Halaman yang Terlupakan
Valdora, 1995
Albert Fournier duduk di ruang kerjanya yang sempit, dikelilingi tumpukan buku dan kertas-kertas yang sudah menguning. Di hadapannya, sebuah buku harian dengan sampul kulit terbuka. Penanya menari pelan, menggoreskan tinta hitam ke halaman yang mulai rapuh.
Di luar, Valdora masih damai. Sungai masih jernih. Anak-anak masih bermain di Jalan Magnolia tanpa rasa takut. Tapi Albert tahu, kedamaian ini tidak akan bertahan lama.
Ia berhenti menulis. Matanya menatap ke luar jendela, ke arah pabrik Morgenstand yang berdiri kokoh di kejauhan. Pabrik cemilan milik keluarga Hawthorne. Pabrik yang kini mulai diincar oleh seseorang yang tidak pernah Albert percayai sepenuhnya.
Dr. Ong.
Albert menghela napas panjang. Jemarinya yang sudah keriput menyentuh halaman buku harian itu, seolah ingin memastikan bahwa kata-katanya tidak akan hilang ditelan waktu.
"Aku sudah memperingatkan mereka," tulisnya. "Valdite terlalu berbahaya untuk ditambang. Tapi Dr. Ong tidak mendengarkan. Dia hanya melihat keuntungan. Dia tidak peduli pada kesehatan warga, pada sungai, pada tanah. Dia menyebutnya 'kemajuan.' Aku menyebutnya 'kehancuran.'"
Ia berhenti lagi. Suara langkah kaki terdengar dari lantai bawah. Pierre-putranya-baru saja pulang dari laboratorium. Albert tersenyum tipis. Pierre masih muda, penuh semangat, percaya bahwa teknologi bisa menyelamatkan dunia.
Albert dulu juga percaya itu.
Tapi sekarang, di usia senjanya, ia hanya bisa menulis. Berharap suatu hari nanti, seseorang akan membaca catatannya dan melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan.
"Aku sudah mencoba menghentikannya," lanjutnya. "Tapi aku gagal. Sekarang, aku hanya bisa menulis. Berharap suatu hari nanti, seseorang akan membaca ini dan melakukan apa yang tidak bisa kulakukan."
Ia menutup buku harian itu. Matanya menatap foto di atas meja-foto dirinya bersama Pierre dan seorang pria muda berjas rapi. Dr. Ong. Foto itu diambil saat mereka masih menjadi kolega. Sebelum semuanya berubah.
"Untuk Valdora," bisik Albert pada dirinya sendiri. "Untuk masa depan. Untuk mereka yang akan datang setelahku."
Ia menyimpan buku harian itu di rak tersembunyi, di balik tumpukan buku-buku tua yang tidak akan disentuh siapa pun.
Di luar, Valdora masih damai. Tapi di dalam hatinya, Albert tahu: ini adalah ketenangan sebelum badai.
---
Valdora, Sekarang
Rak itu masih di sana. Tersembunyi di sudut Alistair's Nook. Buku harian dengan sampul kulit yang sudah mengelupas itu masih menunggu-menunggu untuk ditemukan oleh tangan-tangan yang tepat, di waktu yang tepat.
Dan di kota kecil yang sering dilupakan peta, tiga gadis kelas sembilan akan segera menemukannya. Mereka belum tahu bahwa buku harian itu akan mengubah segalanya. Mereka belum tahu bahwa peringatan Albert Fournier, yang ditulis puluhan tahun lalu, akhirnya akan sampai ke telinga yang tepat.
Tapi untuk sekarang, buku itu masih diam. Menunggu.
Valdora masih bernapas. Tapi di bawah tanahnya, sesuatu sudah mulai bergerak.
---
ESTÁS LEYENDO
Rahasia di Balik Bayang
Misterio / SuspensoKota kecil Valdora yang sering dilupakan peta kembali berdenyut dan kini mulai berubah. Kali ini, sebuah ancaman baru hadir dalam balutan janji manis dari PLTA Nusantara. Air sungai yang dulu jernih berubah keruh. Lampu-lampu di rumah warga mulai be...
