Bab 1 - Kota yang Selalu Sama

11 2 0
                                        

Ada hal-hal yang tidak pernah berubah di kota ini.

Lampu jalan yang menyala terlalu cepat sebelum langit benar-benar gelap. Warung kopi di ujung jalan yang selalu buka, bahkan saat hujan turun deras seperti tidak punya tujuan. Dan suara kereta sore yang melintas pukul lima lewat dua belas tepat, tanpa pernah terlambat.

Alya hafal semuanya.

Bukan karena ia ingin mengingat, tapi karena tidak ada hal baru yang cukup menarik untuk dilupakan.

Ia berdiri di depan jendela kamar, menatap langit yang perlahan berubah warna. Jingga yang lembut menyebar, seperti seseorang yang menumpahkan cat dengan sengaja. Indah, tapi selalu sama. Selalu berulang.

Seperti hidupnya.

"Lya, kamu jadi ke toko?" suara ibunya terdengar dari bawah.

Alya menghela napas pelan.
"Iya, Bu. Sebentar lagi."

Jawaban yang sama, dengan nada yang hampir sama, setiap hari.

Ia mengambil tas kecil yang tergantung di kursi, memasukkan dompet dan ponselnya tanpa benar-benar melihat. Gerakannya otomatis, seperti tubuhnya sudah hafal tanpa perlu diperintah.

Sebelum keluar kamar, ia sempat berhenti sejenak.

Matanya kembali melirik langit.

Senja.

Warna yang selalu ia suka, tapi entah kenapa juga selalu membuatnya merasa... kosong.

Jalanan tidak terlalu ramai sore itu. Beberapa anak kecil bermain sepeda, tertawa tanpa beban. Seorang bapak tua duduk di depan rumah, menatap orang-orang yang lewat seolah mereka adalah acara televisi yang tidak pernah ia ganti.

Alya berjalan dengan langkah santai, tidak terburu-buru.

Tidak ada yang menunggunya.

Ia melewati toko roti yang selalu mengeluarkan aroma manis yang sama setiap hari. Dulu ia suka berhenti di sana, membeli roti cokelat kesukaannya. Tapi sekarang, entah sejak kapan, ia tidak pernah masuk lagi.

Mungkin karena rasa manisnya tidak lagi terasa seperti dulu.

Atau mungkin karena ia sendiri yang berubah.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari teman lamanya.

"Lya, kapan ke Jakarta? Kita semua udah di sini loh."

Alya membaca pesan itu tanpa ekspresi. Jarinya menggantung di atas layar, seolah ingin membalas... tapi tidak tahu harus menulis apa.

Akhirnya, ia hanya mengunci layar.

Tidak semua hal harus dijawab.

Tidak semua panggilan harus diikuti.

Dan tidak semua orang berani meninggalkan tempat yang sudah terlalu lama mereka kenal.

Toko kelontong milik ibunya tidak besar, tapi cukup ramai untuk ukuran kota kecil. Rak-rak berisi kebutuhan sehari-hari tertata rapi, meskipun beberapa bagian terlihat sedikit usang.

"Baru datang?" tanya ibunya sambil menghitung uang di meja kasir.

Alya mengangguk. "Tadi sedikit macet di depan."

Padahal tidak.

Ia hanya berjalan lebih lambat dari biasanya.

"Jaga sebentar ya, Ibu mau ke belakang."

"Iya."

Alya duduk di kursi kasir, memandangi pintu yang terbuka. Beberapa orang masuk dan keluar, membeli hal-hal sederhana—mie instan, sabun, minuman dingin.

Hal-hal kecil yang terasa penting.

Ia melayani mereka dengan senyum tipis, cukup untuk terlihat sopan, tapi tidak terlalu hangat.

Seperti biasa.

Waktu berjalan pelan.

Jarum jam seolah malas bergerak.

Dan seperti setiap sore, suara itu akhirnya datang.

Kereta.

Dari kejauhan, bunyinya terdengar samar, lalu semakin jelas. Alya sedikit menoleh ke arah luar, meskipun ia tahu ia tidak bisa melihat rel dari sana.

Anehnya, ia selalu merasa... tenang setiap mendengar suara itu.

Seolah ada sesuatu yang bergerak, sementara hidupnya tetap di tempat.

Menjelang magrib, toko mulai sepi.

Langit sudah berubah menjadi lebih gelap, menyisakan sedikit warna jingga di ujung barat.

Alya berdiri, meregangkan tubuhnya yang mulai pegal.

"Lya, nanti kamu tutup ya," kata ibunya dari belakang.

"Iya, Bu." Ia keluar sebentar dari toko, berdiri di depan, menghirup udara sore yang mulai dingin Senja hampir hilang Dan seperti biasa, ada perasaan aneh yang datang bersamanya.

Bukan sedih.

Bukan juga bahagia.

Hanya... kosong. 

Seperti ada sesuatu yang hilang, tapi ia sendiri tidak tahu apa Ia menatap jalanan yang mulai lengang Dan untuk pertama kalinya hari itu Ada sesuatu yang berbeda Seorang lelaki berdiri di seberang jalan Tidak melakukan apa-apa.

Hanya berdiri.

Matanya tertuju ke arah langit, bukan ke orang-orang di sekitarnya Seolah dunia di sekitarnya tidak terlalu penting.

Alya tidak tahu kenapa, tapi pandangannya tertahan di sana.

Lelaki itu tidak terlihat istimewa.

Hanya kemeja sederhana, tas ransel di bahu, rambut sedikit berantakan seperti baru turun dari perjalanan jauh.

Tapi ada sesuatu.

Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Mungkin cara dia berdiri.

Mungkin cara dia melihat langit.

Atau mungkin karena... dia terlihat seperti orang yang tidak seharusnya ada di kota ini.

Tiba-tiba, lelaki itu menoleh.

Dan tanpa sengaja mata mereka bertemu Alya langsung memalingkan wajah.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tanpa alasan jelas.

Aneh.

Ia bahkan tidak mengenalnya. Beberapa detik berlalu.

Ia mencoba bersikap biasa saja, pura-pura melihat ke arah lain, Tapi ketika ia kembali melirik 

Lelaki itu sudah tidak ada.

Seolah tadi hanya bayangan.

Atau mungkin memang hanya kebetulan yang terlalu singkat untuk berarti apa-apa.

Alya menghela napas pelan.

"Ngapain sih kamu..." gumamnya pada diri sendiri.

Ia kembali masuk ke dalam toko, menutup pintu sedikit lebih cepat dari biasanya.

Senja benar-benar hilang.

Dan kota kembali seperti semula.

Biasa.

Diam.

Dan tidak berubah.

Tapi entah kenapa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya merasa...

mungkin,

hidupnya tidak akan selalu seperti ini.

Senja yang Tak Pernah PulangStories to obsess over. Discover now