Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
.
.
Whalien 52 - every song needs someone who listens
"Some people are impossible to reach, no matter how loudly you call them"
.
.
Hujan turun pelan di luar gedung HYBE malam itu.
Tidak deras. Hanya cukup untuk membuat kaca-kaca tinggi di lantai tujuh tampak buram oleh titik air dan pantulan lampu kota Seoul.
Studio Namjoon masih menyala.
Jam digital kecil di atas speaker menunjukkan pukul 02:13.
Sudah terlalu malam untuk tetap bekerja, tapi layar laptopnya masih dipenuhi draft lirik yang belum selesai. Headphone menggantung di lehernya. Jari-jarinya mengetuk meja pelan mengikuti beat yang bahkan sudah tidak benar-benar ia dengar lagi.
Lelah.
Tapi bukan jenis lelah yang bisa hilang dengan tidur.
Ponselnya bergetar pelan di samping keyboard.
Satu nama muncul di layar.
Yuju
Refleks Namjoon langsung meraih ponselnya- kebiasaan yang rupanya belum hilang, meski belakangan mereka semakin jarang berbicara.
Pesannya sederhana.
"Kamu masih di studio?"
Namjoon menatap layar ponselnya cukup lama.
Dulu, ia akan langsung menelepon. Atau mengirim foto meja kerjanya yang berantakan. Atau mengeluh soal produser yang membuat bagian rap-nya direvisi berkali-kali.
Dulu, Yuju selalu jadi orang pertama yang ingin ia cari tiap kali kepalanya terasa terlalu penuh.
Sekarang... Ia bahkan tidak tahu harus membalas apa.
Jarinya bergerak lambat.
"Iya."
Titik tiga muncul, Yuju mengetik
"Belum pulang?"
"Belum. Kamu?"
Balasan Yuju tidak langsung datang.
Namjoon menyandarkan kepalanya ke belakang, memejamkan mata sebentar. Bahunya sakit. Tengkuknya kaku. Di sudut studio, gelas kopi dingin menumpuk sejak sore tanpa sempat dibuang.