1

1 1 0
                                        

ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.





Udara pagi terasa lebih dingin dari yang seharusnya. Di sekeliling lapangan luas itu, pepohonan hutan berdiri tinggi, seolah menjadi dinding alami. Langit begitu terbuka. Semua murid turun dari bus satu persatu.

Siswa tingkat satu diarahkan berbaris rapi di tengah lapangan. Seragam mereka masih terlihat kaku, sepatu putih belum ternoda tanah. Di kejauhan, para anggota OSIS dan MPK mondar-mandir merapikan sisa tenda yang belum selesai dipasang.

Hari itu adalah masa pengenalan lingkungan SMK Seinin acara tahunan yang selalu diadakan di luar sekolah, di tempat yang lebih dekat dengan alam, katanya agar siswa baru belajar tentang kebersamaan. Namun bagi sebagian orang, tempat asing tetaplah tempat asing. Di barisan tengah, seorang gadis berdiri diam.

Rambut panjangnya diikat satu, jatuh lurus di punggungnya. Papan nama berwarna biru muda terpasang rapi di dada kirinya.

Nase Yuria.

Angin perlahan menggerakkan ujung rambutnya.
Di sampingnya berdiri seorang laki-laki bertubuh gemuk dengan papan nama oranye yang sedikit miring.

Izal.

Ia tampak gugup. Tangannya menggenggam sesuatu dari dalam tas kecilnya. Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan sebuah kotak plastik bening.
"Mau mochi?" tanyanya pelan, suaranya hampir tertelan suara angin dan bis yang menjauh.

Nase menoleh sekilas. Matanya tenang, ia menggeleng kecil,"Tidak, terima kasih." Jawabannya singkat. Tidak dingin, tapi juga tidak hangat.

Izal tersenyum canggung, lalu kembali memasukkan mochi itu ke dalam tasnya.

Di depan, seorang guru mulai berpidato tentang tanggung jawab, masa depan, dan arti menjadi siswa SMK. Tepuk tangan sesekali terdengar, namun pikiran Nase melayang ke arah hutan di belakang mereka.
Entah mengapa, suara dedaunan yang bergesekan terasa lebih nyata daripada suara manusia.

Langit pagi itu sangat biru. Setelah guru selesai berpidato, mikrofon diserahkan kepada pihak OSIS. Seorang laki-laki tinggi dengan jaket almamater rapi melangkah ke depan. Senyumnya mudah, tidak dibuat-buat. Itu adalah ketua OSIS, Fahrul. Dengan nada santai, ia mulai berbicara. Tidak terlalu kaku seperti guru sebelumnya. Sesekali ia melontarkan candaan ringan yang membuat barisan siswa baru tertawa kecil. Beberapa game sederhana pun dimulai.

Teriakan semangat terdengar dari berbagai sisi lapangan. Ada lomba kecil yang membuat mereka harus bekerja sama dengan orang-orang yang bahkan belum mereka kenal namanya. Untuk sesaat, kekakuan menghilang.
Nase Yuria ikut tertawa. Ia bahkan sempat bersorak pelan ketika timnya menang dalam permainan sederhana mengoper bola tanpa menjatuhkannya. Angin sore membuat pipinya sedikit memerah, bukan karena lelah melainkan karena untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian. Namun rasa itu tidak bertahan lama. Menjelang sore, anggota OSIS dan MPK mulai membagi kelompok. Setiap tim berisi lima puluh orang, sesuai warna papan nama.

Biru muda.

Yuria mengikuti barisannya menuju tenda besar yang sudah berdiri kokoh di tepi hutan. Di dalamnya, alas tikar sudah digelar rapi. Suasana tidak terlalu menekan hari pertama memang hanya pengenalan dan permainan ringan. Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 hari 2 malam. 3 hari terdengar singkat bagi sebagian orang.
Tapi bagi Yuria, satu hari saja sudah terasa panjang.
Semua murid mulai sibuk merapikan barang bawaan mereka. Ada yang tertawa sambil saling meminjam gantungan tas, ada yang sudah bertukar nomor ponsel, ada yang duduk berdekatan seolah sudah lama berteman.
Suara obrolan memenuhi tenda.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 11 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Jatuh Seperti HujanWhere stories live. Discover now