Dia Nyata Apa Ilusi 1

12 1 0
                                        

Dia Nyata Apa Ilusi

Karya: Akhsa Jan Ceon

Terima kasih sudah membaca Episode perdana aku ! Semoga kalian suka ?..

Episode 1

Aku masih ingat baunya. Bau tanah basah, rumput kering, dan air sungai yang mengalir tenang di bawah sinar matahari siang. Saat itu aku baru berumur delapan tahun. Ibu mengajakku ke sawah, tempat yang katanya dulu pernah menjadi kawasan penting di masa penjajahan. Jauh di pinggir sawah itu, ada sungai yang airnya jernih tapi arusnya tak pernah terlihat tenang dari permukaannya.

"Kurniawan, jangan terlalu dekat ke tepian!" seru Ibu sambil sibuk merapikan pakaian di pinggir ladang.

Aku mengangguk, tapi kakinya seolah punya pikiran sendiri. Air sungai itu memanggil-manggil. Suaranya mendesing lembut, seolah ada yang berbisik di balik gemuruh aliran air. Aku melangkah satu langkah, dua langkah, sampai ujung sepatuku menyentuh air yang dingin.

Dan tiba-tiba... tanah di bawah kakiku amblas.

Aku terjatuh. Tubuh kecilku langsung disapu arus yang jauh lebih kuat dari yang kulihat. Mulutku terbuka ingin berteriak, tapi air langsung memenuhinya. Aku melihat wajah Ibu yang berubah pucat, berlari ke arahku sambil berteriak memanggil namaku. Tapi suaranya semakin menjauh, tertutup oleh gemuruh air yang menarikku makin dalam, makin jauh.

Semua menjadi gelap. Dingin menyelimuti seluruh tubuhku. Aku pikir itu akhir dari segalanya.

Namun, di tengah kegelapan itu, aku melihat secercah cahaya samar. Bayangan sesuatu yang bergerak di atas permukaan air. Sebuah perahu. Dan di atasnya, berdiri sesosok pemuda yang wajahnya tenang, seolah tak terganggu oleh derasnya arus sungai itu.

Pemuda itu melompat ke arahku. Tangannya yang dingin namun kokoh meraih lenganku, menarikku naik ke atas perahu dengan mudah. Aku terbaring lemah, batuk-batuk mengeluarkan air dari paru-paruku. Mataku menatapnya. Dia tampak berumur sekitar tujuh belas tahun. Wajahnya tampak berbeda dari orang-orang di desaku-kulitnya lebih pucat, hidungnya mancung, matanya tajam namun lembut. Dia mengenakan baju putih dan celana putih yang basah kuyup, tapi air seolah tak menempel lama di tubuhnya.

Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapku dengan pandangan yang sedih namun hangat, seolah aku adalah seseorang yang sudah lama dia tunggu.

"Siapa... siapa namamu?" tanyaku dengan suara parau.

Pemuda itu tersenyum tipis, senyum yang seolah menyimpan ribuan cerita yang tak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Kemudian gelap kembali menyelimuti mataku.

Saat aku membuka mata, aku sudah berada di tempat tidurku di rumah. Langit di luar sudah gelap. Ibu sedang duduk di sampingku, matanya sembab dan merah, seolah baru saja menangis berjam-jam. Ayah berdiri di sudut ruangan, wajahnya masih tampak cemas.

"Kamu sudah sadar!" seru Ibu, langsung memelukku erat. "Kamu sudah di rumah, Nak. Kamu selamat. Saat kami mencarimu di tepi sungai, kamu sudah terbaring di bawah pohon dekat sana. Seluruh desa turun tangan mencarimu, Bu hampir saja tidak kuat karena terlalu panik takut kamu kenapa-kenapa. Tapi syukurlah, Allah masih menyelamatkanmu, Nak."

"Sudahlah Mah, Kurniawan sudah sadar. Lebih baik biarkan dia istirahat dulu, dia baru saja pulih dari koma," potong Ayah lembut. "Nak, istirahatlah ya di kamarmu."

Aku masih diam saja, tak sanggup menjawab. Banyak tetangga yang datang ke rumah sekadar ingin tahu kabarku-semua orang mengira aku tak akan selamat dari tenggelam itu. Akhirnya aku berjalan pelan menuju kamar, ingin menghindari keramaian.

Setelah pintu kamar tertutup, aku menoleh ke jendela. Di bawah sinar bulan yang redup, aku melihat sosok pemuda itu berdiri di kejauhan. Dia hanya diam menatapku, lalu perlahan menghilang seolah terserap ke dalam udara malam.

Dia Nyata Apa Ilusi Stories to obsess over. Discover now