Udara malam terasa lembap setelah hujan yang mengguyur kota sejak sore akhirnya mulai mereda. Di kawasan industri bagian timur, deretan gudang tua berdiri memanjang di sepanjang jalan yang sepi. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kekuningan yang redup, sementara angin yang berembus dari arah pelabuhan membawa aroma asin laut bercampur bau besi berkarat dari kontainer-kontainer yang ditumpuk menjulang.
Dari luar, gudang itu tampak seperti bangunan penyimpanan biasa yang telah lama ditinggalkan. Cat dindingnya mulai mengelupas, beberapa jendelanya bahkan pecah dan ditutup seadanya menggunakan papan kayu. Tidak ada satu pun yang akan menyangka bahwa di balik bangunan tua itu sedang berlangsung transaksi ilegal yang telah menjadi target penyelidikan selama hampir tiga bulan.
Di atas atap sebuah gedung kosong yang berjarak sekitar seratus meter dari gudang, dua sosok berpakaian hitam berjongkok di balik tembok pembatas. Wajah mereka tertutup sebagian oleh topi dan masker, menyisakan sepasang mata yang terus mengamati keadaan melalui teropong malam.
"Jumlah penjaga bertambah dibanding laporan terakhir," ujar Ravena pelan sambil menurunkan teropong dari depan matanya. Ia kemudian mengalihkan perhatian ke layar tablet yang menampilkan hasil pemindaian drone. Jari telunjuknya bergerak memperbesar gambar salah satu sisi gudang.
"Delapan orang berjaga di luar, dua belas di dalam bangunan, dan..." Ravena berhenti sejenak ketika menemukan sesuatu yang baru. "Ada dua penembak runduk di atap gudang sebelah."
Mira yang duduk di sampingnya segera meraih tabletnya sendiri. Setelah membandingkan gambar dari drone cadangan, ia mengembuskan napas panjang.
"Aku benar-benar benci kalau laporan intelijen meleset," keluh Mira sambil menyandarkan punggung ke dinding beton.
"Mereka tidak meleset," jawab Ravena tenang.
Mira menoleh dengan alis terangkat. "Lho?" tanyanya heran.
"Mereka hanya terlambat menerima pembaruan informasi," jelas Ravena. Nada suaranya tetap datar, seolah tambahan enam orang bersenjata itu bukan masalah besar.
Mira mendecak pelan. "Kau memang selalu punya cara yang lebih halus untuk mengatakan sesuatu."
"Bukankah artinya tetap sama?" balas Ravena tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Iya, sih..." gumam Mira sambil tersenyum tipis.
Perbedaan sifat mereka sudah menjadi pemandangan biasa di dalam tim. Mira lebih ekspresif dan mudah mengutarakan isi pikirannya, sedangkan Ravena hampir selalu terlihat tenang dalam situasi apa pun.
Namun justru perbedaan itulah yang membuat mereka menjadi partner terbaik selama enam tahun terakhir. Ravena pandai menyusun strategi dan mengambil keputusan di bawah tekanan, sementara Mira unggul dalam membaca situasi, mengumpulkan informasi, dan beradaptasi ketika keadaan berubah.
Mereka saling melengkapi tanpa perlu banyak berbicara. Kepercayaan yang dibangun dari puluhan operasi berbahaya membuat keduanya mampu memahami maksud satu sama lain hanya melalui isyarat kecil atau tatapan mata.
Suara seorang pria tiba-tiba terdengar melalui alat komunikasi yang terpasang di telinga mereka.
"Tim Elang, laporkan situasi," perintah sang komandan.
Ravena menyentuh earpiece di telinganya sebelum menjawab, "Target masih berada di dalam gudang. Jumlah personel bertambah enam orang dari laporan awal. Dua di antaranya merupakan penembak runduk."
"Apakah operasi tetap bisa dilaksanakan?" tanya sang komandan.
Ravena kembali mengamati gudang selama beberapa detik. Matanya mengikuti pola patroli para penjaga, menghitung jeda pergantian posisi mereka, memperhatikan arah putaran kamera pengawas, hingga memperkirakan titik buta yang dapat dimanfaatkan untuk menyusup.
