Hai
Mungkin ceria ini terasa familiar buat sebagian dari kalian.
Jujur aja, cerita ini aku tulis karena aku kangen.Kangen sama sebuah cerita yang dulu pernah menemani hari-hari aku...tentang persahabatan, kekuatan,dan takdir.
Sudah hampir setahun berlalu, tapi rasanya masih belum bisa lupa.
Jadi...lewat cerita ini , aku ingin menghidupkan kembali perasaan itu. Dengan versi, alur, dan kisah yang berbeda.
Tentang lima anak... Yang tidak pernah memilih takdir mereka. Tapi harus menjalaninya.
Selamat datang di cerita mereka.
Langit malam itu gelap.
Hujan turun deras, seolah ikut.
menangisi sesuatu yang telah hilang.
Di tepi sungai yang deras, seorang pria berdiri dengan tubuh gemetar.
Namanya Arman Wijaya.
Matanya merah. Nafasnya berat.
Hari itu… hidupnya hancur.
Istri yang ia cintai…
Dan bayi yang masih dalam kandungan…
Pergi dalam satu kecelakaan.
“Kenapa…?” suaranya bergetar.
Ia menatap langit.
“KENAPA HARUS AKU?!” teriaknya.
Suaranya tenggelam oleh gemuruh hujan dan derasnya arus sungai.
Arman jatuh berlutut.
Air mata bercampur dengan hujan.
“Aku kehilangan segalanya…”
bisiknya pelan.
Sunyi.
Hanya suara air.
Namun tiba-tiba—
Tangisan kecil terdengar.
Sangat pelan…
Hampir seperti ilusi.
Arman mengangkat kepalanya.
“Itu…?”
Tangisan itu terdengar lagi.
Ia berdiri dengan cepat, berjalan mengikuti suara itu dengan langkah goyah.
Dan di sana—
Sebuah keranjang kecil tersangkut di pinggir sungai..
Dengan tangan gemetar, Arman mendekat.
Tangisan itu berasal dari dalam keranjang.
Ia membuka perlahan.
Seorang bayi perempuan.
Masih hidup.
Arman terdiam.
Matanya membesar.
“Ini…?”
Bayi itu membuka matanya perlahan.
Menatap langsung ke arah Arman.
Dan dalam sekejap—
“Tolong…”
Arman tersentak mundur.
“Siapa itu?!”
Ia melihat ke sekeliling. Tak ada siapa-siapa.
Hanya dia… dan bayi itu.
Nafasnya memburu.
“Apa aku… kehilangan akal…?”
Namun bayi itu kembali menangis.
Lemah.
Dingin.
Sendirian.
Arman menatapnya lama.
Hatinya yang hancur… tiba-tiba terasa hangat.
Perlahan, ia mengangkat bayi itu.
Memeluknya erat.
“Kalau dunia mengambil segalanya dariku…” bisiknya pelan,
“…mungkin ini cara Tuhan mengembalikannya.”
Ia tersenyum kecil untuk pertama kalinya malam itu.
“Aku akan menjagamu.”
Namun…
Malam itu bukanlah akhir dari kesedihannya.
Itu adalah awal dari takdir baru.
Beberapa hari kemudian…
Arman masih belum bisa melupakan kejadian itu.
Namun sejak bayi itu hadir…
Rumahnya yang kosong terasa sedikit hidup.
Ia memberi bayi itu nama—
Nara.
Suatu malam, Arman duduk sendirian di ruang kerjanya.
Pikirannya kacau.
Hatinya masih penuh luka.
“Apa ini benar-benar kebetulan…?”
gumamnya.
Seolah menjawab—
Teleponnya berdering.
Sebuah kabar darurat.
“Kebakaran di pabrik tua!”
Arman terdiam.
Entah kenapa…
Perasaannya tidak enak.
Seperti ada sesuatu yang memanggilnya lagi.
Dan tanpa ia sadari…
Takdirnya belum selesai.
Satu bayi telah datang.
Empat lainnya…
Sedang menunggu untuk ditemukan.
YOU ARE READING
MAGIC 5[TAMAT]
FantasyLima bayi. Ditemukan di tempat yang berbeda... dengan cara yang tidak masuk akal. Sungai. Pabrik kebakaran. Masjid. Hujan es. Kebun teh. Setelah kehilangan segalanya, Arman Wijaya menemukan mereka satu per satu-dan tanpa sadar, membawa pulang takdir...
![MAGIC 5[TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/409782316-64-k737601.jpg)