Dilarang Plagiat Karya Ini!!
Zane Kusomo (19), bagi orang awam ia hanyalah pemuda biasa yang terlalu terobsesi dengan dongeng, legenda, mitos dan monster. Kenyataannya, ia bekerja sebagai seorang pemulih manuskrip arkaik yang mendedikasikan waktunya...
Tahun 1999, berdiri sebuah korporasi misterius bernama Perusahaan Myth. Di permukaan, bisnis mereka tampak biasa dan berjalan normal layaknya perusahaan pada umumnya. Namun, ada satu rahasia kelam yang tidak pernah disadari oleh masyarakat urban di luar sana; sebuah rahasia yang terkunci rapat di balik dinding-dinding betonnya.
Senin, 7 Januari 1999.
Rintik hujan membasahi bumi, menyebarkan aroma tanah basah yang dingin. Suasana malam itu terasa mencekam dan sunyi, memaksa warga kota untuk meringkuk di dalam rumah dan enggan beraktivitas di luar.
Di salah satu sudut ruang kerja kantor yang remang, Aska (23), seorang pegawai rendahan Perusahaan Myth, masih tertahan di kursinya.
"Sial, mengapa aku harus lembur lagi sampai jam segini," gerutu Aska.
Ctak... ctak... ctak...
Bunyi ketikan papan tik bergema memecah keheningan ruangan.
"Sebenarnya aku malas, tetapi mau bagaimana lagi. Bonus lemburan ini sangat aku butuhkan sekarang," keluh Aska sembari menggerakkan jemarinya dengan cekatan demi menyelesaikan laporan yang menumpuk.
Kring... Kring...
Keheningan itu pecah oleh dering nyaring telepon kabel di mejanya. Dengan ragu, Aska meraih gagang telepon tersebut.
"Halo, Perusahaan Myth, ada yang bisa dibantu?"
Keheningan statis menyambutnya di seberang baris telepon.
"Halo?" Aska memastikan.
Tut... tut... tut...
Sambungan terputus seketika. Aska mengernyit sejenak, menatap gagang telepon dengan dahi berkerut sebelum mengembalikannya ke tempat semula.
"Aneh sekali. Apa mungkin hanya orang iseng?" gumamnya. "Lebih baik aku bergegas menyelesaikan pekerjaan ini."
Detik jam dinding terus merayap di dalam kesunyian malam yang kian larut. Ketika Aska akhirnya menyandarkan punggung dengan helaan napas lega, jarum jam telah menunjuk tepat ke angka 03.00 dini hari. Tanpa membuang waktu, ia segera mengemas barang-barangnya untuk pulang.
"Haaah, akhirnya selesai juga. Setidaknya jerih payahku terbayar sepadan," ucapnya menenangkan diri sendiri.
Di luar gedung, hujan telah reda, meninggalkan aspal yang basah dan udara yang menusuk tulang. Karena transportasi umum sudah berhenti beroperasi pada jam itu, Aska terpaksa melangkah membelah malam dengan berjalan kaki.
Namun, baru beberapa langkah melewati gerbang besi kantor, langkahnya mendadak terkunci.
Di kegelapan jalan di depannya, sebuah siluet hitam pekat bergerak samar. Naluri bertahan hidupnya mendadak menjerit, memaksa Aska langsung merunduk dan bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak jalan.
"Makhluk apa itu? Apa mataku sudah mulai berhalusinasi karena kelelahan?" bisik Aska dalam hati, jantungnya mulai berdetak cepat.
Belum sempat rasa herannya terjawab, dari arah berlawanan, muncul seorang pria asing dengan jas kecoklatan. Ia tidak sendiri; beberapa orang bersenjata berbaris tegap di belakangnya. Kelompok misterius itu mendadak berhenti tepat beberapa meter di depan siluet hitam tadi.
"Lapor, Kapten. Target telah terdeteksi. Rakshasa-04, dipastikan ini adalah anomali tingkat 4," bisik salah satu personel melalui radio komunikasi mereka.
Pria yang dipanggil Kapten itu menatap lurus ke depan dengan tatapan sedingin es.
"Tangkap dan kurung makhluk itu. Lakukan sesuai dengan aturan dan protokol tingkat 4."
Aska yang mengintip dari balik dedaunan membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Apa-apaan ini? Ini bukan ilusi... ini nyata," batin Aska didera kebingungan sekaligus kengerian yang teramat sangat.
Didorong oleh rasa penasaran yang mengalahkan akal sehatnya, Aska mencoba menggeser tubuh, berusaha mengamati lebih dekat jalannya penyergapan itu.
Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip, wujud makhluk itu akhirnya terekspos. Sosok bertubuh raksasa setinggi tiga meter dengan sepasang mata merah menyala yang mengerikan. Seluruh badannya dilapisi bulu lebat layaknya binatang buas, dengan ekor sepanjang dua meter yang menyapu permukaan aspal.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Makhluk itu sangat tidak masuk akal, menyerupai monster dalam dongeng purba yang sering ia dengar, namun terasa begitu nyata di depan mata.
Sialnya, pergerakan kecil Aska di semak-semak memicu malapetaka. Kepala berbulu itu mendadak berputar cepat, mengarahkan sepasang mata merahnya tepat ke titik persembunyian Aska.
Deg.
Pandangan Aska seketika menggelap, seolah seluruh kesadarannya direnggut paksa dalam satu kedipan mata.
Ketika kesunyian kembali menguasai jalanan sepi itu, Aska telah lenyap. Yang tersisa di balik semak-semak hanyalah kartu Identitasnya. . . .
Keesokan paginya, sebuah selembar kertas putih ditempel secara resmi di papan pengumuman kantor Perusahaan Myth:
ASKA (23 TH). STATUS: MENGHILANG.
Berita ini langsung menyebar di koridor kantor. Sebagian rekan kerja bergosip sinis, menuduh Aska membawa kabur aset perusahaan atau terjerat masalah kriminal. Sementara itu, bagi beberapa karyawan yang mencium kejanggalan dan mengaitkannya dengan hal supranatural, suara mereka langsung dibungkam dan dianggap sebagai takhayul fiktif belaka.
Adapun, kelompok yang tahu lebih banyak memilih untuk diam membisu demi keselamatan mereka sendiri.
Di saat yang sama, jauh di dalam ruang bawah tanah gedung yang terisolasi, sang pria misterius semalam tampak tenang melipat sebuah map tebal berbahan kulit.
Di bagian sampul depannya, tertera cap merah yang tegas: