Bersama selama hampir sepuluh tahun ternyata tidak menjamin hubungan Alisya dan Daren jadi saling terbuka.
Alisya pandai menyembunyikan perasaan cintanya di balik status persahabatan mereka. Sementara Daren pandai menyembunyikan masalah yang sedang...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Motor ninja biru berhenti di depan gerbang rumah dengan cat dinding dominan warna putih dan abu-abu.
Sosok gadis berambut panjang yang dibiarkan tergerai lurus melangkah turun. Senyuman manis masih terukir di wajahnya yang lebih terlihat imut.
Ia mengangkat tangan sebelah kanan. Sebuah gelang rantai minimalis lengkap dengan liontin berbentuk hati yang terbuat dari perak melingkar cantik di pergelangannya.
Sepertinya benda itu alasan ia selalu tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Terlihat dari manik mata yang berbinar menatap gelang perak itu.
"Cantik banget gelangnya, Ren. Makasih ya."
Cowok berbadan tinggi yang masih duduk di atas motornya itu terkekeh pelan. "Kamu udah bilang gitu seribu kali."
"Ya karna ini beneran cantik." Pandangan Alisya benar-benar tidak bisa lepas dari gelang liontin yang melingkar di pergelangan tangannya.
Bahkan ribuan bintang di atas langit malam itu tidak lebih menarik dari benda itu.
"Aku cuma beliin kamu gelang perak, tapi respon kamu udah kayak dibeliin kapal pesiar tau nggak," cetus Daren.
Sontak Alisya mendelik. Mendekap gelang liontin di pergelangan tangannya ke dada. "Jangan bilang cuma, ini tuh spesial banget buat aku," sanggahnya tidak terima.
Mendengar itu Daren jadi tertawa lucu. Dalam hati jelas ia merasa sangat senang. Karena benda sederhana yang ia belikan ternyata bisa membuat Alisya sangat senang sampai tidak bisa berhenti tersenyum. Alisya juga menganggap gelang pemberiannya spesial.
Kebahagiaan yang cukup membuatnya tidur nyenyak malam ini.
"Aku ikut seneng kalo kamu suka sama gelangnya," ujar Daren. "Kamu pakai terus ya, jangan sampai dilepas," titahnya.
Alisya mengangguk cepat. "Iya dong. Kan ini kamu yang beliin," balasnya. "Tanda persahabatan kita yang udah mau sepuluh tahun."
Ada yang berbeda dengan senyuman Alisya saat mengatakan itu. Seperti ketidak relaan kalimat itu terucap oleh bibirnya. Karena di lubuk hatinya yang terdalam, ia punya harapan. Harapan yang hanya ia simpan sendiri.
Salahkah, kalau setelah ini ia harap hubungan itu bukan sekadar persahabatan? Bisiknya bertanya dalam hati.
"Udah malem, masuk sana!" titah Daren yang berhasil menyadarkan Alisya dari lamunan.
"Kamu duluan aja yang masuk rumah, aku lihatin," ujar Alisya. Menunjuk rumah ber-cat dinding warna krem di seberang jalan.
"Aku bukan anak kecil, Sya. Nggak perlu kamu lihatin," pungkas Daren. "Kamu masuk sekarang, nanti masuk angin."