"Hantu-hantu di sekolah ini palsu. Tapi permainan kita sungguhan. Nikmati malam terakhirmu, Wira."
Kertas itu masih terasa dingin di dalam saku jaket pramukaku, kontras dengan keringat dingin yang mengucur deras di pelipis. Di luar tenda, suara tawa dan riuh sisa api unggun masih terdengar samar. Tapi pikiranku tidak di sana. Pikiranku melayang pada teror nyata, dan pada satu nama yang paling ingin kulindungi di tengah kerumunan ini: Cantika.
Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) ini dari awal memang sudah salah perhitungan. Aku, Wira, mendadak harus terjebak dalam pusaran masalah yang jauh melampaui batas logika. Bukan cuma soal surat ancaman misterius atau rute hiking timur yang disulap jadi neraka lumpur oleh si Kak Jangkrik.
Ada jarak tak kasat mata yang membentang di antara kami-ruang kelas yang terpisah, aturan barisan yang mengekang, bagaikan hubungan jarak jauh dalam skala paling menyesakkan. Ditambah lagi, ada garis batas suci keyakinan yang membedakan jalan ibadah kami, mengajarkan kami cara mencintai dalam diam, tunduk dalam hormat, dan menerima takdir dengan kepala tegak di persimpangan lorong subuh itu.
Sebelum fajar menyingsing di atas bukit, permainan mematikan ini resmi dimulai. Dan kami berdua berada tepat di garis bidiknya-diuji oleh teror, dipisahkan oleh jarak, dan dibatasi oleh keyakinan.
YOU ARE READING
samar tapi kelabu
ActionPerkemahan Sabtu-Minggu (Persami) yang awalnya dikira biasa saja, mendadak berubah jadi penuh warna, gelak tawa, hingga ujian emosional bagi Wira dan Cantika. Di balik aturan perkemahan, rute hiking yang terpisah, dan keusilan surat ancaman iseng d...
