Chapter One - The Things Left Unsaid

220 24 6
                                        

Hujan telah turun sejak sebelum Tokyo benar-benar terbangun, meninggalkan warna kelabu yang sama pada gedung perkantoran, atap toko, rel kereta, dan wajah-wajah orang yang bergerak terburu-buru di bawah payung. Menjelang sore, awan masih menggantung rendah di antara bangunan Kanda, tebal dan berat seperti sesuatu yang telah menahan terlalu banyak air tetapi belum memutuskan kapan harus pecah. Aliran tipis mengular di sepanjang trotoar, membawa daun-daun kecil, puntung rokok, dan sobekan kertas menuju saluran yang tersumbat. Lampu toko mulai menyala lebih awal meskipun matahari belum benar-benar terbenam, menciptakan pantulan panjang di atas aspal basah yang terpotong setiap kali kendaraan melintas.

Sasuke berhenti di bawah kanopi sebuah kedai kopi yang telah tutup, menurunkan payungnya sedikit agar dapat membaca pesan yang baru masuk dari Kakashi. Air menetes dari tepi kain hitam itu, jatuh berurutan di dekat ujung sepatunya.

Mokuren Used Audio. Masuk ke gang setelah percetakan. Papan tokonya hampir tidak terlihat.

Pesan kedua tiba beberapa detik kemudian.

Kita membutuhkan player-nya, bukan satu kotak penuh kabel yang "mungkin masih berguna".

Sasuke membaca kalimat terakhir tanpa perubahan ekspresi, kemudian memasukkan ponselnya kembali ke saku mantel. Kakashi masih mengingat kejadian dua bulan lalu ketika ia kembali dari Akihabara membawa beberapa gulung kabel, tiga adaptor, dan sebuah mesin penjawab telepon yang tidak pernah diminta siapa pun. Sasuke tidak merasa perlu menjelaskan bahwa hampir seluruh barang tersebut akhirnya digunakan. Menurutnya, hasil seharusnya cukup untuk mengakhiri perdebatan. Menurut Kakashi, kebiasaan itu merupakan salah satu alasan mengapa ruangan kerja Sasuke semakin menyerupai gudang yang memiliki komputer.

Ia melanjutkan langkah menuju gang yang dimaksud. Bangunan percetakan berada di antara toko alat tulis dan rumah makan kecil yang jendelanya dipenuhi embun. Pintu gulungnya sudah ditutup, sementara lembaran-lembaran koran lama ditempelkan pada kaca dari sisi dalam. Di sampingnya terdapat celah sempit yang hampir tersembunyi oleh dua mesin penjual minuman. Gang itu hanya cukup lebar untuk dilalui dua orang apabila keduanya bersedia memiringkan tubuh. Bau air hujan bercampur dengan kertas lembap, minyak dari dapur belakang, dan sesuatu yang mengingatkan Sasuke pada logam tua.

Papan nama Mokuren tergantung miring di atas sebuah pintu kayu. Cat emas pada huruf-hurufnya telah terkelupas sehingga nama toko tersebut tampak seperti susunan garis pucat yang nyaris dilupakan. Etalasenya tidak ditata untuk menarik siapa pun masuk. Radio-radio tua ditumpuk di balik kaca buram, beberapa dengan antena bengkok dan tombol yang hilang. Kamera analog menghadap ke jalan dengan lensa-lensa gelap. Sebuah televisi berukuran kecil menampilkan salju hitam-putih meskipun kabel dayanya tidak terlihat terhubung ke mana pun.

Sasuke memandang layar itu selama beberapa detik. Bintik-bintik terang bergerak tanpa suara, cepat dan tidak beraturan, sebelum pantulan lampu mobil menghapus sebagian gambarnya. Ia kemudian mendorong pintu.

Lonceng logam yang tergantung di atas kusen bergoyang, tetapi tidak mengeluarkan bunyi.

Udara di dalam toko terasa lebih hangat daripada di luar, namun pengap, dipenuhi bau kertas tua, kain yang terlalu lama disimpan, debu, dan logam yang mulai berkarat. Ruangannya jauh lebih dalam daripada yang terlihat dari jalan. Rak-rak kayu berdiri rapat hingga ke bagian belakang, dipenuhi tape deck, turntable, pengeras suara, kamera, telepon rumah, mesin penjawab, serta kotak-kotak plastik berisi kabel yang sudah kehilangan pasangannya. Beberapa barang diberi label harga dengan tulisan tangan, sementara sebagian lain hanya memiliki secarik kertas bertuliskan BELUM DIPERIKSA, seolah benda-benda itu sedang menunggu keputusan mengenai apakah mereka masih memiliki fungsi.

Di balik meja kasir, seorang perempuan tua duduk sambil membaca buku bersampul kain biru tua. Rambutnya dipotong pendek dan seluruhnya putih, sementara kacamata tipis menggantung rendah di pangkal hidungnya. Ia tidak segera mengangkat wajah ketika mendengar pintu terbuka.

A Voice Wearing Her FaceStories to obsess over. Discover now