We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

CHAPTER I : LANGIT

5 0 0
                                        

"Oke semuanya, kerja bagus hari ini!"

Suara sopran sang fotografer menggema di seluruh penjuru studio yang ramai itu. Staf mulai sibuk berjalan ke sana kemari. Merapikan set, memadamkan lampu flash, dan mendorong standing hanger kembali ke ruang ganti.

Sang model melangkah dengan anggun menjauhi lampu sorot yang kini dipadamkan.

"Makasih ya, kak."

"Kerja bagus, pertahankan terus, ya ..."

"Sampai jumpa di pemotretan dua Minggu lagi, kak. Semangat."

Wanita itu tersenyum, membalas setiap sapaan mereka dengan suara lembut dan rendah. Suara heels-nya berpadu dengan langkah kaki para staf yang lalu lalang. Menimbulkan detak ritmis di lantai studio. Ia berpapasan dengan dua orang staf di ambang pintu ruang gantinya, kembali melempar senyum yang sama, lalu menutup pintu perlahan setelah masuk. Duduk di depan meja rias, wanita itu menatap cermin dan menghela napas lelah.

"You did a good job again, Langit," ujung bibirnya sedikit naik meski gurat wajahnya tampak begitu lelah.

Namun senyum itu tak bertahan lama. Lenyap sama cepat dengan kemunculannya. Langit memiringkan kepalanya sedikit. Meringis pelan tiap terdengar suara 'krek' pelan dari sendinya yang kelelahan. Begitu pula dengan sendi siku dan jarinya. Kebiasaan buruk, tapi refleks dilakukan.

Langit baru saja hendak menghapus riasan saat smartphone-nya bergetar disertai dentingan. Sebuah tanda bahwa ada pesan yang masuk. Ia meletakkan kapas kembali ke dalam bungkusnya, lalu menutup botol micellar water.

"Semoga aja bukan kerjaan, deh. Jujur gue capek."

Langit terkekeh pelan. Meraih smartphone-nya dan mengusap layarnya untuk membuka kunci. Ternyata, pesan itu bukan dari salah satu brand skincare ataupun pakaian. Tapi dari mamanya. Karena penasaran, Langit lantas menekan notifikasi yang langsung membawanya ke room chat WhatsApp.

✉️ Mama guwa
---------
[19.15]
Langit, kamu udah selesai pemotretannya?
Mama jemput, ya? Makan malam bareng kita ... :3

Langit memutar bola matanya. Bibirnya kembali menyunggingkan senyuman tipis. Ia tahu mamanya selalu ingin tahu kegiatan yang dilakukannya. Tapi kalau mama sudah mengajaknya makan malam, berarti kemungkinannya cuma satu.

Mama punya calon baru untuknya.

Layar smartphone-nya meredup pelan. Langit mendengus pelan. Bukan dengusan kesal, melainkan karena ia kagum pada kegigihan mamanya itu. Tangan gemulainya mulai mengetik balasan:

✉️ Sky
---------
[19.19]
Udah kok, ma. Langit lagi mau bersihin make up.
Kalo mama mau jemput, yaudah. Langit tunggu di lobi nanti.

✉️ Mama guwa
---------
[19.23]
Oke, sayang.
Mama bentar lagi otewe, yaw. Wop you, kitten.

Tawa kecil lepas dari bibir Langit. Ia meletakkan smartphone-nya di atas meja rias lalu mulai membersihkan riasannya.

-- ✨ --

Tiga puluh menit kemudian, Langit keluar dari ruang ganti. Meski ia baru saja melakukan pemotretan yang padat selama berjam-jam, penampilannya masih sangat rapi. Kemeja satin berwarna mint lembut yang dikenakannya tampak berkilau di bawah cahaya lampu studio. Dipadu dengan celana bahan berpotongan lebar berwarna beige dan sepasang heels nude membuatnya tampil sederhana namun elegan.

Ia menekan tombol lift. Kemudian berdiri di sisi pintu sambil menatap smartphone-nya. Ia bisa merasakan tatapan staf yang lalu lalang di belakangnya. Beberapa staf bahkan kembali menyapanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 28 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Langit SamudraStories to obsess over. Discover now