Sebelum Membantu Uang

8 4 3
                                        

Stasiun KRL malam itu tidak benar-benar sepi, tapi terasa lebih lambat dari biasanya.

Lampu-lampu putih menggantung tanpa banyak bayangan. Suara pengumuman terdengar datar, seperti diulang berkali-kali tanpa benar-benar didengarkan. Beberapa orang duduk diam, sebagian lagi berdiri dengan tatapan kosong ke arah rel. Saya termasuk yang duduk.

Tubuh saya masih terasa lelah. Malam itu seharusnya jadi jeda, setelah satu minggu yang cukup padat. Saya sempat tertawa bersama teman-teman, berbagi cerita ringan, mencoba melepas sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu jelas bentuknya. Tapi begitu sampai di stasiun, semua itu seperti pelan-pelan mengendap kembali.

Saya duduk di bangku besi, menatap lurus ke depan. Tidak benar-benar berpikir, tapi juga tidak sepenuhnya kosong.

Lalu seseorang mendekat.
"Mas, bisa minta tolong isi saldo kartu electronic money saya?" suaranya pelan, tidak memaksa.

Saya menoleh. Seorang pria berdiri tidak jauh dari saya. Pakaiannya sederhana, wajahnya terlihat lelah, seperti orang yang sudah berjalan cukup jauh hari itu.

"Sepuluh ribu saja," lanjutnya.

Saya tidak langsung menjawab.

Bukan karena ragu pada orangnya, tapi karena saya sudah terbiasa mengecek sesuatu di dalam diri saya terlebih dahulu. Bukan pikiran. Lebih ke arah rasa yang muncul tanpa saya undang.

Saya menaruh perhatian ke dada saya.
Ada tidak ya?

Biasanya, kalau ada sesuatu yang tidak selaras, akan muncul sedikit rasa sesak, atau tidak nyaman yang halus. Tapi kali ini... tidak ada.

Netral.

Saya menarik napas pelan.
"Boleh, Pak," jawab saya akhirnya.

Saya keluarkan ponsel, membuka aplikasi untuk isi saldo. Saya sudah pernah melakukannya sebelumnya, jadi tidak terlalu sulit. Tinggal tempel kartu, pilih nominal, dan lanjutkan.

Tapi di layar, tidak ada pilihan sepuluh ribu.

Minimalnya dua puluh ribu.

Saya diam sebentar, membaca ulang angka yang tertera, memastikan saya tidak salah lihat. Lalu saya hitung sekilas, ditambah biaya admin.

Lebih dari yang dia minta.
Di situ, saya cek lagi ke dalam.
Masih sama.
Tidak ada penolakan.
"Dua puluh ya, Pak. Minimalnya segitu," saya bilang sambil sedikit mengangkat layar, seolah memberi penjelasan tanpa perlu panjang.

Dia mengangguk.
"Iya, enggak apa-apa."

Prosesnya berjalan beberapa detik. Saya tempelkan kartunya ke bagian belakang ponsel, menunggu sampai bunyi konfirmasi muncul.

Di tengah itu, saya bertanya ringan.
"Mau ke mana, Pak?"

"Kali Deres," jawabnya singkat.

"Naik busway?"

"Iya."

Saya mengangguk kecil. Sempat terpikir untuk menyarankan rute lain, tapi saya tahan. Lalu tetap keluar juga, tapi lebih seperti obrolan biasa.
"Kalau ke sana, bisa juga naik kereta sih."

Dia tersenyum tipis, tapi tidak lama. "Ini pilihan saya yang nyaman."

Saya tidak lanjut menanggapi. Ada sesuatu di kalimat itu yang terasa cukup.

"Dari mana, Pak?" saya bertanya lagi.

"Habis cari kerja," jawabnya.

Tidak ada tambahan penjelasan. Tidak ada nada dramatis. Hanya informasi yang dilepas begitu saja.

Bunyi notifikasi kecil terdengar. Saldo sudah masuk.

Saya lepaskan kartu itu dari ponsel dan mengembalikannya.
"Sudah, Pak."

Dia melihat sebentar, lalu mengangguk. "Makasih ya."

Saya mengangguk balik.
"Iya, Pak."

Tidak ada senyum.

Tidak ada jeda panjang.

Dia langsung berbalik dan berjalan pergi, melebur ke dalam orang-orang yang juga sedang menunggu arah masing-masing.

Saya kembali duduk.

Anehnya, tidak ada rasa apa-apa yang tertinggal secara berlebihan.

Tidak ada rasa bangga karena membantu.
Tidak ada juga rasa kehilangan karena memberi lebih.
Bahkan tidak ada kehangatan yang biasanya sering diceritakan orang-orang.

Hanya... selesai.

Saya duduk lagi, menatap rel yang masih kosong.

Di situ saya baru sadar, mungkin yang berbeda bukan pada apa yang saya lakukan, tapi pada bagaimana saya sampai pada keputusan itu.

Saya tidak membantu karena merasa harus.
Saya juga tidak menolak karena ingin menjaga diri.
Saya hanya... mendengarkan sebentar, lalu bertindak dari situ.

Malam masih berjalan seperti biasa. Pengumuman kembali terdengar. Beberapa orang mulai berdiri saat lampu kereta terlihat dari kejauhan.

Saya ikut bangkit.

Dan tanpa perlu saya simpulkan terlalu banyak, ada satu hal yang terasa cukup jelas:

tidak semua hal perlu dipikirkan panjang,
tapi mungkin... perlu dirasakan sebentar sebelum dijalani.

Lalu saya melangkah masuk ke dalam kereta, bersama yang lain, membawa sesuatu yang tidak terlihat, tapi entah kenapa terasa lebih ringan.

Cerita Sehari-hari yang Terasa DalamStories to obsess over. Discover now