Ada kalimat yang seharusnya kuucapkan lebih cepat.
Bukan kalimat besar. Bukan pengakuan yang mampu mengubah dunia. Bukan juga janji yang akan membuat semua orang berhenti pergi.
Hanya satu kalimat sederhana.
Tapi aku menahannya terlalu lama.
Dulu, aku selalu mengira diam adalah cara paling aman untuk menjaga keadaan. Kalau aku tidak bicara, tidak akan ada yang tersinggung. Kalau aku tidak memilih, tidak akan ada yang merasa ditinggalkan. Kalau aku tidak meminta, tidak akan ada yang merasa terbebani.
Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi anak baik berarti tidak membuat masalah. Menjadi teman baik berarti membantu tanpa diminta. Menjadi seseorang yang bisa diandalkan berarti menahan lelah sendiri dan tetap terlihat mampu.
Maka aku belajar menyimpan banyak hal.
Aku menyimpan kecewa ketika Bapak hanya berkata, "sedikit lagi," setelah aku membawa pulang nilai yang sebenarnya sudah baik.
Aku menyimpan iri ketika melihat Alen bisa salah, bisa marah, bisa pulang dengan wajah kusut, lalu tetap diterima sebagai anak yang masih belajar.
Aku menyimpan sakit ketika teman-teman datang hanya saat mereka membutuhkan jawabanku, bukan kehadiranku.
Aku menyimpan takut ketika seseorang mulai melihatku lebih jauh dari yang ingin kutunjukkan.
Dan yang paling lama kusimpan adalah kalimat-kalimat untuk Nara.
Nara bukan orang pertama yang masuk ke hidupku. Tapi ia adalah orang pertama yang membuat diamku tidak lagi terasa aman.
Ia tidak selalu lembut. Tidak selalu sabar. Tidak selalu benar. Kadang caranya bicara terlalu tajam. Kadang ia menyentuh bagian yang belum siap kuakui. Kadang ia membuatku ingin menjauh karena di dekatnya, aku tidak bisa sepenuhnya berpura-pura baik-baik saja.
Namun justru karena itu, aku mulai berubah.
Bukan perubahan besar yang bisa dilihat semua orang. Bukan perubahan yang membuatku mendadak berani, terbuka, atau mudah mengatakan isi hati.
Aku tetap aku. Masih sering ragu. Masih sering terlambat bicara. Masih sering merasa lebih baik menahan sesuatu daripada membuat keadaan menjadi sulit.
Aku tidak berubah karena satu orang datang dan menyelamatkanku. Tidak ada yang sesederhana itu. Aku berubah karena beberapa orang tetap tinggal cukup lama untuk membuatku melihat kebiasaanku sendiri: Raka dengan tawa yang kadang menutup lelah, Sera dengan tenang yang ternyata punya batas, Alen dengan komentar yang sering lebih jujur daripada yang kuharapkan, dan Nara dengan cara bicaranya yang membuatku tidak bisa terus bersembunyi di balik jawaban aman.
Tapi sejak mengenalnya, aku mulai paham bahwa diam tidak selalu berarti menjaga.
Kadang diam adalah cara paling halus untuk membiarkan seseorang berdiri sendirian.
Aku baru benar-benar mengerti itu ketika semuanya hampir terlambat. Ketika Nara menatapku bukan dengan marah, tetapi dengan kecewa. Ketika Raka berhenti bercanda karena tahu kali ini lelucon tidak cukup untuk menutup suasana. Ketika Sera tidak lagi berusaha menengahi, karena mungkin ia juga lelah menyelamatkan kami dari hal-hal yang seharusnya kami berani hadapi sendiri.
Orang-orang sering berkata bahwa jika sesuatu memang ditakdirkan, ia akan menemukan jalannya sendiri.
Dulu aku percaya itu.
Sekarang aku tahu, takdir mungkin membawa seseorang ke hidup kita. Namun setelah itu, tetap ada pilihan-pilihan kecil yang harus kita ambil.
Menjawab atau membiarkan pesan terbaca. Bertanya atau pura-pura tidak melihat. Bertahan atau pergi. Bicara atau diam.
Dan aku terlalu sering memilih diam.
Jadi jika suatu hari cerita ini terdengar seperti penyesalan, jangan salahkan takdir.
Salahkan aku, yang terlalu lama takut untuk bicara.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Jangan Salahkan Takdir
RomantikLavdi adalah anak yang terlalu sering memilih diam. Ia pikir, selama ia tidak bicara, tidak akan ada yang terluka. Selama ia membantu, ia akan tetap dibutuhkan. Selama ia tidak memilih, tidak akan ada yang merasa ditinggalkan. Lalu Nara datang. Pere...
