(Petualangan Kekuatan Super di Negeri Ultra Modern)
Kisah petualangan Elnath Thahala Aludria di mulai saat ia tidak sengaja menaiki kapal luar angkasa yang mendarat di bumi pada saat ia bermain di hutan yang mengelilingi rumah tempatnya tinggal bers...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
. . . . . _______
"Ngomong-ngomong Elnath. Berapa usiamu?" Tanya seorang remaja dengan rambut pirang pucatnya. Bergelombang hingga menyentuh bahu. Berdasarkan perkenalan singkat saat mereka masih di kapal, nama remaja itu adalah Tiaki.
"Aku 12." Jawab Elnath seadanya.
"Benarkah?" Anak itu tampak antusias. "Kita seumuran!"
"Aku lahir bulan februari." Celetuk Elnath.
Sebuah kerutan pun menyertai kening Tiaki. "Bulan februari tuh bulan berapa?"
"Bulan 2."
"Oooooooh! Ternyata bulan di bumi ada namanya ya! Kalau di Orynthia ga pakai nama kayak gitu. Cuma pakai angka aja. Satu tahun ada 24 bulan."
Elnath terlonjak kaget. Menatap wajah santai Tiaki dengan keseriusan. "Satu tahun ada 24 bulan? Serius?"
Tiaki hanya mengangguk. Membenarkan perkataan itu.
"Dua kali lipat rotasi bumi mengelilingi matahari dong!"
"Benar juga! Planet mu kan mengelilingi bintang tunggal bernama matahari. Kalau di sini- planet tidak mengelilingi bintang karna planet ini datar, jadi bintangnya berkelana ke mana pun sambil membawa Planetnya. Dan kebetulan bintang Aeteron berkelana di dekat bumi. Jaraknya cuma 100 juta tahun cahaya lho."
Lagi, Elnath kembali tersentak. "100 juta tahun cahaya itu ga dekat! Itu jauh banget! Dan gimana bisa kapal angkasa itu bolak-balik bumi-Orynthia?!"
"Ada pengaturan teleportasi untuk memangkas jarak tempuhnya. Selama ada titik koordinat. Mau berapa jauh pun jaraknya, tetap bisa sampai kok. Makanya ga ada perbedaan waktu yang signifikan pada planet yang di singgahi."
Elnath menatap pada cahaya di atas kepala. Sebuah bola yang bersinar terang dan menyilaukan. Berbeda dengan matahari, bola itu memancarkan cahaya putih dengan suhu yang mirip matahari di kala siang. Bukan seperti matahari yang memiliki warna keemasan. Namun ada setitik warna merah di tengah bola itu. Inti dari cahaya itu berwarna merah.
"Jadi matahari-"
"Kami menyebut itu dengan bintang." Sela Tiaki membenarkan.
Elnath menghela nafas panjang sejenak. "Jadi bintang itu akan tetap berada di tengah planet datar ini dan tidak akan terbit atau terbenam?"
"Benar! Itu tidak akan bergerak dari sana."
"Lalu bagaimana konsep pergantian waktunya? Seperti siang atau malam?" Tanya Elnath heran.
"Kami mengukurnya dari intensitas cahaya dan suhunya. Cahaya Aeteron tidak bersinar selamanya. Dia akan perlahan padam dan hanya menyisakan inti merahnya yang bisa terlihat. Saat itu juga langit menjadi gelap dan malam pun tiba. Tapi seiring berjalannya waktu, cahaya putihnya akan perlahan muncul dan kembali terang kok. Puncak terang cahayanya adalah saat siang hari. Saat ini!" Jelas Tiaki seadanya. Elnath pun menjadi sedikit memahami planet baru yang di singgahinya.