6. Jawaban

547 74 13
                                        


"GEO!" Teriak Devon yang dipastikan orang dari seberang telepon langsung budeg.

Kemarin belum sempat menjelaskan lelaki itu pergi membuat Devon dari sore spam ke nomor Geo yang ia dapatkan dari ketua kelas. Pemuda itu sangat membutuhkan jawaban dari Geo.

"Jangan teriak-teriak nanti tenggorakannya sakit ya cantik." Ujar orang dari seberang telepon, bukan Geo yang mengangkat tetapi suara pria paruh baya.

"Kamu pacar Geo ya, soalnya di save mine emot love putih. Saya papanya, semoga langgeng terus ya."

KON-

Devon menghela nafas sangat panjang sekali. Plot twist apa yang sebenarnya terjadi sekarang.

"Bawa ke rumah sakit anaknya, om. Saya laki- lali loh, anak om gay?!"

"Baguslah berarti dia nurun dari saya."

Ayah ini arahnya kemana, kenapa malah join trend, frustasi Devon mendengar jawaban papanya Geo.

"Om?"

"Apa sayang."

Semuanya setres. Tolong siapapun bisa kirimkan satu orang waras untuk Devon sebelum betulan ikutan gila juga. Eh dipikir-pikir masih ada satu teman sekamarnya yang belum muncul karena masih ada urusan di luar. Devon berdoa semoga yang itu tidak gila,

"Dia milikku." Tiba-tiba terdengar suara berantem dari seberang telepon.

"Tapi papa suka."

"Ih pedofil. Dan kenapa papa sembarangan angkat telepon Geo!"

"Dia seumuran kamu kan berarti dah legal. Juga daritadi hp kamu bunyi terus, mandinya masih lama kan siapa tahu penting jadi papa angkat."

"Tapi-"

Devon memutus sambungan telepon sepertinya perdebatan mereka akan panjang. Helaan nafas kembali terdengar karena harus menunggu mereka bertiga sampai pulang setelah selesai menyelesaikan urusan mereka entah butuh waktu berapa lama.

"Sayang," Panggil seseorang tiba-tiba muncul dengan setengah telanjang keluar dari kamar mandi dan langsung memeluk Devon erat seakan tidak mau melepasnya.

"Gimana kabarnya cantik." Alis Devon berkerut kesal dengan lagi dan lagi cowok random muncul tiba-tiba posesif. Dan juga sejak kapan ada orang lain di kamar.

"LO SIAPA LAGI KOCAK?!

Cup

Satu kecupan Jayden layangkan pada pipi mulus Devon. Tentu saja sang empu yang di cium langsung mengelapnya dengan kasar.

"Pacar kamu."

Eh-

"Make nih orang. Dengerin gue jomblo ya!"

"Kok gitu sih sayang aku ga diakuin." Ucapan Devon membuatnya hatinya sakit seperti diiris ribuan pisau. Lebayy

Melihat orang itu dari bawah sampai atas kepala. Sekarang Devon mengerti lelaki tampan itu adalah teman sekamarnya yang belum pernah muncul itu.

"Salah orang kali lo, minggir sana gue mau mandi." Ujar Devon namun malah pelukannya yang justru semakin kuat tidak membiarkannya pergi.

"Bener kok sayang, kamu Devon?"

"Iya gue Devon tapi ga punya pacar apalagi cowo kaya lo, najislah!"

"Berarti bener Devon Cassandra, kamu pacar kami." Tegas Jayden.

"Udah dibilang gua bukan," Devon menjeda ucapannya setelah menyadari sesuatu. "Lo barusan bilang kami?"

"Sebelumnya kami terkena gas beracun yang tiba-tiba muncul di asrama, terus kami berempat AMNESIA. Kata temen kamu MILIK kami." Jelas Jayden panjang lebar menceritakan kronologi yang terjadi tepat kedatangan Devon di asrama.

"TAI KALIAN SEMUA, JADI DARI KEMARIN GUE MENDERITA CUMA KARENA KALIAN NGIRA GUE PACAR KALIAN?!" Teriak Devon, semua penderitaan dari dikejar di hutan sambil dicambuk, tangan dan lehernya yang disayat pakai pisau dan darahnya di sedot sampai kering. Semua itu cuma ulah satu orang yang membuat mereka bertiga melakukan itu padanya.

"GUE GA PUNYA PACAR SIALAN! TEMUIN GUE SAMA TEMEN LO ITU SEKARANG JUGA."

*

*

*

[Obsession My Roommate]

*

*

*

END







OBSESSION MY ROOMMATE [Bromance]Stories to obsess over. Discover now