0.21 Udang Di Balik Batu

237 36 3
                                        

Long time no see~
Jangan lupa dukung author dengan vote dan komen ya ....

Biar ga ada silent reader, ayo di target 50 vote + 15 coment + 10 Followers bakal cepet update.
Happy reading!

“Lauren ingin kelas tambahan?” Theodore mengalihkan fokusnya dari tumpukan dokumen. Matanya menatap tajam ke arah Lila, posisi duduknya menjadi lebih tegak.

“Mendadak sekali, dia bukan anak yang suka belajar.” Isabella meletakkan cangkirnya. Asapnya mengepul tipis, tanda panas dari teh yang ia minum sudah berkurang. Namun seolah suhu ruangan Duke justru meningkat.

“Ada alasan dibalik itu, kau pasti tahu sesuatu.” Ucapan Theodore membuat Lila membeku, kedua tangannya meremas gaun. Kepalanya menunduk kian dalam.

“Nona dari keluarga Russel menghina nona muda kemarin. Menyebut nona sebagai rakyat jelata. Beruntung tuan muda Xaver ikut membela.” Lila masih menunduk, wajahnya menjadi muram.

“Mereka bangsawan yang sombong, juga sebenarnya merupakan fraksi pendukung ratu. Apa mungkin kita mencari anak sponsor seperti tahun lalu?” ucap Theodore.

“Berarti kita harus mencari anak berbakat itu mulai sekarang,” Isabella menopang dagu, kemudian mengangguk setuju.

“Aku tidak yakin apakah mereka bisa di percaya.” Theodore mendengus, memikirkan kemungkinan buruk.

Bisa saja mereka justru melukai Lauren di masa depan. Anak sponsor adalah  mereka yang memiliki bakat, menggunakan nama de Luca sebagai pendukung.

Dari pendidikan hingga proyek mereka selesai, anak sponsor haruslah mengabdi pada keluarga de Luca sebagai balasan.

“Tidak ada jalan keluar, dia harus bisa membuktikan diri jika memang pantas menjadi bagian dari de Luca. Akan kucari guru terbaik. Ayo Lila, lakukan tugasmu! Aku tak yakin kembaranmu mampu menghadapi Lauren.” Isabella bangkit, tangannya merapikan gaun sesaat.

Lalu bergegas menuju ke arah pintu, di ikuti Lila yang setia mengekor. Meninggalkan Theodore yang termenung, kemudian ia tersadar akan sesuatu.

“Di mana Justin?” gumamnya.

**

Ruangan perpustakaan de Luca begitu sepi. Puluhan rak kayu menjulang tinggi, rata-rata berisi buku tebal yang mencapai hingga ratusan halaman.

Ia menghirup aroma buku tua di setiap langkahnya. Tangannya meraih sebuah buku tebal bersampul merah.

Ada lambang singa yang digambar dengan tinta emas, kertasnya telah menguning. Tanda termakan waktu, juga saksi sejarah yang di wariskan turun- temurun.

Lauren meletakkan buku itu dengan kasar di meja, ia mengusap peluh. Cukup sulit untuk anak seusianya membawa buku setebal itu.

Baru saja duduk dengan tenang, suara gaduh terdengar. Xaver membuka pintu dengan kasar, nafasnya tersengal lelah berlarian.

“Akhirnya aku menemukanmu.” Raut wajahnya yang semula panik berubah lebih santai. Kaki mungilnya melangkah mendekati Lauren, berakhir duduk di sebelahnya.

“Bukannya kau sedang mengikuti kelas?” Atensinya beralih ke Xaver.

“Setelah berlatih pedang, aku langsung mencarimu. Kau lepas dari pengawasan Lula,” ujar Xaver  tersenyum.

Penampilan rambutnya yang berantakan terlihat manis, membuat Lauren mendadak gugup.

“Aku tetap berada di kastel, jangan khawatir.”  Xaver mendengus, jawaban Lauren seakan ia tak mau di khawatirkan.

“Terserah kau saja. Ngomong-ngomong aku mendengar kau akan mengambil kelas tambahan. Pasti karena Ariel tempo lalu.”

“Ya, kurang lebih.” Lauren menunduk, menatap lantai. Wajahnya lesu karena telah kehilangan semangat.

“Manusia hanya mengkritik apa yang mereka lihat Lau, mereka tidak peduli padamu setelahnya. Sebagian besar lupa apa yang mereka ucapkan” Xaver mencoba menegangkan, tangannya mengusap punggung Lauren perlahan.


Sementara gadis itu hanya diam membisu, dadanya sesak. Ia memikirkan ucapan Xaver, tapi ucapan Ariel tempo lalu masih saja menggema di otaknya. Tentang asal usulnya, tentang keluarga de Luca yang seharusnya memiliki penerus laki-laki.

Lauren tidak bisa berbuat banyak, dirinya hanya mampu berusaha sebaik mungkin. Mempelajari hal-hal penting untuk menjadi seorang bangsawan.


Lauren ingin berterima kasih telah diberi kehidupan  layak dari Theodore. Tak ada lagi roti keras dan sup hambar yang dingin. Kini ia mendapat kue manis, juga sup hangat yang membuat perut kecilnya lebih nyaman.

Juga perhatian dari keluarga barunya begitu tulus. Dirinya bertekad untuk memberikan yang terbaik pada  de Luca.

“Aku tak ingin di remehkan, apa lagi keluarga ini,” ucap Lauren.

Tangan mungilnya ditarik, Lauren menoleh ke arah pelaku. Xaver hanya tersenyum, kedua tangan Lauren telah berada di genggamannya.

“Kalau begitu berubahlah untuk menjadi versi terbaik dirimu, bukan hanya untuk di akui mereka.”

Sudut bibir Lauren terangkat, ia menunduk malu seraya mengangguk. Kini bukan hanya tangannya yang terasa hangat, tapi hatinya juga. 

Berbeda dengan Julian yang penuh dengan rayuan kata-kata manis dan hadiah mewah. Xaver selalu berusaha meluangkan banyak waktu di sampingnya. Kini ia berhasil membuat jantung Lauren berdegup kencang atas perhatian dan tindakannya.

Menurut Lauren, Xaver itu pribadi yang dewasa. Terlihat cuek, namun penuh perhatian. Sedangkan bagi Xaver, Lauren adalah gadis mungil yang berusaha melawan penjahat sendirian.

Mencoba terlihat tangguh meski tubuh ringkihnya terkena badai. Anak laki-laki itu ingin selalu di sampingnya, melindungi segala bahaya yang mendekat. Pamannya adalah tangan kanan de Luca, apakah ia pantas bersanding dengan nona kecilnya?

“Terima kasih banyak, Xaver.” Lauren berujar lirih, pipinya bersemu merah.

“Terima kasih kembali, cantik.” Ralat, sepertinya Xaver tertular virus buaya dari Julian.

“Jadi rupanya kalian berada di sini?” Suara penuh otoritas itu terdengar, membuat suasana musim semi di antara mereka mendadak beku.

Xaver lekas melepaskan genggaman, setelah melihat tatapan dari Isabella mirip laser. Lauren meneguk ludah, posisi duduknya menjadi tegak. Bahunya terlihat tegang saat suara sepatu Isabella menggema di perpustakaan.

Langkahnya berhenti di depan Lauren, ia menduduki kursi kosong di hadapannya. Sungguh ini mirip seperti berada di ruang interogasi.

“Aku sedang menyeleksi beberapa kandidat pengajar, pastikan kau mempersiapkan diri.” Matanya menyorot tajam, Lauren menjadi lebih gugup.

“Tentu Nenek, pelajaran apa yang nenek rekomendasikan?” jawab Lauren.

“Ilmu politik & sejarah, perdagangan, keuangan, mungkin juga ilmu pedang & strategi. Ini lebih banyak dari yang kau kira. Juga kelas pewaris ketika umur mu mencapai depan tahun. Tapi umurmu baru saja lima tahun Lauren. Mungkin pelajaran etika, membaca, dan berhitung hingga umurmu 7 tahun. Sisanya perlahan menyusul,” terang Isabella panjang lebar.

“Iya tidak masalah, aku akan mengikuti instruksi nenek. Tapi aku yakin bisa belajar lebih cepat. ” Jawaban Lauren membuat Isabella tersenyum puas.


“Bagus, kebetulan kau juga sudah bisa membaca. Mencicil buku sejarah keluarga tampaknya tidak masalah untukmu. Lumayan untuk mengasah daya ingat.”  Isabella mengetuk kan jari ke meja.  Rasanya seperti vonis yang baru saja di jauhkan.

“Aku akan berusaha tidak mengecewakan nenek.” Lauren kembali berujar  neneknya menaruh sedikit kepercayaan padanya.

“Lakukan, jangan kecewakan aku! De Luca memang butuh pewaris laki-laki tapi ada yang lebih penting yang harus kau tahu. Bahwa pewaris de Luca hanya boleh tumbang setelah kehilangan nyawa,” ujar Isabella.

“Ya, nenek. Aku bersumpah akan melindungi keluarga ini,” ucap Lauren.




De Luca ( Putri Angkat Duke Tiran )Where stories live. Discover now