Menurut Shazwan Reis yang kerap disapa Awan, sahabat tidak selalu berbentuk manusia.
Sesuatu berkaki dua, berkaki empat, berkaki seribu, bahkan yang hanya memiliki ekor pun bisa menjadi sahabat.
Langit, kuda bersurai coklat, adalah salah satu yang A...
Suara sorak sorai penonton kian memekakkan telinga, bercampur dengan suara angin yang menerbangkan partikel-partikel kecil pasir.
Sepatu kuda yang bersahutan ikut menambah meriahnya suasana di suatu lapangan balap pacu kuda.
Namun, suasana yang familiar bagi Awan itu kini sedikit berbeda.
Kehadiran seorang gadis muda dengan kuda putih berhasil mengusik fokus Awan.
"Oh yang itu? Saya kurang tahu nama lengkap nya tapi orang-orang biasa manggil dia Eneng." Ucap seorang bapak tua yang baru saja Awan tanya.
Wanita muda dengan rambut kepang yang menjuntai di belakang itu terlihat manis dengan gaya berpakaian santainya.
Apakah dia berasal dari desa sebelah? Pikir Awan.
"Udah jangan dilihat terus, kenalan mah kenalan weh atuh!"
Awan terlonjak kaget ketika suara itu datang tepat ditelinga nya.
"Bisa gak kalau mau ngomong gak usah di deket telinga?" Jawab Awan seraya mengusap-usap daun telinganya.
Pria yang kerap disapa Amin itu hanya tertawa sumbang.
"Atuh da kamu nya gak jawab-jawab dari tadi saya tanya. Masih kesel sama cewek itu?" Tebak Amin tepat.
"Dikit, soalnya belum pernah ada yang bisa ngalahin saya sama Langit, Min."
Amin menyilangkan kedua tangannya, berlagak seolah sedang berpikir keras. "Ah! Mungkin kamu kurang latihan aja, Wan. Udah lah gak usah terlalu dipikirin, chill aja boy!"
Tapi, bagi Awan tidak semudah itu. Bertahun-tahun ia selalu berada di posisi pertama, bertahun-tahun ia selalu di nobatkan menjadi penunggang kuda yang tak terkalahkan.
Dan kali ini ia kalah… hanya karena seorang perempuan yang bahkan tidak ia kenal.
Turun harga diri Awan, bestie...
Ditengah lamunan dan rasa penasarannya, datang seorang anak perempuan kecil membawa secarik kertas.
"Aa Awan... Ini ada yang nitip buat Aa. Dibaca ya!" Ucap anak itu.
Belum sempat Awan bertanya, sosok mungil tadi langsung lari kencang meninggalkan Awan. "Jangan terlalu mikirin kenapa saya bisa kalahin kamu. Enjoy the game ya Awan, salam kenal dari Eneng anak kampung sebelah."
Setelah membaca isi surat itu, Awan langsung kembali menatap gadis berkuda putih tadi.
Tatapan mereka bertemu kali ini.
Eneng menatap Awan seraya mengangkat sebelah alisnya, seringai senyumnya menghiasi wajah manis gadis itu.
Awan memalingkan wajahnya, mendengus kesal.
_____
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.