Bagian Awal

53 5 0
                                        

"Sebelum Legenda Mengatur Dunia"

***

     Ada sebuah tempat di mana enam kerajaan besar bertemu, bukan melalui perbatasan, bukan melalui perang, dan bukan pula melalui meja perundingan para kaisar, melainkan melalui sebuah pulau yang berdiri sendirian di tengah lautan luas.

     St. Aubin.

     Pulau itu tidak dimiliki oleh satu kerajaan pun. Tidak ada bendera kekaisaran yang berkibar sebagai tanda kepemilikan, tidak ada pasukan yang berhak mengklaim tanahnya, dan tidak ada seorang pun yang cukup bodoh untuk mencoba menaklukkannya. Di atas tanah itulah berdiri sebuah kota yang jauh lebih besar daripada kebanyakan ibu kota kerajaan, sebuah kota akademi yang dipenuhi menara-menara batu, aula sihir, perpustakaan kuno, arena pertarungan, taman-taman luas, asrama para bangsawan, dan bangunan-bangunan yang usianya bahkan lebih tua daripada beberapa dinasti yang masih berkuasa. Orang-orang menyebutnya dengan berbagai nama, tetapi seluruh benua mengenalnya dengan satu nama: Akademi Kerajaan Primordial.

     Di tempat itu, anak seorang petani dapat berjalan di koridor yang sama dengan putra seorang kaisar. Bangsawan dari Darkmoor dapat duduk dalam satu kelas dengan keturunan kekaisaran tua Vingethon. Seorang penyihir muda dari Solarizon dapat berlatih di arena yang sama dengan seorang pewaris kerajaan Crowndale. Darah, gelar, dan kekayaan masih memiliki arti di luar dinding akademi, tetapi di dalam pulau itu, semua orang tunduk pada satu hukum yang sama, yaitu kekuatan akan menentukan seberapa jauh seseorang mampu berdiri. Karena di dunia ini, sihir bukan sekadar seni untuk menciptakan cahaya, api, petir, atau bayangan. Sihir adalah bahasa yang digunakan manusia untuk memerintah kekuatan yang mengalir di dalam tubuh mereka, sementara kultivasi adalah perjalanan panjang yang menentukan seberapa jauh jiwa mereka mampu menanggung kekuatan tersebut. Mereka yang baru mendengar bisikan inti jiwa mereka akan belajar berjalan sebelum berlari; mereka yang telah menaklukkan elemen akan belajar bagaimana membuat dunia mendengar kehendak mereka. Dan mereka yang mampu mencapai puncak perjalanan itu akan meninggalkan batas manusia, menjadi sesuatu yang bahkan legenda pun kesulitan menjelaskannya.

     Namun Akademi  Kerajaan tidak pernah benar-benar menjadi tempat yang damai.

     Di balik menara-menara putih dan taman-taman indahnya, terdapat politik yang tidak pernah tidur. Enam kerajaan besar mengirimkan anak-anak terbaik mereka bukan hanya untuk belajar, melainkan untuk membentuk aliansi, mengawasi calon musuh, mempertahankan pengaruh, dan memastikan bahwa generasi berikutnya tidak tumbuh menjadi ancaman bagi takhta mereka sendiri. Para bangsawan datang dengan senyum, membawa nama keluarga di belakang mereka seperti pedang yang tersembunyi di balik jubah. Mereka belajar bersama, makan bersama, berlatih bersama, bahkan tertawa bersama. Tetapi setiap persahabatan dapat menjadi aliansi, setiap perselisihan dapat menjadi awal perang, dan setiap kekuatan yang terbangun di dalam akademi dapat suatu hari mengguncang seluruh benua. Sebab enam kerajaan itu mungkin berbagi satu pulau, tetapi mereka tidak pernah benar-benar berbagi kepentingan.

     Dan di antara seluruh mahasiswa yang datang ke pulau itu, terdapat enam nama yang bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di akademi telah dikenal oleh hampir seluruh benua.

     Mereka bukan sekadar mahasiswa. Keberadaan mereka sendiri merupakan simbol dari keseimbangan kekuasaan yang rapuh. Mereka duduk di dalam gedung dewan akademi, dewan yang menjadi jantung politik mahasiswa akademi, dan meskipun gelar mereka membuat sebagian besar siswa menundukkan kepala ketika berpapasan, keenamnya tidak memiliki kesamaan selain satu hal: mereka semua terlalu berbahaya untuk dianggap biasa.

     Di antara mereka terdapat Albertson Sainthe, putra mahkota Vingethon, seorang pria yang selalu mengenakan senyum seolah tidak ada satu pun masalah di dunia yang mampu mengusiknya. Ia memiliki kecerdasan yang tajam dan cara berbicara yang mampu membuat kebohongan terdengar seperti kebenaran. Tidak jauh darinya berdiri Mikael Falassian Porqueen, pewaris Lighthorn, sosok yang dikenal karena kekuatan fisiknya dan naluri melindungi yang membuatnya menjadi salah satu petarung paling dihormati di antara para mahasiswa. William Van Luminous dari Solarizon membawa ketenangan yang berbeda. Ia pendiam, penuh perhitungan, dan mampu melihat sebuah persoalan dari sudut yang bahkan tidak terpikirkan oleh orang lain. Jaden Howler Gregorian dari Crowndale memiliki jiwa kompetitif yang sulit dijinakkan, tetapi di balik kekuatan fisiknya terdapat hati yang jauh lebih lembut daripada yang terlihat. Leonard Charlton Eldwood dari Axallion adalah badai yang diberi tubuh manusia. Ia cerdas, kreatif, berisik, dan terlalu menyukai eksperimen berbahaya untuk kebaikan dirinya sendiri.

     Dan kemudian ada satu nama yang selalu disebut paling terakhir.

     Killian Dominic Thanatos. Putra Mahkota Darkmoor.

     Pewaris dari sebuah kekaisaran yang kekuatannya telah mendominasi peperangan tiga benua pada masa pemerintahan ayahnya, Kaisar Cassian Alexandre Thanatos. Sejak kecil, Killian tidak pernah seperti anak-anak lain. Tidak ada kelembutan yang tumbuh di dalam dirinya, tidak ada dorongan untuk mencari kasih sayang, tidak ada kebutuhan untuk disukai. Hatinya tidak dipenuhi kebencian, karena kebencian pun membutuhkan perasaan. Ia hanya kosong dari hal-hal yang membuat manusia biasa ragu. Karena itulah ia memperoleh julukan yang membuat sebagian orang bahkan enggan menyebut namanya terlalu keras: Sang Tirani.

     Akan tetapi, pada suatu hari, seorang putri muda dari Vingethon akan menginjakkan kakinya di pulau itu.

     Namanya Racquella Anastasia Sainthe.

     Adik perempuan Albertson Sainthe.

     Seorang putri yang jauh berbeda dari kakaknya. Ia membawa cahaya di dalam inti elemennya, tetapi tidak memiliki ambisi sebesar para pewaris takhta yang mengelilinginya. Ia canggung dalam cara yang tidak pernah benar-benar menghilangkan keanggunannya, terlalu jujur untuk menjadi seorang manipulator, dan terlalu baik untuk memahami bahwa tidak semua orang di dunia ini memiliki hati yang sama dengannya. Ia datang ke Akademi Kerajaan untuk belajar, untuk tumbuh, dan untuk menemukan tempatnya sendiri di antara para pewaris kerajaan yang jauh lebih kuat.

     Ia tidak tahu bahwa langkah pertamanya di pulau itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupan seorang putri.

     Ia tidak tahu bahwa di antara dinding akademi terdapat kekuatan politik yang mampu menyalakan api perang antarnegara.

     Karena terkadang, takdir tidak datang dengan suara petir.

     Tidak dengan perang.

     Tidak dengan ramalan.

     Terkadang, takdir hanya dimulai dengan seorang gadis yang membuka pintu akademi untuk pertama kalinya, tanpa mengetahui bahwa dunia di balik pintu itu telah menunggunya jauh sebelum ia lahir.


     Terkadang, takdir hanya dimulai dengan seorang gadis yang membuka pintu akademi untuk pertama kalinya, tanpa mengetahui bahwa dunia di balik pintu itu telah menunggunya jauh sebelum ia lahir

Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.


The Cast

Killian Dominic Thanatos [Ahn Keonho]

Albertson Sainthe [Eom Seonghyeon]

Mikael Falassian Porqueen [Martin J. Edwards]

Jaden Howler Gregorian [Chao Yufan a.k.a James]

William Van Luminous [Kim Juhoon]

Leonard Charlton Eldwood

Racquella Anastasia Sainthe

.
.
.

[Cerita ini adalah karya fiksi fantasi. Nama, karakter, tempat, organisasi, dan peristiwa yang ada di dalamnya merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang yang hidup atau mati, tempat nyata, atau kejadian di dunia nyata adalah murni kebetulan belaka.]

Primordial: Royal AcademiaLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora