Inspired by : Ariana Grande - we can't be friends (wait for your love)
---
Malam hari itu, angin bertiup begitu kencang. Saskia khawatir karena suaminya, Sebastian belum kunjung pulang. Sebenarnya, Saskia sudah kebal dengan tabiat suaminya yang pulang begitu larut. Namun entah mengapa, malam ini terasa berbeda dan mencekam.
Jam sudah menunjukkan pukul 11. Baru saja Saskia ingin beranjak ke kamar tidur, pintu rumah itu terbuka. Terpampanglah wajah merah Sebastian dengan bau alkohol yang sangat menyengat. Saskia yang sudah terbiasa langsung memapah dan membaringkannya ke atas sofa.
"Dasar istri ga tau diri, kenapa sih selalu gaada waktu untuk suaminya"
"Saskia pemarah!"
Saskia hanya menatapnya dalam, lalu pergi. Kata-kata itu sudah berkali-kali menusuk dirinya, sehingga itu tidak mempan lagi untuk membuatnya terjaga sepanjang malam.
Jam 5 pagi Saskia terbangun dari tidurnya karena haus. Air minum di kamarnya lupa diisi. Mau tidak mau, Saskia melangkah ke dapur untuk melepas dahaganya. Di meja makan, Saskia melihat suaminya sedang bermain game di smartphone-nya. Tampangnya terlihat begitu serius dan penuh perjuangan. Hal itu membuat satu kalimat terlintas di pikiran Saskia.
'Andai kamu masih memperjuangkan hubungan kita seperti itu ya, mas'
Saskia meneguk air dalam gelas kesayangannya, lalu terdengar suara "VICTORY!" dari game yang dimainkan suaminya. Ia pun duduk di meja makan persis di depannya dan memulai percakapan sebelum suaminya kembali sibuk dengan permainannya.
"Mas?"
"hn"
"Aku mau ngomong sesuatu"
"Ngomong aja lah"
"Kita pisah aja ya, mas"
"Yaudah, terserah kamu aja deh"
Saskia hanya diam dan bangkit dari kursinya. Ia melangkah menuju kamarnya untuk tidur kembali, karena ini adalah hari minggu.
"Kamu tuh aneh banget, ya. Aku tuh ga minta apa-apa loh, Sas. Aku cuman butuh waktu kamu bareng aku. Dari Senin sampai Sabtu, kamu kerja terus. Udah gitu, kalo minggu atau libur pasti aja ngacir keluar. Ntah ke mall lah, kegiatan volunteer lah. Untuk apa lagi dipertahankan hubungan ini, kan?"
Saskia menoleh ke arah suaminya. Tampaknya niat Saskia untuk tidak memberikan penjelasan, roboh begitu saja.
"Mas, aku kerja buat kita loh. Mas, bukannya aku selalu pakai cuti tahunan untuk temenin mas jalan-jalan keluar kota? Itu tidak cukup kah, mas? Kamu tau kan seberapa susahnya aku mengambil cuti hanya untuk meluangkan waktu denganmu? Kalau untuk weekend, aku juga butuh bersosial, mas! Bahkan aku jarang pulang ke rumah orang tua, karena sebagian besar waktunya aku usahakan buat mas!"
"Oh, jadi terpaksa ya sama masnya? Gue juga ga butuh duit kerja lo! Bisa-bisa aja gue hidup sederhana. Lo yang gak kuat kan, Sas?" ucap Sebastian sambil senyum menyindir.
Saskia yang tak kuasa menahan tangisnya hanya bisa menatap suaminya itu dengan mata berkaca-kaca,
"MAS GA PERNAH BERUSAHA NGERTIIN AKU. KITA CERAI."
Kata-kata itu dilontarkan begitu saja oleh Saskia, lalu berlari menuju kamarnya. Sebenarnya, ia masih sangat mencintai Sebastian. Semenjak 5 tahun lalu, suaminya itu berubah sikap karena berbagai masalah berat yang menghampirinya. Bisnis besar miliknya bangkrut, aset disita, orang tua dipenjara seumur hidup, dan adiknya yang menjadi penyebab kekacauan bisa melarikan diri entah kemana. Walau begitu, Saskia setia menemani, tetap menyokongnya, dan berusaha mengerti luka suaminya.
Sebastian belum bisa selesai dengan dirinya, padahal Saskia tidak pernah sekalipun menuntutnya kembali bekerja, apalagi kembali ke masa jayanya. Sebastian juga menolak dengan keras ajakan Saskia menemui psikiater profesional untuk menangani traumanya. Akhirnya, Saskia merasa tidak diperhatikan lagi oleh Sebastian. Dia tidak tahu bagaimana lagi untuk membangkitkan kembali semangat hidup suaminya. Saskia memutuskan untuk bekerja agar dapat menghidupi mereka berdua lebih layak. Jika hanya menunggu Sebastian, simpanan uang mereka lama kelamaan juga bisa habis, kan?
Saskia yang tidak pernah merasakan hidup dibawah senior kantoran, mengalami banyak hal menyakitkan selama bekerja. Namun, demi menyediakan hidup yang layak untuk Sebastian dan dirinya, ia rela mencari kerja mati-matian di umur 30, yang dimana sudah sedikit perusahaan yang mau menerima dirinya. Saskia juga tidak pernah bekerja sebelumnya. Setelah tamat SMA, ia dijodohkan oleh ayahnya dengan Sebastian, berpacaran selama 2 tahun, dan akhirnya menikah sampai sekarang.
Saskia enggan menceritakan keluh kesahnya lagi kepada Sebastian, karena suaminya tampak stress berat dan mulai tempramental ketika mendengar cerita tentang hari-harinya yang berat. Akhirnya, Saskia selalu memendam semuanya sendiri, sampai Sebastian mengeluh jujur dengan istrinya yang terus bekerja dan jarang menemaninya. Saskia yang botol emosinya sudah penuh, kerap meledak-ledak menanggapi Sebastian. Hubungan keduanya semakin runyam. Sampai hari inilah, Saskia memutuskan untuk menceraikan Sebastian.
"Dulu, kamu tuh tidak begitu loh, mas" ucap Saskia lirih sambil melihat foto kenangan dirinya Sebastian yang dulu.
"Dulu, kamu tulus sekali. Rela temani aku yang sakit, dengerin cerita-cerita aku, selalu saling support dan mengerti, sampai meyakinkan mama ku untuk merestui penuh pernikahan kita"
"Tapi itu dulu, sekarang sudah berbeda ya, mas. Semenjak kejadian itu, kita memang selalu bersama melihat berita onar di media tentang bangkrutnya bisnis besarmu, hancurnya keluargamu, dan kepura- puraan kita yang tetap memiliki rumah tangga yang harmonis di depan publik. Sekarang sudah berakhir."
"Dan jika kamu sendiri tidak ingin dibantu untuk pulih, aku juga tidak bisa apa-apa, mas. Aku hanya bisa menyelamatkan diriku sebelum aku kehilangan diriku sendiri. Sudah 5 tahun aku menunggumu cintamu, mas. Maafkan aku"
YOU ARE READING
Every Heart Has a Playlist
Romance(ongoing) Every song, every lyrics, every melody tells us different story of love. Setiap lagu, setiap lirik menyampaikan cerita cinta yang berbeda. Note : Setiap chapter pada buku ini tidak berkesinambungan satu dengan yang lain.
