"Jadi, kedepannya kamu tetap akan menikahi Dhia?"
Saat aku memutuskan untuk datang ke acara pernikahan teman SMA-ku, yang aku pikirkan saat aku berangkat hanyalah aku akan bertemu dengan temanku dan juga aku akan memiliki waktu untuk bertemu dengan pacarku, Tribrata Nayadharma, yang belakangan sangat sibuk dengan dinasnya.
Bahkan untuk menjemputku kali ini Brata tidak punya waktu, dia memintaku berangkat sendiri-sendiri, alhasil disaat tamu yang lain datang berpasangan, aku justru datang dengan salah satu Pengawal Papa.
Temanku dan teman Brata bisa dikatakan adalah orang-orang yang sama karena aku berpacaran dengan Brata sejak SMA, dia adalah kakak kelasku.
Sosok tampan yang sukses membuatku jatuh hati dengan sikap manisnya dan selalu membuatku istimewa. Tepat disaat aku datang aku segera mencarinya di antara ramainya tamu Sang Pengantin yang datang, tapi satu jawaban mereka yang aku dapatkan.
"Eh, tadi si Brata sudah disini, loh nggak tahu kemana sekarang."
"Barusan tadi gue lihat disini! Ke toilet mungkin, Ya!"
Buru-buru aku mengeluarkan ponselku, berusaha meneleponnya untuk mencari tahu di mana dia, bersamaan juga aku menyeruak lautan tamu yang datang, dan saat aku berjalan menuju toilet, hendak mencari Brata ada disana sekaligus mencari tempat yang lumayan sunyi, aku justru mendengar suara dari teman akrabku yang berkata dengan begitu sedih.
Tanpa aku melihat siapa lawan bicaranya, entah kenapa tiba-tiba aku memiliki firasat buruk, dan benar saja, saat suara berat itu terdengar, jantungku seketika mencelos.
"Aku butuh Dhia buat karierku stabil, Sarah."
Perasaanku yang sudah tidak enak semakin menjadi, "Kamu tahu sendiri, di militer, kalau nggak punya backingan, karier kami susah naik."
Jantungku berdetak semakin keras, percakapan yang aku dengarkan di tengah riuhnya pesta pernikahan ini adalah hal yang tidak ingin aku dengar.
"Lalu bagaimana denganku?" suara Sarah begitu pelan, terdengar dia seperti menahan tangis akan luka yang tidak sanggup di tahannya.
Dan Brata, aku justru malah mendengarnya tertawa kecil.
"Ya kamu tetap kamu, Sarah." Ada jeda beberapa detik, entah apa lagi yang tengah mereka lakukan, dan sungguh aku tidak mau membayangkannya. Bahkan tanganku pun mulai dingin hanya dengan membayangkan apa yang tengah terjadi.
"Dhia mungkin bakal jadi pasangan sah-ku, tapi kamu tahu dengan benar kan jika yang aku cintai itu kamu."
Selesai.
Suara itu jelas suara Brata, dan pengakuan yang baru saja dia ucapkan pada Sarah membuat duniaku runtuh dalam sekejap.
Rupanya, selama ini aku di khianati oleh dua orang yang paling aku percaya sekaligus.
Aku tidak tahu sejak kapan napasku menjadi begitu berat, luka yang tertoreh di hatiku membuat air mataku menggenang.
Di titik ini seharusnya aku pergi, tapi kakiku tidak mampu bergerak, dan kalimat yang terucap selanjutnya benar-benar menghancurkan semuanya.
"Dhia itu nggak lebih dari keset, Sarah." Pria yang aku cintai dengan begitu besarnya itu berucap dengan ringan, tanpa merasa bersalah sedikit pun, "Yang aku pakai buat naik ke tempat yang lebih tinggi. Tidak lebih dari itu, sejak dulu, sampai sekarang, dan juga kedepannya."
VOCÊ ESTÁ LENDO
Bukan Salah Cintanya
RomanceDhiajeng Kinasih selalu berpikir hidupnya sudah sempurna. Putri seorang Menteri Pertahanan, cucu mantan Wakil Presiden, dan perempuan yang mencintai satu laki-laki sejak masa SMA-Tribrata Nayadharma. Dia mencintainya tanpa setengah-setengah. Bahkan...
