Hallo guys
Ini cerita pertamaku
Selamat membaca dan semoga kalian suka dengan ceritanya
Dan jangan lupa tinggalin komentar dan juga vote ya teman-teman👍😊
Suara gemericik hujan yang menghantam atap seng kamar berukuran tiga kali empat meter itu menjadi satu-satunya alunan musik yang menemani malam Eira. Di atas kasur tipis yang mulai menipis busanya, gadis berusia dua puluh tahun itu mendekap sebuah buku novel tebal berpembatas kain merah.
Eira menghela napas panjang, mengusap matanya yang buram akibat kelelahan bekerja shift malam di minimarket.
"Keluarga... jika aku memiliki seseorang yang menunggu di rumah setiap kali aku lelah, apakah rasanya akan sehangat ini?" bisiknya pelan pada kegelapan kamar.
Sejak kecil, Eira tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk oleh seorang ibu atau ditepuk bahunya oleh seorang ayah. Ia tumbuh di panti asuhan, bertarung dengan takdir lewat beasiswa, pekerjaan sampingan, dan latihan beladiri gratis di sasana lokal untuk melindunginya dari kerasnya jalanan kota. Hiburan tunggalnya hanyalah membaca novel fiksi remaja bertema geng motor-sebuah dunia rekaan tempat para karakternya bertarung demi kesetiaan dan persahabatan yang tak pernah ia miliki.
Malam itu, jam menunjukkan pukul 01.30 WIB. Eira menutup buku novelnya, memakai jaket parasutnya yang sudah memudar, dan berjalan keluar untuk membeli obat pusing di apotek dua puluh empat jam.
Ia tidak pernah sampai ke apotek tersebut.
Di persimpangan jalan yang licin, sebuah truk kontainer yang mengalami rem blong melaju kencang dari arah kiri. Cahaya lampu tembak yang menyilaukan mata menjadi penglihatan terakhir Eira sebelum dentuman keras mematahkan kesadarannya. Rasa dingin yang mencekam perlahan menjalar, menenggelamkan rasa sakitnya ke dalam kegelapan abadi.
Didunia lain, aroma minyak kayu cendana dan kelopak mawar yang lembut menusuk indra penciuman Eira.
Sensasi dingin dari aspal basah berganti menjadi kehangatan seprei sutra super lembut di bawah jemarinya. Eira membuka matanya perlahan. Langit-langit di atasnya bukan lagi plafon berjamur dari kamar kontrakannya, melainkan ukiran gothic mewah dengan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya keemasan.
"Adeline... Sayang? Kamu sudah bangun?"
Sebuah suara lembut bergetar penuh kecemasan terdengar di samping tempat tidur. Eira menoleh secara refleks. Di sana, seorang wanita paruh baya berparas anggun dengan gaun kasual sutra sedang memegang tangannya erat-erat. Mata wanita itu berkaca-kaca, memancarkan rasa khawatir yang begitu murni.
Di belakang wanita itu, berdiri seorang pria paruh baya bersetelan jas mahal dengan raut wajah tegas namun menyimpan guratan kelelahan mendalam.
"Dokter! Panggil dokter sekarang!" seru pria itu kepada seorang pria berseragam pengawal yang berdiri di dekat pintu.
Eira terpaku. Otaknya yang cerdas berusaha memproses informasi dengan cepat. Di mana aku? Siapa mereka? Dan... mengapa tubuhku terasa sangat berbeda?
Ia mengangkat tangannya sendiri. Jemari itu mulus, halus, tanpa ada bekas kapalan akibat mengangkat barang-barang berat di minimarket.
"Adeline... maafkan Papa dan Mama, Nak. Kami seharusnya tidak membiarkanmu terlalu lelah saat penerbangan dari London kemarin," ucap pria berjas itu sambil berlutut di samping tempat tidur dan menggenggam tangan Eira yang lain.
Adeline? London?
Ingatan dalam memori Eira berputar liar. Nama itu... Adeline Wijaya.
Eira mengingatnya dengan jelas. Dalam novel fiksi yang baru saja ia selesaikan sebelum kecelakaan, Adeline Wijaya adalah nama yang hanya disebut satu kali oleh narator. Ia adalah putri tunggal keluarga Wijaya-taipan bisnis terbesar di negara ini-yang sejak kecil disembunyikan dan disekolahkan di luar negeri demi keamanannya, sehingga tidak pernah terlibat dalam plot perseteruan geng motor atau konflik cerita utama.
Aku bertransmigrasi... bukan sebagai pemeran utama, bukan sebagai antagonis, melainkan sebagai karakter latar belakang yang tak pernah tersentuh konflik?
"Adeline? Kenapa melamun, Sayang? Ada yang sakit?" tanya sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Melihat pancaran kasih sayang murni di mata kedua orang tua di hadapannya, dada Eira mendadak berdesir hangat-perasaan yang tak pernah ia rasakan selama dua puluh tahun hidupnya. Air mata Eira menetes tanpa bisa ia tahan.
"Mama... Papa..." lirih Eira, mencoba suara barunya yang terdengar amat lembut.
Ibu Adeline langsung memeluk tubuhnya erat, menyalurkan kehangatan yang selama ini hanya ada dalam impian Eira. Di balik dekapan hangat itu, Eira menatap keluar jendela kamar mewahnya. Di luar sana, kota ini menyimpan takdir baru yang menunggunya.
Ia bertekad: Jika Tuhan memberiku kesempatan kedua dalam kehidupan yang bergelimang kasih sayang ini, aku akan melindunginya dengan seluruh jiwaku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merenggut kedamaian ini.
Namun, takdir dalam dunia novel tidak pernah sebercanda itu untuk dibiarkan berjalan tenang.
🏍🏍🏍
Segini dulu ya gays
Bab selanjutnya akan segera dibuat
😊😊😊
YOU ARE READING
Symphony of the Unwritten
ActionEira, seorang gadis yatim piatu yang merindukan hangatnya keluarga, tewas dalam kecelakaan tragis dan bertransmigrasi ke dalam novel geng motor favoritnya. Namun, ia tidak terbangun sebagai tokoh utama atau antagonis, melainkan sebagai Adeline Wija...
