Glen menatap perempuan yang duduk diseberangnya dengan dalam. Jemarinya saling bertaut. Telinganya mendengarkan dengan seksama setiap kata dan kalimat yang keluar dari bibir cantik itu. Matanya sesekali membesar jika ada cerita yang di luar dugaan.
Pelayan datang mengantarkan makanan pesanan mereka berdua. Sepiring spageti bolognes dan steak medium rare.
Asap tipis melayang-layang membawa aroma lezat dari bumbu steak yang meresap daging. Ia bersiap menyantap, tetapi perempuan diseberangnya diam tak mengambil alat makan.
"Kenapa?" tanya Glen.
Hazel-melirik Glen. "Aku tidak nafsu makan."
Glen membuang napas, "kenapa lagi? Kau ini dokter, spesialis lagi. Bisa-bisanya menyiksa diri."
"Diam, bungsu. Kau tidak tahu masalah orang dewasa."
"Dasar makhluk hidup. Usia ku sudah 27 tahun."
Ekspresi Glen masam. Pria dengan potongan rambut mullet scissors fade menendang kaki Hazel di bawah meja.
"Jadi... kenapa tiha-tiba mengajakku keluar?" Hazel memangku dagunya. Wajahnya nampak penasaran dengan alasan Glen mengajaknya keluar. Padahal, biasanya dialah yang memaksa pria intovert itu keluar menikmati udara.
Pisau bergerak memotong steak medium rare, Glen mengunyah steak dengan tenang. Hazel memainkan garpu tanpa mrngalihkan pandangannya dari wajah Glen. Bibirnya yang dilapisi lipstik merah menyunggingkan senyum.
Glen meletakkan pisau dan garpu di sisi kiri piring. Ia mengelap bibirnya dengan serbet sebelum fokus pada perempuan dihadapannya.
"Ayo kita menikah."
Alunan musik terdengar menjauh. Suara para pengunjung yang semula mengisi restoran mewah itu seolah berhenti oleh waktu. Hazel terkejut. Tubuhnya seperti baru saja disengat listrik. Glen meneguk minumannya dengan sedikit kasar.
"Menikah? Kita?" Suara Hazel bergetar.
"Kau tahu kalau aku-"
"Aku tahu, Hazel." Ketenangan Glen mengusik emosi Hazel.
"Kau tahu? Lalu kenapa... lalu kenapa kau melamarku?!" desis Hazel menahan suaranya untuk tak meninggi.
Glen menghela napas, "aku tahu kau membenci pernikahan; membenci cinta. Aku hanya ingin melindungi, mu."
Di balik sarung tangan hitam yang Hazel kenakan, telapak tangannya basah karena keringat. Perempuan itu melepas kacamata, memijat batang hidungnya. Tampilan mengkilap steak sama sekali tak menggugah seleranya. Ditambah, kenyataan bahwa Glen-sahabat dari kecilnya melamarnya-tidak, mengajaknya menikah.
"Melindungi dari apa? Kau tahu aku lebih kuat dari mu, kan? Seonggok manusia-manusia itu tidak akan bisa menyentuhku," angkuhnya sambil menyeringai.
"Aku tahu, tapi kau sangat rentan pada emosi. Tampak membutuhkan seseorang," sahut Glen.
"Glen Heir-"
"Hazel Morone... aku mencintaimu. Aku tidak membayangkan kau harus bersanding dengan orang lain."
~END~
••-Ikan_salmon
