan karena sudah longgar baling-balingnya.
"Kak Kirana, belum tidur?" Sebuah kepala menyembul dari balik pintu kamar. Itu Dinda, adiknya, masih pakai seragam SMA yang belum diganti.
"Belum, Din. Ini tinggal dikit lagi, punya Bu Retno. Besok pagi harus diambil."
"Kak, ini udah jam setengah dua belas malam loh."
"Iya, tahu." Kirana tetap fokus ke kain di depannya, tidak menoleh. "Kamu sendiri, ngapain belum tidur? Besok kan sekolah."
"Ngerjain PR Fisika. Susah banget, Kak." Dinda merengut sambil menyeret kaki mendekat, lalu duduk di lantai dekat kaki meja jahit. "Kak, Kakak enggak capek apa? Tiap malam begini terus."
Kirana berhenti sebentar, menarik napas, "Capek sih. Tapi kalau enggak begini, uang buat obat Bapak sama uang sekolah kamu dari mana?"
Dinda diam. Ia menunduk, memainkan pulpen di tangannya.
"Sudah, jangan mikirin itu. Kamu fokus aja sama Fisikamu. Sini, Kakak bantu abis ini kelar."
**
Pagi datang lebih cepat dari yang Kirana harapkan. Jam lima ia sudah bangun, bukan karena alarm, tapi karena kebiasaan. Ia mengintip ke kamar orang tuanya. Ayahnya, Pak Somad, masih terbaring, separuh badannya masih agak kaku sejak stroke ringan tiga bulan lalu. Ibunya, Bu Aminah, sudah duduk di sisi ranjang, menyuapi obat pagi.
"Buk. Aku mau antar jahitan Bu Retno."
"Sarapan dulu sana."
"Nanti aja, Buk. Keburu Bu Retno mau ke pasar."
Bu Aminah menghela napas, tapi tidak melarang. Ia sudah hafal, anak sulungnya ini keras kepala kalau soal tanggung jawab.
Pak Somad, dengan suara yang masih agak pelo sejak stroke, mencoba bicara. "Ki ...Kirana ...."
Kirana menghampiri, berjongkok di sisi ranjang, "Iya, Pak?"
"Ja ...jangan terlalu capek ...," tangan kirinya yang masih bisa digerakkan mengelus lengan Kirana pelan.
"Enggak kok, Pak. Kirana kuat." Kirana tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca sebentar sebelum ia buru-buru berdiri dan pamit.
**
Butik Bu Retno ada di jalan utama, satu kompleks pertokoan yang jauh berbeda dari gang sempit tempat Kirana tinggal. Setiap kali ke sana, Kirana selalu merasa seperti masuk dunia lain. AC dingin, lantai marmer mengilap, dan mannequin berbaju mahal berjejer di etalase.
"Ini jahitannya, Bu. Sudah saya rapikan lagi bagian kancingnya." Kirana menyerahkan bungkusan plastik berisi baju yang sudah rapi dilipat.
Bu Retno membuka bungkusan itu, memeriksa jahitannya dengan teliti. "Wah, bagus, Kirana. Rapi banget. Ibu suka hasil kerjamu."
"Terima kasih, Bu."
"Eh, tunggu dulu." Bu Retno menahan Kirana yang sudah mau pamit. "Kamu bisa bantu Ibu sekali lagi enggak? Ada tamu penting sebentar lagi, tapi gaun yang mau dipakai anaknya kekecilan di bagian pinggang. Kamu bisa perbaiki di sini, sekarang? Ibu bayar ekstra."
Kirana melirik jam tangannya. Ia masih ada waktu sebelum harus ke tempat kerja sampingannya di konveksi. "Bisa, Bu. Berapa lama kira-kira?"
"Enggak lama, paling setengah jam."
Kirana mengangguk dan duduk di meja kerja kecil pojok toko, mulai bekerja dengan cekatan. Tangannya lincah menarik benang, menyematkan jarum pentul, memperbaiki lekuk kain satu per satu.
Pintu kaca butik berdenting. Seorang pria masuk dengan langkah cepat, wajahnya tegang, dahi berkeringat meski ruangan ber-AC. Ia mengenakan jas mahal yang sedikit berantakan, seolah dipakai buru-buru.
"Bu Retno, Ibu saya di sini?" suaranya agak keras, tergesa.
"Oh, Raka! Ibu kamu tadi lewat sini sebentar, terus ke salon di seberang." Bu Retno menunjuk arah luar.
Raka mengangguk singkat, lalu berbalik hendak keluar lagi. Tapi baru dua langkah, tubuhnya limbung. Ia menahan diri dengan berpegangan pada rak baju, dahinya mengerut, tangan lain menekan dadanya sebentar.
Kirana yang sedang menjahit refleks berdiri, "Bapak enggak apa-apa?"
Raka menoleh, sedikit kaget ada orang lain di sana, "Enggak apa-apa," jawabnya cepat.
"Bapak keringat dingin, mau saya ambilkan air minum?"
"Enggak usah." Raka menegakkan badan, menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum tipis yang kaku. "Saya cuma ... kurang tidur."
Bu Retno yang baru menyadari, buru-buru mendekat, "Raka, kamu pucat. Duduk dulu sini."
"Saya enggak apa-apa, Tante. Serius." Raka menjauh selangkah, seolah tidak ingin diperhatikan lebih jauh. Matanya sekilas bertemu dengan mata Kirana yang masih memegang jarum pentul di tangan, memperhatikannya dengan raut khawatir.
Untuk sesaat, keduanya saling diam. Raka yang biasanya terbiasa dengan tatapan orang-orang yang menyanjung atau menjilat, justru merasa aneh melihat tatapan itu. bukan kagum, bukan takut, hanya ... khawatir tulus dari orang asing.
"Permisi," ucap Raka pelan, lalu buru-buru keluar dari butik.
Kirana menatap punggung pria itu sampai menghilang di balik pintu kaca. "Bu, itu tadi siapa? Kayaknya butuh diperiksa ke dokter deh."
Bu Retno menghela napas, duduk di kursi dekat kasir. "Itu Raka. Anaknya Bu Prisilia, langganan Ibu. Perusahaannya gede banget, tapi anaknya itu ... entahlah, akhir-akhir ini keliatan enggak sehat terus. Tapi kalau ditanya, jawabnya selalu enggak apa-apa."
"Oh ...," Kirana kembali duduk, melanjutkan jahitannya. Dalam hati ia bergumam, orang kaya juga ternyata bisa keliatan serapuh itu.
**
Sore harinya, sepulang dari konveksi, Kirana singgah ke apotek dekat rumah sakit tempat ayahnya biasa kontrol. Ia menyerahkan resep ke petugas, lalu menunggu sambil menghitung-hitung uang di dompetnya dalam hati.
"Mbak, obatnya jadi tiga ratus dua puluh ribu."
Kirana membuka dompetnya, menghitung lembaran uang yang tersisa. Kurang. Kurang tujuh puluh ribu.
"Bisa saya bayar setengah dulu, Kak? Sisanya besok saya lunasi, saya kerja lembur malam ini."
Petugas apotek yang sudah kenal Kirana karena sering bolak-balik mengangguk maklum.
"Ya sudah, enggak apa-apa, Mbak. Ambil saja dulu obatnya."
"Makasih banyak, Kak." Kirana membungkuk kecil, lalu buru-buru keluar sambil menahan malu.
Di luar apotek, ia berhenti sebentar, menyandarkan punggung ke tembok. Ia menengadah ke langit sore yang mulai jingga.
"Ya Allah ... kuatkan hamba," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar, sebelum kembali melangkah pulang dengan langkah yang dipercepat seolah kalau ia berjalan cukup cepat, beban di pundaknya bisa tertinggal di belakang.
**
Malam itu, seperti biasa, Kirana kembali duduk di depan mesin jahit. Tapi kali ini pikirannya melayang ke sosok pria di butik tadi siang. Wajah pucatnya, tangan yang menekan dada, dan tatapan yang buru-buru dialihkan seolah tidak mau terlihat lemah.
"Orang kaya juga bisa rapuh," gumamnya sambil menjalankan mesin jahit.
Ia tidak tahu, bahwa tiga bulan dari sekarang, wajah pucat itu akan kembali muncul di hadapannya. Kali ini bukan sebagai orang asing di butik, tapi sebagai pria yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Ctak. Ctak. Ctak.
Mesin jahit itu terus berbunyi, menemani malam panjang Kirana yang belum tahu, bahwa jarum nasibnya sedang diam-diam ditarik ke arah yang tak pernah ia bayangkan.
(Bersambung ke Bab 2)
YOU ARE READING
The Loaned Husband - Suami Pinjaman
RomanceKirana Ayudhita, anak sulung penjahit kecil, terpaksa menikah kontrak dengan Raka Ardiansyah CEO muda yang dingin dan tertutup. Yang tidak diketahui Kirana, bahwa Raka mengidap kondisi jantung langka yang mengharuskannya menikah sebelum usia 30 demi...
