Hujan turun sejak maghrib hingga pukul sebelas malam. Ia belum juga reda. Wulan duduk bersandar di kepala ranjang, lutut ditekuk ke dada, ponsel tergenggam erat di kedua tangan. Layar menyala terang di tengah kamar yang gelap, satu-satunya sumber cahaya selain lampu tidur kuning pudar di sudut meja belajar. Suara rintik yang menabrak kaca jendela terdengar teratur, seperti detak jam yang sengaja diperlambat.
Ia menekan tombol putar untuk yang ketiga kalinya malam itu.
"Wulan, kalau kamu dengerin ini pas lagi kangen, coba merem dulu. Anggap aku lagi cerita di sebelah kamu."
Suara Radit mengalir pelan dari speaker kecil ponselnya, sedikit serak karena rekaman itu dibuat larut malam, mungkin selepas ia pulang dari liputan. Wulan hafal setiap jeda napasnya, hafal di detik ke berapa suara itu akan tertawa kecil, hafal juga di bagian mana suaranya melembut seperti sedang menahan sesuatu yang tidak sanggup ia ucapkan utuh.
Ia memejamkan mata, mengikuti instruksi yang sudah basi itu, meski tahu hasilnya akan sama seperti malam-malam sebelumnya. Kosong. Rindu yang tidak menemukan tempat berlabuh.
Ponsel bergetar sekali. Wulan membuka mata cepat. Jantungnya berdegup tak sabar.
Notifikasi dari grup tugas kelompok.
Ia menghela napas, meletakkan ponsel di atas dada, menatap langit-langit kamar yang temaram. Sudah empat hari sejak chat terakhirnya ke Radit dibalas, dan itu pun cuma dua kata: "Iya, oke." Tidak ada emoji, tidak ada candaan yang biasanya menyusul. Wulan tahu betul bedanya Radit yang sedang sibuk dan Radit yang sedang menjauh, dan malam ini terasa seperti yang kedua.
Ia membuka galeri fotonya; jarinya menggeser layar tanpa niat sungguh-sungguh mencari apa pun, hanya kebiasaan yang sudah jadi ritual. Ada foto layar chat mereka jam tiga pagi, penuh emoji tertawa. Ada tangkapan layar sebuah puisi pendek yang dikirim Radit tanpa ia minta, dengan keterangan singkat, "Buat kamu, jangan di-share ke mana-mana." Ada juga foto buram hasil video call, wajah Radit setengah tertutup bantal, matanya menyipit karena kantuk tapi tetap memaksakan diri menemani Wulan begadang mengerjakan tugas akhir.
Wulan tersenyum tipis melihat foto itu, lalu senyumnya luntur begitu ingat bagaimana malam-malam seperti itu perlahan menghilang dari hidupnya.
Ia menekan putar ulang rekaman yang tadi.
"Kamu tahu nggak, kadang aku mikir, kenapa ya baru sekarang aku ketemu orang kayak kamu. Padahal kalau dipikir-pikir, kita deketnya juga baru sebentar. Tapi kok rasanya udah lama banget." Ada jeda panjang di rekaman itu, seolah Radit sedang menimbang kata-kata berikutnya. "Aku nggak tahu ini bakal jadi apa. Tapi buat sekarang, aku seneng banget ada kamu."
Wulan menahan napas mendengar bagian itu, seperti biasa. Kalimat itu diucapkan lebih dari setahun lalu, jauh sebelum semua jadi rumit, jauh sebelum jarak di antara mereka bukan cuma soal kilometer, tapi juga soal seberapa jauh Radit mengizinkan dirinya untuk didekati.
Ia meletakkan ponsel di atas bantal, meraih laptop yang sejak tadi menyala di meja kecil sebelah ranjang. Sebuah dokumen kosong terbuka di layar, kursor berkedip sendirian di baris pertama. Sudah dua minggu Wulan berniat menulis sesuatu, entah surat yang tidak akan pernah ia kirim, entah sekadar catatan harian, tapi setiap kali jarinya menyentuh keyboard, tidak ada satu kata pun yang keluar.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan notifikasi grup.
Nama Radit muncul di layar.
Wulan buru-buru meraihnya. Jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada yang ia mau akui. Namun yang muncul cuma satu pesan singkat.
"Met tidur ya, Wulan."
Tidak ada tanya kabar. Tidak ada cerita tentang harinya. Hanya lima kata yang terasa seperti pintu yang ditutup pelan-pelan, bukan dibanting, tapi tetap tertutup.
YOU ARE READING
OFF THE RECORD
RomanceAda orang yang datang bukan untuk tinggal, tapi untuk mengajarkan bagaimana rasanya benar-benar dicintai, walau sebentar. Bagi seorang mahasiswa yang selalu menjaga jarak dari rasa suka, pertemuannya dengan seorang jurnalis muda yang gemar menulis p...
