SOH - 1

10.7K 239 3
                                        

Suara merdu dari seorang wedding singer memenuhi area ballroom dengan dekorasi berwarna netral putih dan krem itu. Aroma khas pesta pernikahan memenuhi rongga hidungnya. Entahlah, acara-acara seperti ini membawa aroma tersendiri. Giska melangkahkan kakinya di red carpet menuju pelaminan.

Warna pakaiannya hampir sama dengan bridesmaid acara pernikahan itu. Ralat. Bukan hampir sama, tetapi Giska seharusnya memang menjadi bridesmaid di pernikahan sahabatnya, Ria. Namun, lihatlah dirinya sekarang, pukul sebelas baru menampakkan diri di sana. Di saat teman-temannya menemani pengantin sejak menjelang akad, dirinya harus berpuas diri datang sebagai tamu biasa.

Itu karena ia harus mengantarkan dokumen penting ke rumah sang atasan. Semalam, ia mendapat pesan untuk mengambil berkas, karena ada meeting dadakan malam ini dan mengantarkannya pagi-pagi sekali. Sungguh, di akhir pekan seperti ini, ia masih harus disibukkan dengan pekerjaan dadakan.

"Gis, gue lihat-lihat hidup lo repot banget, deh. Weekend masih diteror bos, pulang kerja selalu paling akhir. Lo gak ngerasa burn out siklus hidup lo yang begitu-begitu terus?" tanya Tiwi, salah satu sahabatnya.

Giska diam sejenak. Jika dipikir-pikir, ia juga jarang punya waktu untuk dirinya sendiri. Namun, ia selalu membuat jadwal untuk dirinya sendiri jika senggang, sehingga tidak terlalu terbebani.

"Karena udah terbiasa, gue biasa aja. Jenuh sesekali mah wajar, lah. Namanya juga orang kerja." Giska menjawab santai.

Tiga sahabatnya hanya saling berpandangan mendengar jawaban yang terlampau lugas dari wanita berusia dua puluh delapan tahun itu.

"Saking terbiasanya, lo kalau kita ajak hangout jawabnya udah kita hafal. Duh, sori, nih. Gue ada meeting dadakan atau gue harus nemenin Pak Bara ke acara ini." Manda menimpali dengan nada bergurau sampai mereka tertawa.

"Lo terlalu mencintai pekerjaan lo, Gis. Sampe-sampe kita gak pernah lagi denger lo curhat soal cowok. Padahal, zaman kuliah, lo tuh paling rajin dideketin cowok. Tapi sekarang malah yang paling betah ngejomblo," tambah Yuna.

Senyum Giska perlahan memudar. Ia sampai lupa kapan terakhir punya pacar. Saat menjadi staf biasa, jam kerjanya normal, pulang pun bisa tenggo. Bisa hangout bersama temannya, bisa mengobrol banyak hal dengan mereka. Namun sekarang, hal-hal sekecil itu sudah susah didapatkan. Meski masih bisa sesekali berkumpul, tetapi tidak sesering dulu.

"Mau gue kenalin sama temen gue gak, Gis? Dia anak BUMN. Satu kantor sama gue." Tiwi menawarkan. "Waktu itu, dia pernah lihat lo jalan sama gue. Baru kemarin dia ngomong ke gue kalau dia tertarik sama lo."

Giska tertegun. Sebenarnya, ia punya keinginan untuk berkenalan dengan seorang pria. Namun, kalau dipikirkan lagi, repot sekali. "Kayaknya lain kali aja, deh. Gue belum terbiasa di posisi gue sekarang harus punya pacar atau deket sama cowok," tolak Giska. "Ngurusin Pak Dirut aja gue udah pusing. Mending kalau cowoknya ngerti posisi kerjaan gue, kalau nggak? Yang ada malah berantem tiap hari. Gue udah capek ngurusin mood orang tiap hari, ditambah harus berantem sama cowok gue yang gak ngerti sama kerjaan. Habis dong energi gue."

Tiwi mengangguk paham. "Iya juga, sih. Gue sedikit ngerti sama posisi lo sekarang."

Lebih baik, ia mengurungkan keinginan untuk menjalin asmara dengan siapa pun dan lebih baik fokus pada kariernya.

Setelah mengobrol cukup banyak bersama teman-teman dan berbincang sebentar dengan Ria, ia berjalan menuju stan prasmanan untuk mengambil dessert. Saat sedang memilih puding buah, suara yang begitu ia kenal memanggilnya.

"Giska?"

Ia sempat terhenyak, lalu segera menoleh. Mulutnya sedikit terbuka saat melihat sosok tinggi berpakaian jas formal dengan tangan yang memegang cup gelato.

Standard Operating Heartbreak [END]Stories to obsess over. Discover now