CHAPTER 7

107 9 1
                                        

Hujan turun sejak sore, meninggalkan jejak tipis di kaca mobil yang membawa Nayara pulang

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Hujan turun sejak sore, meninggalkan jejak tipis di kaca mobil yang membawa Nayara pulang. Kota terlihat samar di balik tetesan air yang saling berlomba untuk jatuh ke permukaan. Ia berharap perjalanan ini sedikit lebih lama dari biasanya. Tidak ada alasan yang jelas, hanya perasaan berat yang menempel sejak ia meninggalkan sekolah.

Ponselnya berada di pangkuan, layar masih menyala menampilkan grup kelas. Percakapan berjalan normal.

Mereka sedang membahas tugas, bercanda soal guru matematika, bahkan merencanakan belajar kelompok di akhir pekan nanti.

Tidak ada yang menyebut namanya. Biasanya seseorang akan menandainya. Menanyakan pendapatnya atau sekadar mengirim stiker konyol seperti biasa. Tapi hari ini tidak.

Nayara men-scroll perlahan, mencoba mencari sesuatu yang mungkin terlewat. Sampai akhirnya ia menemukan foto yang diunggah salah satu teman kelasnya, foto kantin siang tadi. Semua orang berada di sana, tertawa menghadap kamera. Semua orang. Kecuali dirinya.

Ia menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mengunci ponsel. Dadanya terasa kosong, bukan seperti sedih yang tiba-tiba datang, melainkan seperti sesuatu yang perlahan dihapus tanpa suara.

Mobil berhenti tepat di depan rumah besar keluarga Elowen. Gerbang besi terbuka otomatis, lampu taman menyala terang menyambut kedatangannya. Rumah itu selalu tampak sempurna, bangunan yang terlihat simetris dam juga elegan.

"Nona, sudah sampai," ujar sopir pelan.

"Iya pak, terima kasih."

Suaranya terdengar normal. Setidaknya cukup normal untuk tidak menimbulkan pertanyaan.

Begitu Nayara melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, aroma bunga lily langsung menyambutnya. Interior rumah itu nampak sunyi seperti museum namun tetap terlihat indah, walaupun terasa tidak hidup.

Sepatu haknya bergema pelan di lantai marmer hingga suara lain memotong langkahnya.

"Kamu pulang lebih lambat dari biasanya."

Seraphina Elowen, mamanya Nayara berdiri di ruang tengah, memegang tablet tipis. Tatapannya tajam, bukan marah, lebih seperti seseorang yang sedang menilai.

Nayara menegakkan bahunya secara refleks. "Ada urusan Student Council sedikit."

"Kamu tahu kenapa mama menunggumu?"

Nada itu membuatnya langsung mengerti percakapan ini arahnya kemana.

"Karena rumor di sekolah?" tanyanya hati-hati.

Mamanya meletakkan tablet di meja. "Bukan rumor, tapi reputasi."

Sunyi beberapa detik.

"Keluarga Elowen tidak pernah menjadi bahan pembicaraan negatif,"

"Tapi hari ini beberapa kolega mama menanyakan keadaanmu." Lanjut wanita itu dengan tenang.

Nayara mengerjap. "Itu cuma masalah kecil."

Golden HierarchyWhere stories live. Discover now