Presley Lucian Vachirawit tumbuh dengan mengetahui satu hal pasti tentang keluarganya.
Mereka tidak pernah mencintai siapa pun tanpa syarat.
Sejak kecil, ia terbiasa melihat bagaimana makan malam keluarga lebih terasa seperti rapat direksi dibanding tempat orang-orang saling berbicara dengan hangat. Bahkan di usia tujuh tahun, ketika anak-anak lain mungkin belajar bersepeda atau menangis karena nilai jelek di sekolah, Lucian sudah duduk diam di samping kakeknya di meja makan panjang rumah utama keluarga Vachirawit sambil mendengarkan pembahasan saham, merger perusahaan, dan nama-nama orang yang 'harus disingkirkan' dari bisnis keluarga.
Ia masih ingat bagaimana pelayan di rumah itu berjalan tanpa suara. Bagaimana semua orang selalu berbicara dengan nada pelan dan senyum tipis. Dan bagaimana ibunya pernah menggenggam tangannya erat di bawah meja sambil berbisik sangat lirih: "Jangan pernah memperlihatkan kelemahan di rumah ini."
Saat itu Lucian belum benar-benar mengerti maksudnya. Ia baru memahami kalimat itu bertahun-tahun kemudian, tepat setelah ulang tahunnya yang kedua puluh tiga.
Malam itu hujan turun cukup deras di luar mansion keluarga Vachirawit. Air membasahi taman belakang yang luasnya hampir sebesar lapangan golf, sementara kilat samar sesekali menerangi jendela-jendela tinggi rumah utama. Mansion itu terlihat indah dari luar-megah, hangat, sempurna seperti rumah keluarga bangsawan di film-film lama.
Namun bagian dalamnya terasa dingin.
Terlalu dingin.
Lucian duduk di ruang kerja kakeknya dengan punggung tegak dan kedua tangan berada rapi di atas paha. Aroma kayu cedar memenuhi ruangan luas itu. Dindingnya dipenuhi rak buku tua dan lukisan keluarga yang sudah diwariskan selama beberapa generasi. Tepat di depan meja kerja besar dari kayu hitam, Valerian Vachirawit duduk dalam diam sambil membolak-balik beberapa dokumen dengan ketenangan yang selalu terasa menekan.
Cahaya lampu meja jatuh redup di atas permukaan kayu ebony mengilap, menerangi sebuah map hitam yang sejak tadi berada tepat di sisi tangan pria tua itu. Dan Lucian langsung mengenalinya bahkan sebelum Valerian benar-benar membukanya.
Map hitam berlapis kulit dengan lambang emas 'House Vachirawit' di bagian sudut, tergeletak tenang di atas meja besar tersebut. Di dunia mereka, dokumen seperti itu hampir tidak pernah membawa sesuatu yang sederhana.
Kontrak. Kesepakatan. Aliansi. Atau keputusan yang sudah dibuat jauh sebelum orang-orang yang terlibat diberi kesempatan untuk bicara.
Dan malam ini, Lucian tahu persis apa isi dokumen tersebut.
Kontrak pertunangan.
Jam antik di sudut ruangan berdetak perlahan. Satu detik. Lalu detik berikutnya. Membuat keheningan di antara mereka terasa semakin berat.
Valerian membaca beberapa halaman terakhir dokumen tanpa terburu-buru. Tatapan pria tua itu tajam dan teliti meski usianya sudah melewati tujuh puluh tahun. Rambutnya telah memutih hampir sepenuhnya, namun auranya masih terasa terlalu besar untuk diabaikan.
Itulah alasan mengapa bahkan para senator dan konglomerat terbesar Virelune tetap berhati-hati di hadapannya.
Puluhan tahun lalu, saat House Vachirawit mulai kehilangan pengaruh karena perubahan zaman, Valerian adalah orang yang membawa keluarga mereka kembali ke puncak. Ia memperluas kerajaan finansial keluarga, membeli jaringan media terbesar di negara itu, dan membangun divisi biotech yang kini bahkan mulai ditakuti perusahaan internasional.
Dan selama proses itu, banyak orang jatuh.
Beberapa bangkrut. Beberapa dipenjara. Beberapa menghilang dari dunia bisnis sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Under Your Name (Pondphuwin)
FanfictionJudul: Under Your Name Main Cast: Pond Naravit & Phuwin Tangsakyuen Genre: BL Romance, Angsty Romance, Aristocratic Drama, Mystery Thriller, Psychological Drama, Political Drama, Dua pewaris. Satu pertunangan politik. Dan sebuah identitas yang seha...
