Episode 1 - Lampu yang Menyala Setelah Magrib

16 3 4
                                        

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, burung gagak mulai bernyanyi. Suara motor dan mobil saut menyaut terburu-buru untuk pulang, para pekerja bangunan dan kantoran berlalu lalang meninggalkan bunyi derap kaki yang menggema di jalanan.

Jalanan kota tua itu sangat ramai, padat bisa dibilang. Suara Adzan mulai terdengar, beriringan dengan bunyi klakson mobil muatan berat. Semua tampak terburu-buru meninggalkan lokasi mereka.

Hanya satu jalan kecil saja yang tampak tertidur di tengah kebisingan dunia. Jalan setapak yang gelap gulita, hampir tak nampak jika tidak diperhatikan baik-baik. Padahal lokasinya di tengah kota, namun berbanding terbalik dengan gang-gang sebelumnya. Gelap nan sepi. Sunyi bagaikan tak ada kehidupan disana.

Pada ujung jalan tua itu, berdiri sebuah bangunan sederhana terdiri dari dua lantai. Papan nama usang menggantung disana " Soul Caffe " Namanya. Gelap, sunyi bagaikan bagunan tua terbengkalai.

TING

Lampu berwarna jingga menyala, Satu-satunya cahaya yang menerangi kafe itu, hanyalah lampu remang-remang berwarna jingga. Diluar, rintik hujan mulai berjatuhan, bunyinya beradu dengan genting menyajikan irama unik menemani suasana sepi di kafe itu.

Seorang gadis tampak bergelut dengan kesibukannya, membersihkan meja kotor dan merapikan bangku. Beberapa kali tampak ia berkutat dengan komputer menghitung biaya hari kemarin. Lalu sesekali mengecek kondisi dapur.

Terdapat kalender tua di belakang meja kasir, tertanda bulat merah tepat ditanggal 31 Juli 2026. Jam menunjukkan pukul 18.40, baru 20 menit setelah waktu magrib.

Gadis tadi, setelah selesai merapikan seisi kafe, ia berdiri tegak di depan meja kasir. Tersenyum ke arah pintu yang.... Kosong.

Jam dinding berbunyi, berdetak kencang memenuhi ruangan bersahutan dengan suara hujan.

Pukul... 18.40.... Pukul... 18.45 masi sepi. Hanya dirinya sendirian yang berada di kafe itu.

TING NONG

Suara jam dinding memecah keheningan.

Gadis itu memutar kepala, melihat ke arah jam yang berada di sudut ruangan. Kini, angka pada jam menunjukkan pukul....

18.40

Jam dinding itu berhenti di pukul 18.40 , suasana semakin terasa tak nyaman. Tercekat. Namun gadis itu masi tetap tersenyum seolah tak terganggu dengan semua kejadian aneh tersebut.

KRINGG

Suara lonceng berbunyi, sesosok pria paruh baya memasuki ruangan. Pria itu menggunakan payung, kemudian ia menaruh payungnya di sudut ruangan.

" Selamat datang di Seoul Caffe, ada yang bisa saya bantu? ".

" Ah/pria itu tersentak/ em... Apakah ini dekat terminal? ". Pria itu mengusap pundaknya yang terkena air hujan, basah.

" Silakan Pak, mau pesan apa?".

" Ah... Saya, saya cari terminal mbak. Apakah ada terminal bus dekat sini?" Tanya pria itu kembali. Kini ia berdiri di depan meja kasir, pandangannya menoleh ke kanan kiri, bingung dengan bangunan yang baru saja ia masuki.

" Maaf Pak, terminal jaraknya lumayan jauh dari sini. Bisa sampai 40 menit. Apakah bapak terpisah dari rombongan?. Mau makan dulu Pak? "

" Oh, jauh juga ya mbak. Kalau begitu saya tunggu disini saja. Saya.... Em.... Saya duduk disana dulu ya mbak, kalau sudah mau pesan nanti saya panggil. Dengan mbak...?? "

" Wening, saya Wening pak. Silakan saya antar ke meja nomor 3."

" Baik... Terimakasih mbak Wening. "

Tu as atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Aug 02 ⏰

Ajoute l'histoire à ta Bibliothèque et tu seras prévenu des nouveaux chapitres !

Soul Café: Rasa yang Mengantar Pulang Des histoires addictives. Découvrez maintenant