Bagian 1

104 23 8
                                        

Belum Dimulai, Tapi Sudah Selesai Duluan (Sepertinya)

•••

“Halo, dengan Senja dari Ruang Venus. Ada yang bisa dibantu?”

“Halo, Kak. Imel dari admission. Mau booking kamar buat laki-laki dewasa. Ada?”

Ah, sial. Pasien baru lagi.

Senja menghela napas panjang. Telepon ke sekian kali dari admisi. Seluruhnya sama. Sama-sama ingin memasukkan pasien baru. Padahal, hari ini Senja sedang tidak bersemangat untuk bekerja. Rambut panjang yang seharusnya dicepol malah diikat asal. Nurse on duty sore ini sudah menceramahi, namun Senja memilih untuk tidak acuh. Setelahnya, mungkin kepala ruangan yang akan mengamuk

“Ada di ruang 201, Kak,” jawab Senja pada akhirnya, tentu saja ogah-ogahan. Padahal, hari ini Senja sudah menyemprotkan parfum cukup banyak ke tubuhnya, hitung-hitung agar dinasnya kali ini wangi.

“Boleh, deh, Kak. Di sana aja. Atas nama Tuan—"

Ada banyak hal yang membuat Senja tidak bersemangat untuk bekerja hari ini. Pertama, hari ini adalah hari Minggu. Ada banyak pasien elektif yang masuk untuk rawat inap untuk dilakukan tindakan operasi keesokan harinya. Sudah ada lima pasien bukan elektif dan rencananya akan ada lima lagi yang masuk. Berarti, Senja harus menerima sepuluh pasien—bahkan bisa lebih—sore hari ini. Orang-orang seharusnya menikmati akhir pekan, namun malah ke rumah sakit.

Alasan kedua ... Senja tidak ingin bertemu dengan Ghifar, perawat instalasi gawat darurat yang bertugas mengantar pasien sore hari ini. Sudah lima kali dan Senja tidak banyak bicara ketika melakukan handover dengannya.

Namun, menolak pasien adalah suatu kejahatan. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, Senja harus merelakan diri bangkit dan mengambil linen di tempat penyimpanan. Ia mungkin bisa menyuruh anggota timnya, tetapi tiga orang lagi sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

“Pasien dokter Kiran dengan observasi chest pain, HT emergensi, jaminan asuransi kelas satu. Terima kasih, ya, Kak.”

Senja tidak menjawab sama sekali. Tangan kanan yang awalnya memegang pulpen, ia lemparkan begitu saja ke atas meja. Helaan napas berat terdengar saat ia mendorong kursi ke belakang. Tubuh Senja yang hampir dehidrasi bangkit, melangkah dengan lunglai ke tempat penyimpanan linen. Ia bahkan lupa dengan niatnya untuk ke toilet dan sejenak melupakan masalah pekerjaan.

Suara bel yang lagi-lagi terdengar membuat Senja berdecak keras. Ia ingin menangis, tetapi rasanya tidak masuk akal jika ia menangis karena pekerjaan. Jadi, Senja memilih diam, mengumpat dalam hati.

Setelah ini, Senja mungkin harus kembali menyusun kata-kata untuk surat pengunduran dirinya.

•••

Senja seharusnya pergi dari sana tepat setelah sepuluh menit instalasi gawat darurat menelepon. Denting lembut dari lift terdengar. Sepersekian detik kemudian, pintunya terbuka. Menampilkan sosok laki-laki dengan scrub merah dan brankar di sebelahnya. Laki-laki itu tersenyum, sebelum menarik brankar ke luar lift. Hampir saja Senja bangkit, seandainya ia tidak bertatap mata dengan laki-laki tersebut.

“Kakak, mau ke mana? Operan dulu!” Laki-laki itu berucap cepat. membuka pintu kamar yang berada tepat di sebelah nurse station. Tidak butuh waktu lama sampai laki-laki itu selesai melakukan tugasnya di dalam kamar, ia keluar, menarik tangan Senja yang sudah berniat kabur sejak tadi.

Teruntuk, Senja ....Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang