Bagian I 35

140 25 4
                                        

Mungkin ini terhitung yang ke sepuluh kali, atau lima belas kali? Altair tak tahu pasti, tapi ia benar-benar tidak bisa tidur walaupun sangat ingin. Seprei kasurnya sudah kusut tak berbentuk, gulingnya saja sudah tergeletak di lantai. Berganti posisi bahkan tidak berhasil membuatnya terlelap.

Menyerah untuk tidur, akhirnya ia putuskan untuk membuka buku paket secara acak dan mengerjakan soal-soal di sana. Altair benar-benar tenggelam dalam kegiatannya sampai suara derit pintu memaksanya untuk menoleh dan didapatinya sang papa sudah berdiri di sana.

"Jam berapa ini Altair?" Bastian menghampiri putranya yang nyaris menjadi salinan dirinya semasa muda.

Altair menggumam rendah, "lagi enggak bisa tidur aja, Pa." Jawab Altair, "Papa juga belum tidur jam segini?"

Bastian menepatkan diri di ranjang Altair yang nampak lebih manusiawi sebab sudah ia rapikan sebelumnya. "Papa harus cek beberapa kerjaan dulu."

"Jangan lembur mulu, kasihan mama tidur sendirian terus."

Bastian mendengkus pelan, "mangkanya papa lembur biar cepat selesai. Jadi besok bisa kelonan sama mama sepuasnya."

Sontak celetukan itu mendapat lirikan tajam dari Altair.

"Tenang, kamu tetap jadi bontot kesayangannya mama. Papa main aman." Bastian segera memberikan klarifikasi seolah mengerti arti tatapan anaknya tersebut.

"Enggak ada yang nanya juga."

"Loh, dari tatapanmu Papa udah tau isi kepala kamu."

"Isi kepala aku lagi nyuruh papa berhenti ngomong." Kepala Altair menggelen pelan, "umur udah kepala empat, kelakuan masih begitu. Jangan kebanyakan atraksi nanti encok."

"Kepala empat, istri satu. Alhamdulillah."

Tidak ada sahutan dari Altair.

"Kok malah diam?"

"Nyesel ngomong sama papa." Kata Altair, namun matanya sama sekali tidak beralih dari buku paketnya. Enggan menatap sang papa yang kadang-kadang jalan pikirannya sulit untuk ia tebak.

"Yah... enggak seru dia. Mangkanya punya pacar."

"Biar bisa kelonan?"

"Mulutmu papa lindes!"Bastian menendang kursi Altair sampai berderit.

Altair terkekeh pelan.

"Cukup papa aja yang bisa bercanda. Kamu jangan, sekalinya bercanda sukanya mancing keributan." Sungut Bastian.

Keheningan singkat menyelimuti kamar. Bastian memandang buku paket yang terbuka di atas meja belajar, lengkap dengan halaman yang dipenuhi coretan.

Senyum di wajahnya perlahan menipis.

"Sekarang jujur sama Papa." Ia menoleh pada Altair, "kamu beneran cuma enggak bisa tidur, atau ada sesuatu yang kamu pikirin?"

Pertanyaan yang diajukan papa barusan berhasil menghentikan pergerakan tangan Altair di atas bukunya untuk beberapa saat. Lantas cowok itu mendengkus keras dan melempar pensilnya di atas meja begitu saja. Badannya ia lempar ke sandaran kursi.

Ia usap wajahnya kasar dengan kedua tangan, matanya menerawang langit-langit kamar. "Menurut papa, pertemuan waktu itu berhasil?" Karena jujur, Altair pemisis kalau Manggala akan mempercayainya dan bertindak setelah apa yang ia utarakan. Itulah yang mengganggu pikirannya sejak tadi.

Bastian mengernyit, mencoba memahami kekhawatiran anaknya. "Kenapa menurutmu gagal?"

"Karena seberapa keras aku jelasin keadaan Amerta ke Om Gala, enggak ada jaminan dia akan percaya sama aku. Dan..." Altair membahasi bibir bawahnya, ragu tak kunjung hilang dari benaknya. "... karena ini Amerta."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 21 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Hold You TightStories to obsess over. Discover now